Pengusaha Elektronik-Makanan dan Minuman Waswas Imbas Tarif Trump

21 hours ago 6

Jakarta -

Sejumlah gabungan pengusaha dari berbagai industri mengkhawatirkan dampak dari kebijakan tarif yang diberlakukan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Indonesia dikenakan tarif balasan sebesar 32%.

Dampak utama yang akan dirasakan pengusaha adalah menurunnya angka ekspor ke AS. Apalagi AS merupakan salah satu pasar ekspor terbesar dari Indonesia.

Pengusaha Peralatan Listrik

Seperti yang disampaikan oleh Asosiasi Produsen Peralatan Listrik Indonesia (APPI). Dewan Pengurus APPI menjelaskan penerapan tarif impor oleh AS akan berdampak negatif terhadap potensi ekspor bagi produk kelistrikan dari Indonesia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Karena dalam beberapa tahun terakhir industri ini mendapat kesempatan ekspor ke AS serta beberapa negara lainnya. Produk yang diekspor itu seperti Transformator Tenaga, Transformator Distribusi, Panel Listrik Tegangan Menengah, Panel Listrik Tegangan Rendah, Meter Listrik (kWh Meter).

"Produk peralatan Listrik dari Indonesia secara kuallitas sudah mampu untuk bersaing di pasar International, dan kami membutuhkan kehadiran pemerintah untuk mempertahankan industri lokal," kata APPI, dalam keterangannya, Sabtu (5/4/2025).

Untuk itu, pihaknya meminta pemerintah agar melakukan negosiasi terkait kebijakan tarif yang diberlakukan oleh Presiden AS Donald Trump.

Pengusaha Elektronik

Sementara pengusaha elektronik yang tergabung dalam Gabungan Pengusaha Elektrobik (Gabel) meminta pemerinta untuk memperluas kebijakan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) meski Indonesia diterpa tarif balasan dari Amerika Serikat (AS).

Perluasan kebijakan itu dilakukan karena pengusaha khawatir Indonesia menjadi sasaran ekspor bagi negara terdampak dari tarif impor baru AS tersebut.

Oleh karena itu, Sekretaris Jenderal Gabel, Daniel Suhardiman mengatakan pihaknya meminta pemerintah untuk melindungi industri dalam negeri agar pasar domestik tidak dibanjiri barang-barang impor.

Menurutnya, kebijakan TKDN telah memberi jaminan kepastian investasi dan juga menarik investasi baru ke Indonesia. Menurutnya, banyak tenaga kerja Indonesia bekerja pada industri yang produknya dibeli setiap tahun oleh pemerintah karena dari kebijakan TKDN ini.

"Pelonggaran kebijakan TKDN akan berakibat hilangnya lapangan kerja dan berkurangnya jaminan investasi di Indonesia," tuturnya.

Pengusaha Keramik

Senada, Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki), mengkhawatirkan akan banjirnya produk keramik dari India yang selama ini menjadi eksportir keramik terbesar di AS.

"Asaki mengharapkan atensi pemerintah melakukan perlindungan terhadap Industri Dalam Negeri yang mana menjadi ancaman sasaran pengalihan export atau tempat pembuangan bagi produk-produk negara lain yang tidak bisa tembus pasar AS pasca diterapkan Tarif Resiprokal tersebut," kata Ketua Umum Asaki, Edy Suyanto, dalam keterangannya.

Selain itu, pihaknya juga meminta pemerintah melakukan negosiasi akan tarif impor yang diberlakukan untuk Indonesia. Menurutnya, untuk menyeimbangkan neraca perdagangan Indonesia-AS, ada potensi Indonesia melakukan impor gas alam cair yang besar dari AS.

"Di mana saat ini Industri Keramik Nasional mengalami gangguan supply gas dan mahalnya Harga Regasifikasi Gas sebesar US$ 16,77/mmbtu. Ini saatnya Indonesia membuka keran impor gas," tuturnya.

Pengusaha Makan dan Minuman

Sementara Gabungan Produsen Makanan Minuman Indonesia (Gapmmi) mengungkap salah satu dampak yang akan dirasakan atas kebijakan Trump, kenaikan harga produk makanan dan minuman. Hal ini terjadi karena banyak bahan baku yang diimpor dari AS.

AS merupakan pasar ekspor prioritas untuk beberapa produk unggulan makanan dan minuman dari Indonesia seperti produk kopi, kelapa, kakao, minyak sawit, lemak nabati, produk perikanan dan turunannya.

"Di sisi lain, industri makanan dan minuman Indonesia mengimpor berbagai bahan baku industri dari Amerika, beberapa diantaranya gandum, kedelai dan susu," kata Adhi dalam keterangannya.

Selain itu, kondisi tersebut juga diyakini akan mengurangi daya saing produk Indonesia di pasar internasional, serta meningkatkan harga jual produk di Indonesia.

Dampak berikutnya penurunan nilai ekspor. Ia mengatakan tarif yang tinggi dapat menyebabkan penurunan volume ekspor produk makanan dan minuman Indonesia ke Amerika serta negara tujuan ekspor lainnya, yang berdampak negatif pada kinerja dan pertumbuhan industri nasional.

(ada/ara)

Read Entire Article
Koran | News | Luar negri | Bisnis Finansial