Upaya Pembunuhan Presiden Sukarno di Bulan Ramadan

4 days ago 11
Web Kabar Live Dini Akurat Terbaru

Presiden Sukarno memimpin sidang Dewan Nasional di sebuah gedung berjarak 20 meter dari Istana Merdeka, Jakarta, Rabu, 9 Maret 1960. Hari itu bertepatan dengan puasa di hari ke-11 Ramadan 1379 Hijriyah. Suasana rapat yang tadinya serius dibuat terkejut dengan suara gemuruh pesawat jet tempur yang terbang rendah.

Suasana rapat semakin mencekam ketika disusul suara rentetan tembakan dan dentuman yang memekakkan telinga. Ruangan tempat mereka rapat bergetar hebat. Presiden Sukarno menenangkan semua orang yang ada di ruangan tersebut agar tidak panik dan khawatir. Salah satu peserta sidang adalah Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Suryadi Suryadarma.

Sementara Wakil Perdana Menteri (Waperdam) I Subandrio yang tengah memimpin rapat di kantor Departemen Luar Negeri pun sampai keluar ruang rapat. Dia khawatir karena sebelumnya sempat mendapat kabar isu gerakan bawah tanah Perjuangan Rakyat Permesta (Permesta) akan menyerang titik-titik vital di Jakarta.

Benar saja, hari itu beberapa saksi juga melihat sebuah pesawat pancar gas (jet) jenis Mikoyan Gurevich atau MiG-17 Fresco bikinan Uni Soviet terbang rendah di ketinggian 600 meter. Pesawat itu bolak-balik di atas Istana Merdeka dan menembakinya dengan kanon Nudelmann-Rikhter 23 milimeter dan Nudelman-N 37 milimeter.

Suara rentetan dan dentuman terdengar. Tak lama, beberapa jendela, pintu, dan dinding Istana Merdeka rusak berat. Bahkan sebuah pilar roboh menimpa meja kerja Presiden Sukarno. Beruntung Sukarno saat itu sedang tak duduk di kursi ruang kerjanya tersebut.

“Aku sendang berada di Istana dan karena beberapa alasan, aku duduk di kursi lain, bukan biasa yang aku pakai. Sebuah pesawat udara yang terbang rendah menjatuhkan bingkisan mautnya tepat di tempat aku biasa duduk. Rupanya Tuhan telah menggerakkan tangan-Nya untuk melindungiku,” ucap Sukarno, seperti dikutip dalam buku ‘Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia’ karya Cindy Adams (1965).

Peristiwa itu merupakan upaya pembunuhan kedua kalinya kepada Proklamator Republik Indonesia, setelah upaya pembunuhan pertama dengan pelemparan granat di Sekolah Rakyat Perguruan Cikini pada 30 November 1957 gagal. Pelakunya saat itu merupakan simpatisan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII).

Dikutip dari buku ‘Karel Sasuit Tubun’ karya Frans Hitipeuw terbitan Depdikbud (1981), percobaan pembunuhan Sukarno kali kedua dilakukan oleh Letnan Udara II Daniel Alexander Maukar, pilot dari Skuadron Udara II Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI). Akibat serangannya, seorang pengawal presiden bernama Aipda Mohammad Anwar mengalami luka-luka.

Letnan Jenderal (Purn) Sintong Panjaitan ingat betul dengan peristiwa percobaan pembunuhan kepada Sukarno tersebut. Pasalnya, di hari yang sama dengan kejadian itu, dirinya tengah berada di Jakarta untuk mengikuti tes kesehatan menjadi tentara di Markas Angkatan Udara Republik Indonesia. Di hari itu dia mendengar suara gemuruh pesawat jet, rentetan tembakan, dan dentuman meriam.

“Terdengar rentetan tembakan kanon bergemuruh dan sangat dahsyat. Sebuah pesawat pancar gas (jet) MiG-17 menembaki Istana Merdeka,” tulis Sintong Panjaitan dalam bukunya ‘Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando’ (2009).

Sebenarnya, Daniel Maukar bersama dengan dua pilot pesawat jet lainnya, yaitu Letnan Udara I Sofyan Hamsyah, Letnan Udara I Ibnu Subroto tengah melakukan latihan penembakan dari udara dengan kanon pesawat MiG-17 Fresco. Padahal saat latihan semua pesawat tidak membawa bom atau roket.

“Rasa dendam pribadi terhadap Bung Karno telah menyulut kenekatan Maukar untuk melakukan serangan udara ke Istana Merdeka,” jelas mantan Komandan Jenderal Korps Pasukan Khusus TNI AD dan Penasehat Militer Presiden Bacharudin Jusuf Habibie tersebut.

Daniel Maukar memberondong Istana Merdeka dengan rentetan tembakan kanon kaliber 23 milimeter dari pesawat jet MiG-17 Fresco dengan nomor lambung F-1112. Sintong muda tak tahu apa duduk persoalan penembakan itu. Dia hanya bergumam dalam pikirannya, “Hebat banget tembakan penerbang itu!”.

Sebelum menyerang Istana Merdeka, Daniel Maukar menembaki komplek pangkalan minyak Bataafsche Petroleum Maaschappij (BPM) di Tanjung Priok, Jakarta Utara. Setelah menembaki Istana Merdeka, pesawat MiG-17 yang diawaki Daniel menukik menuju arah selatan. Ternyata pesawat itu kembali memberondong Istana Bogor peluru kanon kaliber 37 milimeter.

Setelah itu pesawat melesat dengan cepat menuju arah Bandung. Namun, karena bahan bakar di tanki pesawat sudah menipis, pesawat itu melakukan belly landing (pendaratan darurat) di areal persawahan Desa Kadungora, Leles, Kabupaten Garut, Jawa Barat, pukul 14.00 WIB. Walau selamat, Daniel Maukar yang terluka akhirnya tertangkap oleh prajurit Kodam III/Divisi Siliwangi.

Pria berdarah Minahasa kelahiran Bandung, 20 April 1932, ini dijuluki ‘Last Tiger’ atau ‘Si Macan’ dibawa ke Jakarta untuk diperiksa. Mantan Menteri Pertahanan dan Keamanan Indonesia, Jenderal Abdul Haris Nasution dalam bukunya ‘Memenuhi Panggilan Tigas Jilid 4’ (1984) menyebutkan, untuk melakukan aksi nekatnya itu, Maukar diberi uang Rp 20 ribu oleh kelompok Manguni.

Keterlibatan Daniel dalam upaya pembunuhan Presiden Sukarno karena hasutan salah seorang angora Permesta, yaitu Sam Karundeng, yang tinggal di kawasan Kebayoran Lama. Sam mengajak Daniel dan kakaknya, Herman Maukar, untuk menjalankan misi Dewan Manguni pimpinan Kolonel Ventje Sumual.

Manguni merupakan bagian dari gerakan menuntut pemerintah Republik Indonesia untuk melakukan diplomasi bersama Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) dan Permesta. Permesta terbentuk karena rasa kecewa rakyat terhadap sistem pembangunan dan ekonomi yang dianggap tidak adil antara pusat dan daerah.

Awalnya Daniel Maukar menolak ajakan Sam. Tapi, karena terus dibujuk, akhirnya ia menerima ajakan itu setelah tahu tujuan kelompok Manguni yang menuntut perdamaian. Rencana awal mereka akan menculik Presiden Sukarno, Menteri Pertama Indonesia Juanda Kartawijaya, Wakil KSAD Mayor Jenderal Gatot Subroto, Menteri Perindustrian Dasar dan Pertambangan Chaerul Saleh, Menteri/KSAU Letnan Kolonel Suryadi Suryadarama, Pangdam I/Iskandar Muda Kolonel Mochamad Jasin dan lainnya.

Beny Adrian dalam tulisannya di Majalah Angkasa edisi No. 10 Juli 2007 Tahun XVII menyebutkan, rencana makar tersebut akan dilakukan pada 2 Maret 1960, bertepatan dengan peringatan hari Proklmasi Permesta, tapi gagal. Akhirnya disepakati untuk menembaki tiga target, yaitu Istana Merdeka, tanki minyak BPM, dan Istana Bogor.

Usai melakukan penembakan kepada tiga target itu, Daniel Maukar diminta kabur ke Singapura. Namun, poin ke empat tersebut ditolak olehnya. “Dua adik saya perempuan dan papi saya di sini, nanti disikat. Saya tidak mau, saya tidak akan lari,” tegas Dani.

Lalu disepakati pendaratan darurat akan diatur di wilayah Darul Islam (DI). Kota Malambong dan Panumbangan dipilih selain karena wilayah DI, ke dua tempat itu kebetulan sedang dikuasai Batalion 324, batalion yang sengaja dikirim dari Sulawesi Utara untuk menumpas DI. Sam dan Herman akan menunggu dengan memberikan sinyal asap di titik Malangbong.

Namun, setelah melakukan aksinya, Danie Maukar yang berada di kokpit pesawat jetnya itu tak melihat sinyal asap yang dinyalakan Sam dan Herman di titik Malangbong. Hingga akhirnya bahan bakar pesawatnya habis dan melakukan pendaratan darurat di sawah Kadungora, Leles.

Setelah peristiwa tersebut, dilakukan penyelidikan dan perburuan terhadap para pelaku makar yang dilakukan Daniel Maukar. Menteri Penerangan Maladi memberikan keterangan pada 14 Maret 1960. Ia mengatakan telah ditemukan sejumlah senjata dan dokumen rencana pembunuhan kepada Sukarno di sebuah rumah di Kebayoran Lama.

Kelompok Manguni ternyata memiliki organisasi-organisasi bawahan, seperti Manimporok, Masarang, Mahatus, Soputan dan Mahawu. Sam dan Herman pun akhirnya ditangkap aparat keamanan. Daniel Maukar pun diseret ke Pengadilan Militer Angkatan Udara pada 21 Juni 1960.

Berdasarkan bukti-bukti yang ada, akhirnya Daniel Maukar divonis hukuman mati oleh pengadilan militer pada 16 Juli 1960. Eksekusi mati sebenarnya akan dilakukan pada hari yang sama dengan keputusan pengadilan. Namun, eksekusi itu selalu tertunda.

Penundaan ini berkat adanya permohonan untuk mengampuni Daniel Maukar yang dilayangkan oleh Menteri/KSAU Suryadi Suryadarma kepada Sukarno. Pada 1964, Sukarno mengabulkan permohonan pengampunan tersebut.

Empat tahun kemudian, Daniel Maukar, bebas murni pada era Presiden Suharto pada 1968. Daniel Maukar mengatakan sangat trauma dengan apa yang telah dilakukannya. Akhirnya dia menjalani hidup menjadi seorang teologis dan pendeta hingga akhir hayatnya. Dia meninggal di Rumah Sakit Cikini, Jakarta Pusat, pada 16 April 2007.

Read Entire Article
Koran | News | Luar negri | Bisnis Finansial