Kiat UMKM Fashion Tingkatkan Penjualan Lewat Social Commerce dan Webstore

1 week ago 21

Jakarta -

Semakin banyak cara yang bisa dilakukan pelaku UMKM untuk memperluas jangkauan usahanya. Dua di antaranya dengan social commerce dan webstore. Dua subjek ini menjadi tema pelatihan UMKM di Rumah BUMN BRI Jakarta baru-baru ini.

Adapun pesertanya mayoritas pelaku usaha craft dan fashion. Kedua bidang usaha ini dinilai lebih banyak bersinggungan dengan social commerce dan webstore yang menitikberatkan pada penampilan dan estetika.

Salah satu peserta pelatihan yang digelar pada Rabu (19/3) itu adalah Desi Arisanti. Pemilik Deshe Art Modiste itu sebelumnya sudah menjalankan metode promosi melalui media sosial Instagram. Cara ini dia terapkan sejak pertama kali mendirikan usaha pada 2021.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Usaha saya digital pertama dari IG. Saya tawarkan beberapa produk, ada yang pesan custom juga. Memang sangat membantu," ungkap Desi ditemui di Rumah BUMN BRI Jakarta, Rabu (19/3/2025).

Namun, Desi mengaku belum paham betul tentang social commerce maupun webstore. Menurutnya kedua subjek ini merupakan hal baru yang masih bisa dipelajari untuk meningkatkan usaha pakaiannya.

"Sebenarnya ada yang khusus pegang social commerce, kebetulan kita rekrut saudara dan teman yang bantu. Mereka yang pegang IG, ada yang pegang e-commerce. Kalau saya lebih ke produksi. Tapi karena UMKM harus digital, jadi harus lebih tahu juga hal-hal seperti ini sebagai owner," terang nasabah BRI di Tangerang Selatan ini.

Yati Monalisa lebih awam soal dua metode berjualan digital tersebut. Pemilik usaha Batik Umi Aiman di Tangerang Kota ini lebih banyak mengandalkan penjualan offline, walaupun dia juga memajang produknya di Instagram.

"Saya di IG dari pertama buka, tapi offline lebih banyak. Online-nya belum. Paling lewat IG chatting dengan pembeli, sama ke dinas-dinas juga karena (produknya) batik," kata Yati, Rabu (19/3/2025).

Meski sudah ada niat ke sana, Yati belum yakin untuk terjun ke penjualan online menggunakan social commerce dan webstore. Sebab, dia masih bekerja sendiri. Mulai dari desain batik, produksi, hingga pemasaran offline.

Selain berjualan batik, Yati juga membuka kelas membatik yang biasanya diikuti anak-anak sekolah. Jadwal yang cukup padat membuatnya tidak bisa turun tangan sendiri mengurus penjualan online.

"Sementara untuk menggaji full begitu belum cukup karena omzet belum banyak," tuturnya.

Dia berharap dari pelatihan di Rumah BUMN BRI Jakarta ini, dirinya bisa lebih paham konsep social commerce dan webstore. Setelah omzetnya meningkat, dia berencana merekrut orang untuk memegang dua platform tersebut. Termasuk untuk mengurus display atau tampilannya agar lebih cantik dan menarik customer.

"Walaupun kita mempekerjakan orang, walaupun nanti kita nggak pegang, setidaknya kita harus tahu tentang ini. Nanti kalau ada kendala apa-apa, kita pasrahkan ke orang, jadi nggak bisa kontrol," pungkasnya.

Dalam pelatihan kali ini, Rumah BUMN BRI Jakarta bekerja sama dengan J&T Express. SPV Market Analysis J&T Express Bagus Dewa Dwiyan yang menjadi pembicara menjelaskan dua konsep yang belum banyak diketahui pelaku UMKM ini.

Social commerce merupakan gabungan dari social media dan e-commerce, yang artinya memanfaatkan media sosial sebagai platform berjualan layaknya e-commerce. Customer dapat berbelanja langsung di medsos seperti Instagram atau TikTok. Biasanya penjualan dilakukan melalui direct message (DM) atau link yang tertera di medsos tersebut.

Sedangkan webstore merupakan situs web yang dirancang khusus menampilkan produk-produk pelaku usaha serta menyediakan link pembelian. Customer tidak lagi hanya bisa 'check out' di marketplace, tetapi bisa juga di webstore ini.

"Mungkin mereka mau punya strategi khusus membedakan harga di marketplace dan webstore, itu bisa dimanfaatkan UMKM. Manfaatnya lebih fleksibel juga kalau ada barang-barang eksklusif yang cuma ingin mereka jual di webstore saja, nggak dijual di e-commerce," papar Bagus, Rabu (19/3/2025).

Agar bisa menjalankan social commerce dan webstore, menurut Bagus, pelaku UMKM paling perlu menyiapkan waktu. Mereka harus membuat desain yang ramah pengguna (user friendly), juga membuat foto produk seapik dan sejelas mungkin lalu mengunggahnya ke platform.

"Untuk modalnya sendiri bisa disesuaikan. Kalau webstore ada biaya berlangganan, cuma itu bisa dipilih-pilih mana yang sekiranya menyesuaikan dengan kebutuhan mereka," lanjutnya.

Biaya untuk webstore ini menjadi salah satu hal yang sering ditanyakan pelaku UMKM. Mereka masih ragu memulai webstore karena harus merogoh kocek lebih untuk promosi. Namun, menurut Bagus masih ada tips dan trik yang bisa dilakukan.

"Kalau untuk UMKM sendiri masih ada webstore gratis, jadi sistemnya kurang lebih mirip e-commerce. Barang di-check out dulu, baru muncul biaya yang dikenakan. Masih cukup memungkinkan untuk UMKM," jelas Bagus.

Pelatihan bertajuk 'Kenalan dengan Social Commerce untuk Tingkatin Penjualan' ini merupakan salah satu dari rangkaian pelatihan digital marketing untuk UMKM di Rumah BUMN BRI Jakarta. Total ada 40 peserta dari UMKM fashion dan craft yang telah dikurasi.

Koordinator Rumah BUMN BRI Jakarta Jajang Rahmana mengatakan pihaknya kerap bekerja sama dengan pihak lain untuk memfasilitasi pengembangan kompetensi pelaku UMKM. Misalnya dengan pihak marketplace seperti Shop Tokopedia atau logistik seperti J&T.

"Kita coba audiensi kerja sama, ternyata bisa. Maka diadakanlah pelatihan terkait," jelas Jajang.

(des/hns)

Read Entire Article
Koran | News | Luar negri | Bisnis Finansial