Jakarta -
Iptu Agung Muryo Atmojo menggelar Jumat Berkah dengan cara berbeda dari yang dilakukan orang pada umumnya. Mengajak sang istri yang merupakan polwan, Bripka Sabatun Hasanah, Iptu Agung membuka warung makan gratis di Taman Pandanalas, Boyolali, Jawa Tengah (Jateng).
Di warung makan gratis, Iptu Agung dan istrinya melayani masyarakat yang datang layaknya pedagang warung nasi melayani pelanggan. Warga tinggal tunjuk lauk pauk yang diinginkan, maka Iptu Agung dan istri akan mengambilkan dan menyajikan.
Sosoknya diusulkan menjadi kandidat Hoegeng Awards 2025 oleh beberapa pembaca detikcom, salah satunya Julian Seno, melalui formulir digital ini. "Membuat warung makan gratis 2.000 hingga 5.000 porsi tiap Jumat bersama Bripka Sabatun Hasanah," tulis Julian, dilihat detikcom pada Selasa (11/2/2025).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Warga lainnya yakni Hermanto juga menceritakan program warung makan gratis Iptu Agung. Hermanto adalah Ketua Korcab Difabel Kecamatan Teras.
"Sekitar dua tahun ini saya dan Difabel Teras diundang beliau, suruh hadir, makan di Taman Pandanas tiap Jumat," ujar Hermanto.
Foto: Suasana program Warung Makan Gratis Berkah 47 Food yang digagas Iptu Agung Muryo Atmojo untuk warga sekitar di Boyolali. (dok. Istimewa)
Kepada detikcom, Hermanto menceritakan dia mengenal sosok Iptu Agung sekitar 5 tahun lalu, saat bencana erupsi Gunung Merapi yang berdampak ke Boyolali. Lalu kerap bertemu saat pengajian di Polres Boyolali hingga akhirnya bertegur sapa dengan Iptu Agung.
"Saya bukan siapa-siapa sama beliau. Cuma ketemu di jalan, beliau baik pada siapapun,khususnya para disabilitas seperti saya ini. (Kenal Iptu Agung) ya sudah lama, 5 tahun mungkin pas Gunung Merapi meletus yang abunya sampai Boyolali itu. Pada waktu itu pagi-pagi Gunung Merapi Meletus, saya jalan-jalan pakai kursi roda. Saya terperosok kebetulan di depan Polsek Mojosongo," cerita Hermanto soal pertemuannya dengan Iptu Agung.
"Saya dihampiri, ditolong, kursi roda saya didorong masuk ke teras Polsek untuk istirahat dulu pada saat hujan abu Merapi. Dan saya diberi baju untuk ganti. Di situ saya mulai kenal beliau, terus di jalan, di pengajian besar Boyolali, setiap beliau tugas ketemu, saya pasti dihampiri dan disapa," lanjut Hermanto.
Gerakan Warung Makan Gratis Menular ke Warga
Soal warung makan gratis Iptu Agung, Hermanto menjelaskan warga yang mampir biasanya pedagang kaki lima, dan ojek dan pengamen. Hermanto pun menuturkan kebersamaan serta kompakan Iptu Agung dan istrinya dalam menebar kebaikan di tengah masyarakat, membuat warga kagum.
"Yang ndak malu pasti mampir menikmati makanan yang beliau sediakan. Para tamu yang mampir serasa lebih akrab apa lagi yang menyajikan polisi, lebih merakyat. Dan yang menyajikan suami istri, malah bikin iri pengunjung yang menginginkan kehidupan yang romantis seperti beliau" tutur dia.
Foto: Program Warung Makang Gratis Berkah 47 Food di Sekolah Luar Biasa (SLB), Boyolali. (dok. Istimewa)
Ada juga warga lainnya yakni Sri (60), yang meniru konsep Jumat BerkahIptu Agung. Sri bersama kaum ibu RT 3/RW 3, DesaTawangsari, Teras,Boyalali mengadakan warung makan gratis di momen Jumat Berkah.
"Pertama kali kenal (Iptu Agung) 1 November 2024, dikasih tahu anak saya, dikasih info bolo, ngajak saya ke warung gratis. Saya terinspirasi banget, idenya bagus. Meski saya orang desa, saya ingin bisa ikut berbagi seperti dia,walaupun menu seadanya saja. Besok Jumat berarti keempat kali saya adakan (warung makan gratis). Masyarakat di sini sangat senang, dan di desa saya memang belum ada (kegiatan serupa)," cerita Sri.
Sri menyebut warung makan gratisnya prasmanan, dan dibuka di posko desa. Dia pun menyediakan kertas pembungkus nasi untuk warga sekitar rumahnya yang hendak membungkus makanan.
Warung Makan Gratis Cita-cita
Iptu Agung kepada detikcom, menceritakan warung makan gratis berlatar belakang cita-citanya sejak menjadi buruh pabrik di Jakarta. Kasubbag Dalops Bag Ops Polres Boyolali ini mengaku merasakan susahnya bertahan hidup di Ibu Kota.
"Karena memang impian saya dari awal, dari dulu waktu zaman saya susah. Sebelum jadi polisi itu kan saya sempat kerja di pabrik, itu kan merasakan betapa nggak punya uangnya di hidup di Jakarta. Jadi dari awal ingin berbagi di situ," cerita Iptu Agung.
Foto: Program Warung Makan Gratis Berkah 47 Food di Rumah Peduli Anak Anugerah, Boyolali. Foto: dok. Istimewa
Seiring waktu dia dan istrinya memutuskan memulai usaha katering. Iptu Agung mengaku dia dan istrinya memang hobi masak.
"Kami punya usaha, juga memang passion kami itu sama. Saya dengan istri itu suka bereksperimen masak. Awalnya buka katering untuk menyalurkan hobi dan cari tambahan, bagaimanapun kalau kita hanya mengandalkan dari gaji, untuk ke depannya kami tidak bisa nabung. Akhirnya kami punya usaha sampingan katering di 2018, pulang dari Pendidikan (Sekolah Inspektur Polisi), saya dengan istri itu melegalkan katering kami jadi badan usaha seperti UMKM. Jadi kita labeli nama Berkah Katering 47," jelas Iptu Agung.
Iptu Agung menuturkan perjalanan UMKM-nya tak mulus lantaran pandemi COVID-19 melanda. Iptu Agung dan istri terus berupaya menghidupkan kateringnya dengan cara menyasar pasien-pasien isolasi mandiri.
"Kami mulai merintis lalu ada COVID-19. Jadi kami sempat mandek. Lalu kami tawarkan jasa katering di Facebook, WA ada beberapa job yang memang berisiko karena pesanan kita itu dari orang yang memang sudah terpapar COVID Seiring kami menawarkan lewat Facebook, kemudian dari WA, dari teman ke teman seperti itu. Dari situ lah akhirnya 2021 kami berkembang," terang Iptu Agung.
Foto: Bripka Sab'atun Hasanah Iptu yang merupakan istri dari Iptu Agung Muryo Atmojo setia menemani sang suami menggelar program Warung Makan Gratis Berkah 47 Food. (dok. Istimewa)
Warung Makan Gratis Seni Melayani, Sarana Interaksi
Iptu Agung memaklumi pandangan skeptis masyarakat kepada dirinya di awal warung makan gratis ini berjalan. Masyarakat lebih familiar dengan kegiatan polisi bagi-bagi nasi kotak.
"Memang untuk membudayakan seseorang mendapatkan makan gratis dari seorang polisi, itu kalau di Boyolali kulturnya kan belum ada, dari dulu kan tidak ada. Paling selama ini yang masyarakat tahu polisi bagi-bagi nasi dus. Tetapi kami membuka warung makan, kami mengambilkan nasi beserta lauknya, sambil kami berinteraksi," ujar Iptu Agung.
Interaksi yang dibangun Iptu Agung dengan masyarakat adalah interaksi sederhana. Semisal sekadar mengingatkan agar pemotor pakai helm.
"Awalnya masyarakat pasti takut, 'Weh, ini ada apa kok polisi seperti ini, ada misi apa', memang ada persepsi negatif awalnya. 'Itu ada polisi di pinggir jalan, hati-hati,", ya nggak apa-apa," ucap Iptu Agung.
Iptu Agung menganggap warung makan gratis sebagai wujud seni melayani. Iptu Agung memiliki prinsip meski interaksinya dengan warga dibalut momen sederhana, tetapi mengena.
"Seninya adalah seni melayani, jadi sambil tanya, 'Bapak mau lauk apa, telur atau ayam? Oh ya, Bapak tadi nggak pakai helm. Mbok besok lagi dipakai, Pak'. Kemudian minggu besoknya dia datag lagi, 'Pak saya sudah pake helm, saya boleh bungkus ya, Pak Polisi', 'Ya silakan, monggo,'. Lauk pauknya memang sederhana, interaksinya sederhana, tapi mengena di masyarakat yang seperti itu," papar Iptu Agung.
Iptu Agung menyebut masyarakat kini semakin dekat dengan polisi. Salah satu contohnya, jelas Iptu Agung, adalah masyarakat yang menyapa akun Instagram Polres Boyolali untuk mengetahui jadwal buka warung makan gratis ini.
"Akhirnya banyak yang buka IG-nya Polres Boyolali di saat Jumat gitu-itu. Mereka pasti tanya, DM 'Ada warung makan Jumat ndak?'. Saya sampai hafal yang suka nambah, nanti dia mutar ngamen lagi,setelah muter pasar, saya beri makan lagi," sebut Iptu Agung.
Jumat Berkah Juga di 2 Masjid
Selain warung nasi gratis, Iptu Agung dan istrinya yang kini telah mempekerjakan belasan tetangganya, juga mengadakan Jumat Berkah di dua masjid dekat rumah mereka.
"Jadi dapur kami itu masak di Jumat Berkah itu sekitar 1.000-an porsi. Yang kami sajikan di lokasi warung makan gatis itu 650, yang 400 itu kita bagi dua masjid. Karena saya memiliki kewajiban untuk jumat berkah di masjid kampung kami, masjid satu lagi di kampung di sebelah," kata Iptu Agung.
"Karena memang pengurusnya ke rumah, ya disiapkan seadanya apa karena memang menu yang kami sajikan itu kan bukan menu yang wah, tetapi pasti kami memikirkan gizinya, tetap ada nilai protein, karbohidrat seratnya juga harus ada," imbuh dia.
Beberapa waktu lalu Iptu Agung menuturkan dia pun mengemas Jumat Berkahnya dengan meniru konsep Makan Bergizi Gratis. "Kemarin kami memberikan ke SLB ya, kami memberikan seperti program Pak Prabowo ,jadi makan bergizi gratis," sebut dia.
Dari Jumat Berkah di SLB pula, Iptu Agung jadi 'belanja' masalah, di mana sejumlah siswa SLB setingkat SMA belum memiliki SIM tapi sudah membawa kendaraan sendiri ke sekolah.
"Akhirnya membuat permohonan SIM D, SLB itu dari SD sampai SMA.Nah saya tanya untuk adik-adik SMA ini pakai kendaraan pribadi atau diantar, bagaimana kalau nanti dari pihak sekolahan membuat surat permohonan ke Satlantas Polres, dan akhirnya sudah berjalan dan ini ada beberapa yang memang mendaftar," kata dia.
Sumber Dana
Iptu Agung menerangkan sumber pendanaan program warung makan gratisnya berasal dari gaji dan pendapatan dari katering. Dia menegaskan tak menerima sponsor.
"50 Persen alokasi dari gaji saya kemudian 50 persen dari hasil katering. Sebenarnya banyak yang mau sponsori, tapi saya nggak mau. Pokoknya apa yang saya sajikan semampu saya," tegas Iptu Agung.
Dia pun blak-blakan menjelaskan alokasi dari gajinya sebanyak Rp 2 juta, lalu gaji istrinya sebesar Rp 1 juta. Sementara sisa kebutuhan diambil dari keuntungan katering.
"Jadi gaji saya itu saya memang khusus untuk remunerasi sekitar Rp 3,7 jutaan. Untuk alokasi warung makan ini dua juta rupiah. kemudian istri juga nyumbang satu juta rupiah dari remunnya, jadi 3 juta kan. Kemudian yang penghasilan dari (katering) pabrik rata-rata katakanlah 1.000 porsi dalam 1 kali main, sekitar Rp 10-(juta)-an untuk penghasilan," ujar Iptu Agung.
Terakhir Iptu Agung bersyukur istrinya selalu mendukung usahanya. Dia menjelaskan peran besar istri dalam mengatur operasional catering hingga aksi sosial warung makan gratis ini.
"Istri saya itu dari awal kita menikah memang selalu mendukung apa yang saya usahakan. Jadi dulu itu saya sempat buka counter HP, gagal, buka usaha ayam, gagal. Istri yang mengatur ritme katering," pungkas Iptu Agung.
(aud/hri)
Hoegeng Awards 2025
Usulkan Polisi Teladan di sekitarmu