Kisah Pedagang Lingerie hingga Perajin Batu Akik di Pusaran Konflik Suriah

9 hours ago 6

Jakarta -

Saat kuliah di Jurusan Informatika, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada 2011, Wildan Fauzie Bahriza kerap menyimak pengajian dari Salim Mubarok at-Tamimi alias Abu Jandal, aktivis Salafi. Argumen-argumen tentang tauhid dan jihad yang disampaikan Salim yang baru pulang dari Yaman begitu memukau Wildan.

Berbulan kemudian, pemuda keturunan Arab fam Qahthani asal Pasuruan, Jawa Timur itu pamitan kepada orang tuanya melalui telepon untuk berangkat ke Suriah. Di sana dia sempat menjalani pelatihan militer selama sebulan dan dinyatakan lulus sebagai petempur. Wildan menjadi generasi pertama bersama delapan orang lainnya peserta pengajian Salim yang berjihad ke Suriah. Umumnya mereka masuk Suriah melalui perbatasan Turki dengan paspor turis.

Namun Wildan kemudian kecewa karena tugas sehari-harinya ternyata jauh dari medan pertempuran. Anak kelima dari enam bersaudara itu cuma bertugas merawat korban luka dan mengurus jenazah di rumah sakit.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Pada April 2014, Wildan akhirnya memutuskan pulang ke tanah air untuk melanjutkan kuliah ke jenjang S-2, dan menikah," tulis Dr Noor Huda Ismail dalam buku terbarunya, '"Anak Negeri di Pusaran Konflik Suriah'. Buku setebal 424 halaman itu diluncurkan di Perpustakaan Nasional, Kamis (27/2/2025).

Tak semua orang yang pergi ke Suriah berasal dari keluarga kaya dan terdidik seperti Wildan. Dalam buku tersebut, Noor Huda juga mengungkap kisah Ramdan, pedagang lingerie dari Pasar Tanah Abang dan putranya yang baru berusia 5 tahun, Raffa. Juga ada Ridwan Sungkar, perajin batu akik di Lamongan, Ichsanul Huda aliasa Abu Umariv, mantan preman di tempat hiburan malam yang kemudian menjadi pengusaha ikan, Abdul Muis, Zainal Asri (Zen) dan istrinya, Danik Fajarwati beserta kedua anaknya. Zen adalah alumnus Al-Mukmin, Ngruki.

Ramdan terpapar paham radikal ketika dia dalam kondisi ekonomi sulit pada 2010. Usahanya di Tanah Abang bangkrut, istrinya kemudian minta cerai dengan meninggalkan seorang anak. Niatnya meminta bantuan modal dari Bahri, kakak sepupunya yang sukses sebagai pedagang, cekokan seputar jihad justru yang diterimanya.

Sementara Ridwan yang masih keturunan Arab di Indonesia terpengaruh dari sahabat karibnya, Zamzam. Berpenampilan kurus dan humoris, karibnya itu ternyata seorang jihadis dari jaringan Abu Jandal. "Zamzamlah yang menyediakan dana untuk Ridwan ke Suriah," tulis Noor Huda.

Sayangnya, seperti Wildan, Ridwan tak bisa berada di garda depan untuk bertempur melawan pasukan Syiah. Kondisi fisiknya tak memungkinkan, sehingga dia kemudian memutuskan balik ke tanah air.

Wildan Fauzie Bahriza ditangkap Densus 88 pada 16 Januari 2016 di kediaman istrinya di Indramayu, Jawa Barat. Mahasiswa S-2 Jurusan Digital Forensik di UMM itu dinyatakan terkait dengan jaringan pendanaan internasional ISIS dalam kasus bom Thamrin. Padahal sejatinya dana yang dikelolanya merupakan infak dan sedekah dari keluarganya di Saudi. "Ini sebuah kecerobohan (dari aparat keamanan) yang berdampak besar," tulis Noor Huda.

Simak selengkapnya halaman selanjutnya.

Mantan koresponden The Washington Post biro Asia Tenggara yang meraih doktor Hubungan Internasional dari Monash University itu menyiapkan penulisan buku ini sejak 2016. Sebagai akademisi berlatar wartawan, Noor Huda menggunakan pendekatan jurnalisme sastrawi dengan deskripsi mendalam dalam menuliskan laporan penelitiannya ini.

Dengan cara tersebut dia mencoba menjelaskan bagaimana narasi tunggal dapat membentuk stereotipe yang tidak hanya menyederhanakan tapi juga menyalahartikan identitas individu atau kelompok.

Karya ini merefleksikan pengalaman pribadinya dalam proses repatriasi 18 WNI dari Suriah pada Agustus 2017, yang memperlihatkan bahwa kemanusiaan dan harapan masih menjadi inti dari setiap langkah. Buku ini melampaui isu radikalisasi, menghadirkan perjalanan memahami manusia, konflik, dan harapan akan masa depan yang lebih baik.

Pengalaman Noor Huda Ismail yang banyak bekerja dalam pengembangan narasi alternatif terhadap berbagai narasi kelompok ekstremisme kekerasan, memberikan perspektif yang sangat berharga mengenai kompleksitas masalah yang dihadapi. Buku ini tidak hanya menawarkan narasi kemanusiaan yang mendalam, tetapi juga menyelami kompleksitas konflik dengan penuh empati, sekaligus menawarkan harapan bagi terciptanya masa depan yang lebih baik.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Komjen Eddy Hartono mengatakan, buku karya Noor Huda ini menjadi bagian dari pelaksanaan Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Penanggulangan Ekstremisme Berbasis Kekerasan yang Mengarah pada Terorisme.

"Khususnya dalam pengembangan Komunikasi Strategis Nasional Pencegahan dan Penanggulangan Ekstremisme Berbasis Kekerasan yang lebih efektif dan terukur," ujarnya.

Selain buku, dalam acara yang dihadiri perwakilan sejumlah negara sahabat, seperti dari Kedubes Amerika Serikat, Australia, Jepang, dan Malaysia itu turut diputar film bertajuk 'Road to Resilience' karya Ridho Dwi Ristiyanto.

Loading...

Hoegeng Awards 2025

Usulkan Polisi Teladan di sekitarmu

Read Entire Article
Koran | News | Luar negri | Bisnis Finansial