Jakarta -
Pihak keluarga sempat menaruh kecurigaan sebelum JS (69) ditemukan tewas dicor di dalam ruko miliknya di Rawamangun, Jakarta Timur. Pihak keluarga korban bahkan sempat melakukan spionase untuk mengungkap teka-teki keberadaan bos ruko yang sempat 'menghilang' beberapa hari.
Sebagai informasi, korban JS ditemukan tewas dicor di dalam ruko miliknya di Jalan Pemuda, Rawamangun, Jakarta Timur, pada Rabu (26/2). Jasad JS terbongkar setelah tersangka Zainal Arifin alias Arif alias ZA (35) ditangkap.
JS diketahui menghilang sejak Minggu (16/2) pagi setelah pamit hendak mengecek proyek renovasi ruko di Rawamangun. Setelah itu, korban tidak pernah kembali sehingga keluarga mulai curiga.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hingga akhirnya keluarga korban mendapatkan petunjuk dari rekaman CCTV. Dari rekaman CCTV itu, ternyata pada Minggu pagi tu korban datang ke ruko sekitar pukul 07.11 WIB.
"Di dalam CCTV itu ternyata di tanggal 16 Februari, memang si korban ini pagi datangnya jam 07.11 WIB datang di proyek di TKP dan 24 jam setelah itu tidak keluar lagi," kata Altukiran kepada wartawan di Jakarta, dikutip Jumat (28/2/2025).
Petunjuk CCTV
Tim pengacara menduga korban dibunuh di dalam ruko tersebut. Dari rekaman CCTV itu pula, terlihat Arif membuka pintu ruko pada Senin (17/2).
"Di tanggal 17, di mana kami melihat di dalam CCTV si pelaku tersebut membuka pintu depan ruko dan lihat kiri lihat kanan untuk menunggu seseorang untuk memindahin mobil tersebut," katanya.
Tim pengacara tidak tinggal diam setelah melihat rekaman CCTV tersebut. Mereka kemudian mengawasi rumah korban di Cipete, Jakarta Selatan dan mencari tahu ke warga sekitar apakah ada orang yang datang ke rumah korban selama beberapa hari terakhir itu.
"Ketika kami sampai di situ, di samping rumah klien kami ini ada warung nasi padang. Dan kami mencoba untuk menanyakan, dan mereka mengatakan bahwasannya beberapa hari sebelumnya 'kami melihat ada dua orang yang masuk di dalam rumah tersebut'," ungkapnya.
Awasi Rumah Korban
Kuasa hukum lainnya, Petrus mengatakan pihaknya melakukan spionase dengan mengawasi rumah korban di Cipete setelah menemukan petunjuk CCT tersebut. Sampai pada Rabu (26/2), pihak pengacara melihat Arif masuk ke dalam rumah korban.
"Jadi kami tim pengacara membuat spionase beberapa orang untuk mengawasi objek rumah di Cipete. Habis itu memang ada mereka masuk, pelakunya masuk di situ dan langsung didokumentasikan oleh orang yang kami gunakan sebagai spionase. Dan itu divideokan, maka kami langsung berkomunikasi dengan pihak Polres Jakarta Timur melalui penyidik dan bapak kasat, saya sampaikan 'bapak kasat pelaku sudah mengerucut kepada tukang'," jelas Petrus.
Petrus mengatakan setelah mendapatkan petunjuk-petunjuk itu, pihaknya langsung berkoordinasi dengan Polres Metro Jakarta Timur. Tim kepolisian bergerak cepat ke rumah korban untuk mengamankan pelaku.
"Maka puji Tuhan dengan gerak cepat Polres Jakarta Timur bersama Polsek Taman Puring (Kebayoran Baru) melalui Ibu Nunu dan rekan-rekan pengacara hadir dan menahan yang bersangkutan, sebetulnya sudah ditahan oleh tim dari pengacaranya yaitu spionase kita atau mata-mata kita," ungkapnya.
"(Pelaku diamankan) sebelumnya oleh tim kita, baru pihak kepolisian. Supaya yang bersangkutan tidak melarikan diri. (Polisi) langsung datang dan menahan dan melaksanakan interogasi," imbuhnya.
Arif diamankan pada Rabu (26/2) di rumah korban di Cipete, Jakarta Selatan. Saat diinterogasi, Arif mengaku telah membunuh dan mengecor jasadnya di dalam ruko.
(mea/dhn)
Hoegeng Awards 2025
Usulkan Polisi Teladan di sekitarmu