Kisah Tohari Pegawai KAI Tak Lebaran Bareng Keluarga 25 Tahun karena Bekerja

13 hours ago 7

Jakarta -

Riuh pemudik di Stasiun Pasar Senen, Jakarta Pusat, masih terasa hingga H+5 Lebaran. Pemudik yang baru akan berangkat ke kampung halaman maupun yang sudah pulang tampak berlalu lalang.

Di tempat yang sama, berdiri sosok yang tak pernah merayakan Lebaran bersama keluarga lantaran bertugas. Ialah Tohari (50), Asisten Manajer Eksternal Humas KAI Daop 1 Jakarta.

Dia merupakan salah satu dari tim yang memastikan arus mudik dan balik Lebaran kereta api berjalan baik. Baginya, tugas adalah prioritas, bahkan di tengah suasana mudik Lebaran.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Karena itu, saat jutaan orang bergegas pulang, Tohari masih tetap tinggal dengan tanggung jawab yang dipikulnya penuh sukacita. Dia harus memastikan perjalanan kereta berjalan dengan baik.

"Karena memang kita sudah harus menjalankan tugas posko ya. Untuk membantu masyarakat penumpang kereta api dalam melaksanakan mudik," kata Tohari saat ditemui, Sabtu (5/4/2025).

Tohari memulai kariernya di PT KAI wilayah Daop 9 pada 1996. Tak lama, pada 1998, dia bertugas sebagai masinis, duduk di balik kendali lokomotif membawa penumpang ke tempat tujuannya.

Sejak itu, Tohari tak lagi pernah menjalankan salat Id di rumah bersama keluarga. Ia menunaikan salat Id di stasiun tempatnya bertugas.

"Setelah saya menjadi masinis, sudah mulai ini (nggak mudik). Kadang ya pas lagi salat Id di Surabaya, salad Id-nya di Banyuwangi. Kadang juga paling jauh, karena saya masih di Jember waktu itu, ya di Surabaya," ceritanya.

Kini istri dan tujuh anak Tohari menetap di Jember, Jawa Timur. Sedangkan saat ini Tohari telah bertugas di wilayah Daop 1 Jakarta. Selepas salat Id beberapa waktu lalu, Tohari hanya bertemu secara virtual untuk melepas rindu dengan keluarganya.

"Setelah salat Id, ya sebelum kita standby posko di stasiun, baik itu di Senen maupun di Stasiun Gambir, kita video call-an dulu sama istri, sama anak-anak ya," tutur Tohari.

Tohari bersyukur istri dan anak-anaknya mengerti tentang tanggung jawab pekerjaannya. Terlebih kala harus bersiaga pada momen Lebaran.

"Yang penting anak-istri di rumah, terus orang tua, semuanya sehat. Alhamdulillah kita di sini juga sedang menjalankan tugas untuk melayani masyarakat yang sedang mudik," ungkap Tohari.

Meski begitu, anaknya yang bungsu masih kerap protes saat sang ayah tak ada di rumah ketika Lebaran tiba. Namun dia memaklumi karena anaknya masih kecil.

"Protes pasti ya, utamanya yang masih kecil-kecil ini biasanya, ya. Anak-anak yang masih kecil-kecil itu, biasanya protes (karena saya) nggak pernah pulang. Tapi, kalau yang sudah gede-gede, ya sudah tahu," ujar Tohari.

"Karena memang setiap tahun, bapaknya memang nggak pernah mudik. Apalagi sebelumnya, ya, sebelumnya kebetulan saya juga dulu adalah mantan seorang masinis, juga nggak pernah melaksanakan mudik," sambung dia

Meski kini tak lagi bertugas sebagai masinis, tugas pekerjaannya tak pernah ringan, khususnya dalam memastikan kelancaran penumpang yang hendak pulang menuai rindu yang lama ditabung di perantauan.

Kendati begitu, Tohari menyebut akan pulang melepas rindu bersama keluarga. Namun setelah masa mudik Lebaran selesai dan berjalan dengan aman.

"Nanti kita setelah masa posko, kita akan dapat libur pengganti. Gantian sama teman-teman yang lain, yang juga saat ini lagi menjalankan posko," imbuh dia.

"Jadi kita bergantian untuk berlibur. Nggak bisa langsung barengan juga sekaligus. Jadi nggak bisa," pungkas Tohari.

(ond/dek)

Loading...

Hoegeng Awards 2025

Baca kisah inspiratif kandidat polisi teladan di sini

Read Entire Article
Koran | News | Luar negri | Bisnis Finansial