Bulan Madu Indonesia-India

7 hours ago 4

Jakarta -

Kehadiran Presiden Prabowo Subianto sebagai Chief Guest dalam perayaan Hari Republik ke-76 di New Delhi, India pada 26 Januari 2025 lalu merupakan momentum yang bersejarah bagi hubungan Indonesia dengan India. Sejumlah media besar di India mengakui kedatangan Presiden Prabowo menunjukkan posisi Indonesia yang semakin strategik dalam kerja sama bilateral dengan India.

Pasca perayaan, Presiden Prabowo dan Perdana Menteri Narendra Modhi mengadakan pertemuan untuk membangun kerja sama yang lebih luas dari sektor maritim, kesehatan, pangan hingga digital. Dalam dua dasawarsa terakhir, sebenarnya hubungan Indonesia dengan India sudah terjalin mesra di berbagai bidang terutama di bidang ekonomi.

Perdagangan India-Indonesia

Menurut data IMF Trade Statistics, selama periode 2004 hingga 2013, perdagangan antara India dengan Indonesia mencapai 102,93 miliar dollar AS. Pada periode ini India bertengger di urutan ke-8 mitra dagang terbesar Indonesia dengan kontribusi sebesar 4,09%, setelah Jepang (14,75 %), China (11,75%), Singapura (11,65%), Amerika Serikat (7,91%), Korea Selatan (6,63%), Malaysia (5,72%) dan Thailand (4,15%). Pada periode ini Indonesia mendapat surplus perdagangan dengan India sebesar 50,58 miliar dollar AS.

Pada periode ini, ekonomi global masih dimanjakan dengan tingginya pertumbuhan ekonomi China yang mencapai dua digit. Kondisi ekonomi global yang kondusif membuat kinerja perdagangan India dan Indonesia cukup mengesankan dengan rata-rata pertumbuhan per tahun sebesar 21,6%. Hanya dua kali pertumbuhan perdagangan kedua negara negatif lantaran dua global shocks, yaitu krisis keuangan di Amerika Serikat pada 2009 dan krisis utang Eropa pada 2012.

Pada periode 2014 hingga 2023, perdagangan kedua negara meningkat sekitar 86% dibanding periode sebelumnya atau mencapai 191,44 miliar dollar AS. Pada periode ini, India merangsek ke urutan ke-5 mitra dagang terbesar Indonesia dengan kontribusi sekitar 5,16%, setelah China (21,26%), Jepang (9,15%), Singapura (8,3%) dan Amerika Serikat (7,9%). Peningkatan nilai perdagangan membuat Indonesia mendapat lonjakan surplus perdagangan India sebesar 90,66 miliar dollar AS.

Pada periode ini, ekonomi global mengalami perubahan yang fundamental, yaitu melemahnya ekonomi China. Sejak 2012 hingga 2019, pertumbuhan ekonomi China hanya mencapai 6% hingga 7%. Selain itu, sejumlah global shocks bertubi-tubi mengganggu ekonomi global seperti perang dagang (trade war), naiknya suku bunga The Fed, pandemi Covid-19 dan perang Rusia-Ukraina.

Akibatnya, perdagangan India dengan Indonesia pada periode dari 2014 hingga 2020, mengalami stagnasi hanya di kisaran 15 miliar dollar AS. Perdagangan kedua negara meningkat tajam pasca pandemi hingga mencapai 32,7 miliar dollar AS pada 2022. Namun, pada tahun selanjutnya menurun menjadi sekitar 26 milar dollar AS, akibat perang Rusia-Ukraina. Dalam periode ini pertumbuhan perdagangan India dengan Indonesia rata-rata per tahun hanya sekitar 7,7%.

Dengan sejumlah tantangan global yang cukup berat di periode 2014-2023, India mampu menggeser beberapa negara besar lainnya sebagai mitra dagang Indonesia. Hal ini menunjukkan posisi India semakin vital bagi Indonesia dalam bidang ekonomi, begitu juga sebaliknya. Pertukaran barang dan jasa yang semakin massif, membuat hubungan kedua negara kian intim. Hubungan ekonomi yang kuat merupakan pondasi yang krusial bagi dua negara untuk membangun hubungan yang strategik di berbagai bidang.

Dalam dua dekade terakhir, perdagangan India dengan Indonesia secara nominal memang lebih menguntungkan Indonesia dengan surplus perdagangan yang besar. Meski demikian, ada temuan yang perlu dicermati. Terjadi perubahan struktural (structural change) di dalam anatomi perdagangan kedua negara berdasarkan kelompok komoditas.

Berdasarkan data World Integrated Trade Solution (WITS), pada 2004, ekspor Indonesia ke India berupa bahan mentah (raw materials) senilai 527,4 juta dollar AS atau masih sekitar 24,3% dari total ekspor barang Indonesia ke India. Pada tahun 2022, ekspor bahan mentah Indonesia ke India meningkat drastis hingga mencapai 11,9 miliar dollar AS atau sekitar 51,2% dari total ekspor barang Indonesia ke India. Sisanya, berupa kelompok barang modal (1,89%), barang setengah jadi (33,13%), dan barang konsumsi (13,3%). Ekspor barang Indonesia ke India didominasi oleh bahan mentah yang memiliki nilai tambah yang rendah.

Sementara dari sisi impor, pada tahun 2004, komposisi impor barang Indonesia dari India didominasi oleh barang setengah jadi 68,72%, diikuti bahan mentah 18,38%, barang modal 6,83% dan barang konsumsi 6,03%. Komposisi ini berubah signifikan pada tahun 2022, kontribusi terbesar diraih oleh barang konsumsi sebesar 33,07%, diikuti barang setengah jadi 33,95%, barang modal 17,52% dan bahan mentah 15,17%.

Perubahan komposisi ini menunjukkan bahwa India mampu meningkatkan ekspor barang ke Indonesia dengan barang yang memiliki nilai tambah yang lebih tinggi. Bahkan, bahan mentah berada di posisi buncit dalam komposisi ekspor India ke Indonesia. Kondisi sebaliknya, Indonesia justru masih mengandalkan bahan mentah dalam komposisi ekspor ke India.

Fakta ini sejalan dengan penelitian Veeramani (2012), yaitu pasca reformasi ekonomi India pada 1991, India mampu meningkatkan kinerja ekspor barang yang padat modal dan padat ketrampilan (capital and skill-intensive products). Veeramani menemukan bahwa pada periode 1993 hingga 2010, kontribusi ekspor padat modal dan ketrampilan India melesat dari 25% menjadi sekitar 54%, sementara ekspor padat karya (labor intensive) menurun dari 30% menjadi 15% dari total ekspor. Kerangka kebijakan ekonomi India mampu meningkatkan nilai tambah pada produk ekspor.

Duet India-Indonesia di Ekonomi Global

Selain hubungan ekonomi yang kian erat, India dan Indonesia mampu menunjukkan ketahanan ekonomi di tengah goncangan global. Pasca 2010, di antara anggota G20, negara dengan pendapatan terbesar di dunia, Indonesia dan India mampu menunjukkan kinerja ekonomi makro yang cukup baik. Sepuluh tahun sebelum pandemi, India mampu meraih pertumbuhan ekonomi rata-rata 6,6% sementara Indonesia 5,4% per tahun. Pasca pandemi, India mampu meraih pertumbuhan ekonomi di atas 7%, sementara Indonesia sudah kembali 5% sejak 2022.

Pada tahun 2014, Bank Dunia mencatat bahwa India masih berada di posisi 10, negara dengan GDP (gross domestic product) terbesar di dunia, yaitu sekitar 2,03 triliun dollar AS. Pada tahun 2023, India merangsek ke urutan 5 dengan GDP sebesar 3,56 triliun dollar AS. Pada periode yang sama, Indonesia naik tipis dari urutan ke-18 dengan GDP 890,81 miliar AS menjadi peringkat ke-16 dengan GDP 1,37 triliun dollar AS.

Kondisi ini berbeda dengan anggota G20 lainnya. Banyak anggota G20 yang mengalami stagnasi bahkan trend penurunan pendapatan pada periode 2010 hingga 2020. Negara emerging economies seperti Turki dan Brasil, menderita trend penurunan pendapatan. Sementara, Jepang dan sejumlah negara Eropa beberapa kali mengalami pertumbuhan negatif atau resesi sebelum pandemi. Sejumlah ahli menyebut periode ini sebagai the lost decade atau "dekade yang hilang".

Rendahnya pertumbuhan ekonomi dan melonjaknya angka inflasi pada periode 2022-2023, bukan hanya disebabkan oleh perang Rusia-Ukraina. Kondisi buruk yang terjadi saat itu akibat dari akumulasi kesulitan ekonomi lantaran global shocks yang bertubi-tubi menghantam ekonomi global pada dekade sebelumnya. Wajar saja, banyak negara yang ekonominya terjerembab karena ketahanan ekonomi mereka sudah rapuh.

Ibarat petinju, ketika seorang petinju terkena satu kali pukulan, dia masih bisa melanjutkan pertandingan. Kemudian, terkena pukulan yang kedua kali, dia masih bisa bertahan. Ketika mendapat pukulan yang keenam, akhirnya petinju tersebut jatuh. Yang membuat petinju tersebut jatuh, tidak hanya pukulan keenam, namun akumulasi dari pukulan pertama.

Tidak heran, Indonesia dan India didapuk menjadi Ketua Presidensi G20 pada 2022 dan 2023 karena kedua negara mampu menunjukkan kondisi ekonomi yang cukup baik di antara negara anggota G20 lainnya. Bahkan, IMF menyebut India dan Indonesia sebagai "bright spot" saat situasi ekonomi global suram. Masuknya Indonesia sebagai anggota BRICS pada 6 Januari 2025 lalu, semakin mempererat hubungan dengan India. Bulan madu yang kini sedang dinikmati India dan Indonesia diharapkan tidak hanya menguntungkan kedua negara, namun juga mampu menjadi katalisator pemulihan ekonomi baik di level regional maupun global.

Beta Perkasa dosen FEB Uhamka, Jakarta

(mmu/mmu)

Loading...

Hoegeng Awards 2025

Usulkan Polisi Teladan di sekitarmu

Read Entire Article
Koran | News | Luar negri | Bisnis Finansial