Singapura Kerahkan Kecoak Cyborg Cari Korban Reruntuhan Gempa di Myanmar

13 hours ago 5

Singapura -

Sebanyak 10 kecoak cyborg dari Singapura telah dikirim ke Myanmar untuk membantu upaya pencarian dan penyelamatan korban setelah gempa bermagnitudo (M) 7,7 melanda. Ini merupakan pertama kalinya kecoak cyborg digunakan dalam operasi kemanusiaan.

Dilansir The Straits Times, Sabtu (5/4/2025), gempa tersebut telah menewaskan lebih dari 3.000 orang. Serangga cyborg tersebut diterbangkan ke Myanmar dan bergabung dengan tim Operasi Lionheart milik Pasukan Pertahanan Sipil Singapura (SCDF) pada 30 Maret.

Teknisi Singapura saat mempersiapkan pengerahan kecoak cyborg di Myanmar (dok. Facebook resmi HTXSG)Teknisi Singapura saat mempersiapkan pengerahan kecoak cyborg di Myanmar (dok. Facebook resmi HTXSG)

Kecoak cyborg tersebut dikembangkan oleh lembaga pemerintah Singapura, Home Team Science and Technology Agency (HTX), bersama dengan Nanyang Technological University dan Klass Engineering and Solutions. Cyborg itu pertama kali dikerahkan pada 31 Maret di Myanmar dan dua kali pada 3 April di ibu kota Naypyidaw.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Cyborg tersebut telah membantu tim menelusuri wilayah di beberapa daerah yang paling parah terkena dampak. SCDF mengirim pasukan beranggotakan 80 orang dan empat anjing pelacak ke Myanmar pada tanggal 29 Maret.

Tim HTX, yang terdiri dari empat teknisi bergabung dalam operasi sehari kemudian bersama kecoak-kecoak tersebut. Kecoak Madagaskar berukuran 6 Cm itu dilengkapi dengan kamera dan sensor inframerah.

Kecoak cyborg Singapura dikerahkan cari korban gempa Myanmar (dok. Facebook resmi HTXSG)Kecoak cyborg Singapura dikerahkan cari korban gempa Myanmar (dok. Facebook resmi HTXSG)

Karena ukurannya yang kecil, mereka dapat menjelajahi ruang sempit di bawah reruntuhan sambil dikendalikan dari jarak jauh. Elektroda digunakan untuk menstimulasi kecoak dan mengendalikan gerakannya.

Informasi yang dikumpulkan melalui kamera dan sensor mereka diproses oleh algoritma pembelajaran mesin yang dapat menentukan apakah ada tanda-tanda kehidupan. Informasi ini kemudian dikirim kembali secara nirkabel ke teknisi dan membantu tim dalam pengerahan sumber daya.

Kecoak-kecoak tersebut ditampilkan di KTT Milipol Asia-Pasifik dan TechX di Singapura pada bulan April 2024 dengan rencana untuk dikerahkan mulai sekitar tahun 2026. Meskipun masih dalam tahap penelitian dan pengembangan, bencana di Myanmar mendorong HTX untuk mempercepat teknologi tersebut guna melengkapi upaya SCDF.

"Jalanan retak, dan kami harus mengambil beberapa jalan memutar. Kami juga melihat orang-orang mengungsi dari rumah mereka, tidur di tempat terbuka, dengan kekurangan makanan dan air. Itu adalah pengalaman yang tidak nyata," kata insinyur Pusat Keahlian Robotika, Otomasi, dan Sistem Tak Berawak HTX, Ong Ka Hing, yang ikut ke Myanmar.

Penempatan pertama mereka pada tanggal 31 Maret adalah di sebuah rumah sakit yang runtuh di area seluas dua lapangan sepak bola. SCDF telah melakukan penyisiran di sebagian area tersebut dengan anjing pelacak dan meminta agar kecoak HTX digunakan untuk melakukan pemeriksaan lebih dalam di bawah reruntuhan yang memakan waktu sekitar 45 menit.

(haf/imk)

Loading...

Hoegeng Awards 2025

Baca kisah inspiratif kandidat polisi teladan di sini

Read Entire Article
Koran | News | Luar negri | Bisnis Finansial