Jakarta -
Pedagangan mainan di kawasan Pasar Gembrong, Jatinegara, Jakarta Timur, mengeluhkan omzet penjualan yang terus menurun. Alih-alih ramai pembeli pada momentum Lebaran 2025, pembeli mainan di Pasar Gembrong justru anjlok jika dibandingkan tahun sebelumnya.
Berdasarkan pengamatan detikcom di lapangan, terpantau hilir-mudik pembeli masuk ke dalam ruko-ruko pedagang mainan. Namun begitu, cenderung terlihat sepi bahkan tak jarang ditemui ruko tanpa pengunjung.
Salah seorang pedagang mainan, Ice (30), mengaku omzetnya terjun bebas hingga 50% dibandingkan tahun sebelumnya. Pada momentum Lebaran 2024, ia menyebut omzet penjualan main mencapai Rp 50 juta.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau Lebaran biasa kita, hari pertama, hari kedua, hari ketiga bisa sampai Rp 50 juta. Sekarang cuma Rp 15-20 juta," kata Ice saat ditemui detikcom di rukonya, Pasar Gembrong, Jakarta Timur, Rabu (2/4/2025).
Tak hanya itu, Ice mengeluhkan penjualan mainan terus menurun terlepas dari momentum Lebaran. Di hari biasa pada tahun lalu, omzetnya bisa menyentuh hingga Rp 8 juta dalam sepanjang Senin hingga Kamis. Kini, pendapatan Ice susut dalam kurun waktu yang sama menjadi Rp 3 juta.
Ia menilai, penurunan omzet terjadi lantaran wilayahnya berjualan akrab dengan lokasi tawuran warga. Di samping itu, Ice menilai krisis ekonomi hingga e-commerce turut menyumbang anjloknya omzet pedagang mainan di Pasar Gembrong.
"Mungkin faktornya (toko) online bisa jadi, sama krisis, orang sering tawuran di sini. Sama kemarin demo yang masalah undang-undang itu, juga sepi di sini," ungkapnya.
Ice menambahkan, rata-rata pedagang mainan di Pasar Gembrong hanya mengambil untuk 20% dari harga modal. Bahkan, keuntungan itu seringkali susut ketika pembeli membandingkan harga jual Ice dengan mainan-mainan di e-commerce.
"Kadang kalau orang bandingkan ke online, paling kita cuma ambil 10%. Kita ambil untung cuma Rp 5.000 atau Rp 10.000," tutupnya.
Ditemui terpisah Alvi (30) mengeluhkan hal yang sama. Ia menyebut, momentum Lebaran tahun ini tidak signifikan mendongkrak penjualan.
"Masih mending tahun kemarin. (Selisih) penghasilannya jauh, bisa (turun) 50%," ungkap Alvi.
Alvi berkisah, pendapatannya pada Lebaran tahun lalu mencapai Rp 15 juta per hari. Sementara saat ini, ia hanya mengantongi pendapatan dari penjualan sekitar Rp 8 juta per hari.
Sementara hari di luar perayaan Lebaran, Alvi mengaku penghasilannya Rp 500.000 hingga Rp 1 juta. Ia mengatakan, sepinya pengunjung terjadi sejak awal tahun 2025.
"Sejak awal tahun saja yang beda," tuturnya.
Sementara di Pasar Gembrong Baru, pedagang nampak sepi dari pengunjung. Pantauan detikcom mencatat sekitar lima ruko pedagang mainan yang buka di hari ketiga usai Lebaran 2025
Nasib serupa juga dialami pedagang mainan di Pasar Gembrong Baru, di mana pembeli justru sepi bahkan di hari ketiga usai Lebaran. Salah seorang pedagang mainan di Pasar Gembrong Baru, Ari Rahmat (45), mengaku belum melihat adanya lonjakan pembeli di Lebaran tahun ini.
"Khususnya day cash, kalau perbandingan dari tahun kemarin menurun. Bagusan Lebaran tahun kemarin," ungkapnya saat ditemui detikcom.
Ia mengatakan, penjualan mainan tahun ini cenderung sama seperti hari-hari biasanya. Ari mengatakan, penjualannya meningkat justru sebelum masuk bulan Ramadan.
Adapun harga mainan yang ia bandrol berkisar di Rp 25.000 hingga Rp 1 juta. Ia mengatakan, penjualan mainan di rukonya menyasar semua kalangan dan juga para kolektor miniatur mobil.
"Libur hari raya harusnya lebih wah, tapi ini, dibilang dari kemarin, dari sebelum H-2 sampai H+2, nggak terlalu ada lonjakan. Jadi sama kayak weekend biasa," tutupnya.
(kil/kil)