Daftar Alasan Trump Kobarkan Perang Dagang yang Bikin Geger Dunia

17 hours ago 5

Jakarta -

Keputusan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menerapkan tarif balasan ke sejumlah negara bikin gempar dunia. Tarif balasan dikenakan ke negara-negara yang dituding telah mengenakan tarif terlebih dahulu kepada barang AS.

Sejumlah negara mitra dagang seperti China hingga Indonesia turut menjadi sasaran Trump. Setidaknya ada 100 mitra dagang yang terkena tarif baru cukup besar seperti China 34%, Vietnam 46%, Kamboja 49%, Taiwan 32%, India 26%, Korea Selatan 25%, dan Indonesia 32%

Dilansir dari situs resmi Gedung Putih, whitehouse.gov, Kamis (3/4/2025), Trump berupaya menyeimbangkan persaingan bagi bisnis AS dengan menghadapi kesenjangan tarif yang disebutnya tidak adil. Adanya tarif baru juga bertujuan untuk menghadapi hambatan non-tarif yang diberlakukan oleh banyak negara.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selama kurun waktu yang lama, AS menyebut banyak negara mengambil keuntungan dari Negeri Paman Sam dengan mengenakan tarif impor yang cukup tinggi. Disebutkan juga hambatan non-tarif dari banyak negara menyulitkan produsen AS menjamah potensi pasar dunia.

Hambatan-hambatan tersebut bertujuan membatasi jumlah impor/ekspor demi melindungi industri dalam negeri. Berikut beberapa contoh pemberlakuan kebijakan oleh beberapa negara kepada AS yang menjadi dalih bagi Trump mengeluarkan tarif impor baru:

China

Kebijakan dan praktik nonpasar China membantu negara itu mendominasi manufaktur global yang menghancurkan industri AS. Antara tahun 2001 dan 2018, praktik-praktik ini berkontribusi terhadap hilangnya 3,7 juta pekerjaan di AS akibat meningkatnya defisit perdagangan AS-China.

"Hal itu menyebabkan hilangnya lapangan kerja dan melemahkan daya saing AS, sekaligus mengancam keamanan ekonomi dan nasional AS dengan meningkatkan ketergantungan pada rantai pasokan yang dikendalikan asing untuk industri-industri penting serta barang-barang kebutuhan sehari-hari," tulis Pemerintahan AS.

India

India memberlakukan persyaratan pengujian dan sertifikasi yang memberatkan dan/atau menduplikasi di sektor-sektor seperti bahan kimia, produk telekomunikasi, dan perangkat medis yang mempersulit atau membebani perusahaan-perusahaan AS untuk menjual produk mereka di India.

"Jika hambatan-hambatan ini dihilangkan, diperkirakan ekspor AS akan meningkat setidaknya US$ 5,3 miliar setiap tahunnya," sebutnya.

Jerman, Jepang, Korea Selatan

Negara-negara seperti Jerman, Jepang, Korea Selatan atau bahkan China telah menerapkan kebijakan yang menekan daya konsumsi domestik warga negara mereka sendiri untuk secara artifisial meningkatkan daya saing produk ekspor mereka.

Kebijakan tersebut meliputi sistem pajak regresif, hukuman yang rendah atau tidak ditegakkan untuk kerusakan lingkungan, dan kebijakan yang dimaksudkan untuk menekan upah pekerja relatif terhadap produktivitas.

Argentina, Brasil, Ekuador, Vietnam

AS menuding negara-negara tersebut membatasi atau melarang impor barang-barang yang diproduksi ulang, membatasi akses pasar bagi eksportir AS sekaligus menghambat upaya untuk mempromosikan keberlanjutan dengan menghambat perdagangan produk-produk yang seperti baru dan hemat sumber daya.

Jika hambatan ini dihilangkan diperkirakan ekspor AS akan meningkat setidaknya $18 miliar setiap tahunnya.

Inggris

Inggris mempertahankan standar yang tidak berdasarkan sains yang sangat membatasi ekspor daging sapi dan produk unggas yang aman dan berkualitas tinggi dari AS.

Indonesia

Indonesia mempertahankan persyaratan konten lokal di berbagai sektor, rezim perizinan impor yang kompleks, dan, mulai tahun ini, akan mengharuskan perusahaan sumber daya alam untuk memindahkan semua pendapatan ekspor ke dalam negeri untuk transaksi senilai US$ 250.000 ke atas.

Argentina

Argentina telah melarang impor ternak hidup AS sejak tahun 2002 karena kekhawatiran yang tidak berdasar mengenai ensefalopati spongiform sapi. Amerika Serikat memiliki defisit perdagangan sebesar US$ 223 juta dengan Argentina dalam daging sapi dan produk daging sapi.

Afrika Selatan

Selama beberapa dekade, Afrika Selatan telah memberlakukan pembatasan kesehatan hewan yang tidak dibenarkan secara ilmiah pada produk daging babi AS, yang membuat daging babi AS hanya bisa masuk secara terbatas ke negara tersebut.

Afrika Selatan juga sangat membatasi ekspor unggas AS melalui tarif tinggi, bea anti dumping, dan pembatasan kesehatan hewan yang tidak dapat dibenarkan. Hambatan-hambatan ini telah menyebabkan penurunan sebesar 78% dalam ekspor unggas AS ke Afrika Selatan, dari US$ 89 juta pada tahun 2019 menjadi US$ 19 juta pada tahun 2024.

Jepang dan Korea Selatan

Produsen mobil AS menghadapi berbagai hambatan nontarif yang menghambat akses ke pasar otomotif Jepang dan Korea, termasuk tidak diterimanya standar AS tertentu, persyaratan pengujian dan sertifikasi yang saling tumpang tindih, dan masalah transparansi.

Karena praktik yang tidak timbal balik ini, industri otomotif AS kehilangan tambahan ekspor tahunan sebesar US$ 13,5 miliar ke Jepang dan akses ke pangsa pasar impor yang lebih besar di Korea. Sementara itu defisit perdagangan AS dengan Korea meningkat lebih dari tiga kali lipat dari tahun 2019 hingga 2024.

(ily/hns)

Read Entire Article
Koran | News | Luar negri | Bisnis Finansial