Washington DC -
Amerika Serikat (AS) telah menyetujui penjualan potensial 20 jet tempur F-16 ke Filipina. Penjualan itu akan memberikan sekutu utama AS di kawasan Indo-Pasifik itu peningkatan besar pada angkatan udaranya beberapa hari setelah Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth berjanji untuk melawan apa yang dianggapnya agresi China.
Dilansir CNN, Rabu (2/4/2025), Badan Kerja Sama Keamanan Pertahanan AS (DSCA) mengumumkan usulan penjualan F-16 dan peralatan terkait ke Filipina, yang diperkirakan bernilai USD 5,58 miliar atau sekitar Rp 93 triliun.
"Penjualan yang diusulkan ini akan mendukung kebijakan luar negeri dan keamanan nasional Amerika Serikat dengan membantu meningkatkan keamanan mitra strategis yang terus menjadi kekuatan penting bagi stabilitas politik, perdamaian, dan kemajuan ekonomi di Asia Tenggara," kata DSCA.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam pernyataannya, DSCA mengatakan Manila telah meminta untuk membeli 16 unit F-16C yang merupakan jet tempur berkursi tunggal dan bermesin tunggal serta empat F-16D yang merupakan jet berkursi ganda yang biasanya digunakan untuk tujuan pelatihan. F-16 adalah varian terbaru blok 70/72 dari pesawat tempur militer andalan AS yang mulai beroperasi dengan Angkatan Udara AS pada akhir 1970-an.
Produsen Lockheed Martin mengatakan F-16 baru tersebut adalah pesawat tempur generasi keempat tercanggih di dunia, yang menjanjikan masa pakai struktural lebih dari 12.000 jam. F-16, bersama dengan avionik, radar, dan persenjataan canggih yang disertakan dalam kesepakatan tersebut merupakan peningkatan signifikan bagi armada tempur Angkatan Udara Filipina.
Saat ini, Filipina hanya memiliki 12 jet tempur FA-50 buatan Korea Selatan, jet tempur serang darat yang lebih ringan. F-16 memiliki kecepatan tertinggi lebih dari 1.500 mil per jam atau sekitar 350 mph lebih cepat dari FA-50.
Pengumuman tersebut muncul kurang dari seminggu setelah Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengunjungi Filipina yang menjadi perjalanan pertamanya ke Asia sebagai kepala pertahanan dan mengatakan Washington akan meningkatkan aliansi militernya dengan Manila. Aliansi itu ditujukan untuk pencegahan dan melawan agresi China di kawasan Indo-Pasifik.
China kemudian memperingatkan Filipina tentang kesepakatan tersebut. Menurut China, kerja sama Filipina dan AS tidak boleh merugikan atau mengancam keamanan negara lain.
"Kerja sama pertahanan dan keamanan apa pun yang dilakukan Filipina dengan negara lain tidak boleh menargetkan atau merugikan kepentingan pihak ketiga mana pun, juga tidak boleh mengancam perdamaian dan keamanan regional atau meningkatkan ketegangan di kawasan tersebut. Mengenai siapa yang mengobarkan api, siapa yang memprovokasi konfrontasi militer, dan siapa yang mengubah Asia menjadi tong mesiu, kami yakin bahwa negara-negara regional dapat melihat situasi dengan jelas," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun.
Filipina telah berada di garis depan sikap agresif China yang semakin meningkat di Asia. Beijing terus berusaha untuk menegaskan klaimnya atas sebagian besar Laut China Selatan, meskipun ada putusan internasional yang menolak klaim China atas jalur air tersebut.
AS telah berjanji mengerahkan kemampuan militer canggih tambahan ke Filipina selaku sekutunya. AS juga berjanji meningkatkan interoperabilitas untuk operasi tingkat tinggi dan memprioritaskan kerja sama industri pertahanan.
(haf/haf)
Hoegeng Awards 2025
Baca kisah inspiratif kandidat polisi teladan di sini