Apa Itu Penyelidikan 'Qatar-gate' dan Pengaruhnya bagi Masa Depan Netanyahu?

14 hours ago 6

Jakarta -

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, sedang diawasi ketat setelah dua rekan dekatnya ditahan sambil menunggu hasil penyelidikan tentang kemungkinan keterkaitan mereka dengan Qatar.

Pengadilan Israel memperpanjang penahanan penasihat Netanyahu, Yonatan Urich, dan mantan juru bicara Netanyahu, Eli Feldstein, pada Selasa (01/04).

Keduanya berkukuh membantah melakukan pelanggaran.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Netanyahu, yang memberikan kesaksian kepada polisi sehubungan dengan penyelidikan berjuluk "Qatar-gate", menuduh polisi menahan dua mantan asistennya itu sebagai "sandera".

Seorang pejabat Qatar menyebut penyelidikan itu sebagai "kampanye kotor".

Netanyahu, perdana menteri Israel yang menjabat paling lama, saat ini juga tengah diadili atas tuduhan korupsi, yang berulang kali dia bantah.

Dia juga menghadapi aksi demonstrasi di Israel atas beberapa kebijakannya.

Para pendemo menentang dimulainya kembali serangan Israel terhadap Hamas sebelum semua sandera yang tersisa di Gaza dibebaskan, pemecatan Ronen Bar selaku direktur badan keamanan internal Shin Bet yang memimpin investigasi Qatar, dan rencana untuk merombak peradilan negara tersebut.

Apa yang kita ketahui tentang penyelidikan Qatar?

Penyelidikan atas kasus ini telah dimulai lebih dari dua bulan lalu, namun baru menjadi sorotan setelah polisi Israel mengumumkan bahwa dua tersangka telah ditahan yang kemudian diidentifikasi sebagai Urich dan Feldsteinpada Senin (31/03) silam.

Mereka dituding melakukan kontak dengan agen asing, pencucian uang, penyuapan, penipuan dan pelanggaran kepercayaan, menurut laporan media Israel.

Pada Selasa (01/04), hakim di Pengadilan Magistrat Rishon LeZion memperpanjang penahanan terhadap Urich dan Feldstein selama tiga hari. Hakim beralasan ada "kecurigaan yang wajar" sehingga memerlukan penyelidikan menyeluruh.

garisBBC

BBC News Indonesia hadir di WhatsApp.

Jadilah yang pertama mendapatkan berita, investigasi dan liputan mendalam dari BBC News Indonesia, langsung di WhatsApp Anda.

garisBBC

Adapun kepolisian Israel telah meminta waktu tambahan sembilan hari untuk melakukan penyelidikan tersebut.

Hakim Menahem Mizrahi mengatakan bahwa penyidik mencurigai kedua mantan asisten Netanyahu tersebut "mempromosikan Qatar dalam pandangan positif" dan "menyebarkan pesan negatif tentang Mesir".

Ada pula kecurigaan terhadap peran mereka sebagai mediator dalam perundingan gencatan senjata dengan Hamas.

Seorang perwakilan polisi mengatakan kepada Hakim Mizrahi bahwa Urich juga dicurigai menyampaikan pesan-pesan kepada wartawan dari sumber yang terkait dengan Qatar, yang disajikan seolah-olah berasal dari pejabat politik atau keamanan senior Israel.

Seorang pria berpakaian tradisional Arab sambil membawa bendera Qatar saat turut dalam demonstrasi di Yerusalem menentang Perdana Menteri Israel Benjamin NetanyahuEPASeorang pria berpakaian tradisional Arab sambil membawa bendera Qatar saat turut dalam demonstrasi di Yerusalem menentang Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada 19 Maret silam

Untuk tujuan ini, kata hakim, sebuah "hubungan bisnis dan ekonomi" diciptakan antara sebuah perusahaan lobi AS yang bekerja untuk Qatar "melalui mediasi [Urich]". Imbalan "berupa uang kemudian diteruskan ke [Feldstein] melalui seorang pengusaha Israel".

Pekan lalu, media Israel menerbitkan rekaman yang menunjukkan pengusaha tersebut terdengar mengatakan ia telah mentransfer dana ke Feldstein atas nama pelobi AS yang bekerja untuk Qatar.

Pengacara Feldstein berdalih pembayaran tersebut "untuk layanan strategis dan komunikasi yang diberikan Feldstein kepada kantor perdana menteri, bukan untuk Qatar".

Mereka juga mengatakan Feldstein tidak mengetahui adanya hubungan antara pengusaha tersebut dan pihak lain, termasuk Qatar.

Adapun pengacara Ulrich mengatakan kliennya membantah terlibat.

Apa artinya penyelidikan ini bagi Netanyahu?

Netanyahu belum ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus ini, namun dia diadili secara terpisah atas tuduhan korupsi dan pelanggaran kepercayaan.

Dia membantah keras melakukan pelanggaran. Namun, hubungan dekatnya dengan dua terdakwa dapat merugikan posisinya.

Setelah memberikan kesaksian yang direkam kepada polisi pada Senin (31/03), Netanyahu mengutuk penyelidikan tersebut sebagai "investigasi politik".

Partai Likud yang dipimpin Netanyahu juga mengatakan bahwa penyelidikan dan penangkapan tersebut merupakan upaya untuk menghentikan pemecatan mantan kepala badan keamanan Shin Bet, Ronen Bar.

Baca juga:

Hingga kini Bar masih menjabat sambil menunggu putusan Mahkamah Agung atas gugatan hukum terkait pemecatannyadan untuk "menggulingkan perdana menteri sayap kanan".

Pemerintah Israel memecat Bar pada 21 Maret, dengan mengatakan pemerintah telah kehilangan kepercayaan padanya atas kegagalan mencegah serangan mematikan Hamas terhadap Israel pada 7 Oktober 2023, yang memicu serangan ke Gaza.

Partai Likud mengeluarkan pernyataan yang menuduh kantor jaksa agung dan kepala Shin Bet "memalsukan" kasus tersebut.

Partai itu juga menuduh keduanya mencoba "meneror Yonatan Urich untuk mendapatkan kesaksian palsu terhadap perdana menteri melalui pemerasan".

Baca juga:

Yossi Kuperwasser, seorang pakar militer dan intelijen Israel, menggambarkan situasi yang terjadi saat ini sebagai "tidak jelas dan samar" tanpa "bukti konklusif".

Pihak lain di Israel seperti Ravit Hecht, yang menulis di surat kabar Hareetz, mengatakan bahwa setiap dugaan hubungan finansial dengan Qatar yang punya hubungan dekat dengan para pemimpin Hamas khususnya setelah 7 Oktober 2023 adalah "mengejutkan" dan mungkin "puncak kekesalan" bagi Netanyahu yang saat ini sudah berada di bawah tekanan politik yang cukup besar.

Hal ini juga dapat semakin memicu ketidakpuasan publik di kalangan warga Israel yang menentang Netanyahu, dan berkukuh dia harus turun dari kekuasaan.

Selama perang Israel-Gaza, Qatar memainkan peran sebagai mediator dalam pembicaraan gencatan senjataGetty ImagesSelama perang Israel-Gaza, Qatar memainkan peran sebagai mediator dalam pembicaraan gencatan senjata

Bagaimana reaksi Qatar?

Negara Teluk itu telah memainkan peran kunci sebagai mediator antara Israel dan Hamas. Qatar mengatakan akan terus melakukannya, meskipun ada penyelidikan "Qatar-gate" iniyang dibantah negara itu.

Selama serangan Israel-Gaza, Qatar telah membantu menengahi berbagai gencatan senjata dan kesepakatan pembebasan sandera bersama sejumlah negara lain seperti AS dan Mesir.

Di sisi lain, Qatar telah lama memperjuangkan kepentingan Palestina dan menjadi tuan rumah bagi para pemimpin politik Hamas, yang dikategorikan sebagai organisasi teroris dan dilarang oleh Israel, Inggris, AS dan negara-negara lain.

Kendati begitu, Qatar tidak didefinisikan oleh Israel sebagai negara musuh.

Seorang pejabat Qatar mengatakan kepada Financial Times di London: "Ini bukan pertama kalinya kami menjadi sasaran kampanye kotor oleh mereka yang tidak ingin melihat berakhirnya konflik ini [perang Gaza] atau para sandera yang tersisa kembali ke keluarga mereka."

Sebelumnya, negara tersebut pernah menghadapi tuduhan serupa di negara lain yang juga telah dibantahnya.

(haf/haf)

Loading...

Hoegeng Awards 2025

Baca kisah inspiratif kandidat polisi teladan di sini

Read Entire Article
Koran | News | Luar negri | Bisnis Finansial