Jangan Tertukar, Ini Beda Gejala GERD dan IBD

1 hour ago 3

CNN Indonesia

Selasa, 26 Mei 2026 18:00 WIB

Ilustrasi kanker kolorektal Ilustrasi. Sama-sama penyakit pencernaan, ternyata GERD dan IBD tetap berbeda. (iStock/peterschreiber.media)

Jakarta, CNN Indonesia --

Banyak orang menganggap rasa mual, perut panas, hingga gangguan pencernaan seperti diare pasti disebabkan oleh GERD. Padahal, keluhan serupa juga bisa muncul pada penyakit lain, termasuk Inflammatory Bowel Disease (IBD) atau radang usus kronis.

Tak sedikit pula yang baru menyadari kondisinya lebih serius setelah gejala tak kunjung membaik meski sudah minum obat lambung. Karena itu, penting memahami perbedaan antara GERD dan IBD agar penanganan tidak terlambat.

Konsultan Gastroentero Hepatologi Eka Hospital MT Haryono Murdani Abdullah, mengatakan, banyak penyakit pada sistem pencernaan yang gejalanya mirip sehingga kerap membuat masyarakat bingung.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Karena keluhannya sama, yang lebih penting adalah mengonfirmasikan ke ahlinya, apakah keluhan ini dari GERD, IBD, atau malah ada jantung," kata Murdani dalam keterangan tertulis.

Menurutnya, pemeriksaan penunjang diperlukan untuk memastikan diagnosis. Dokter biasanya akan melakukan pemeriksaan seperti EKG, endoskopi, gastroskopi, hingga pemeriksaan feses untuk melihat ada tidaknya tanda peradangan.

Ia mengingatkan masyarakat untuk tidak mengabaikan sinyal yang diberikan tubuh, terutama jika keluhan muncul terus-menerus.

Perbedaan gejala GERD dan IBD

Murdani menjelaskan, GERD merupakan singkatan dari gastroesophageal reflux disease, yakni kondisi ketika asam lambung naik ke kerongkongan.

Gejala GERD umumnya berupa sensasi panas di dada (heartburn), mulut terasa pahit, mual, hingga rasa terbakar di ulu hati.

Sementara itu, IBD adalah penyakit radang usus kronis yang menyebabkan peradangan berkepanjangan pada saluran pencernaan. Gejalanya bisa berupa diare berulang, nyeri perut, BAB berdarah, berat badan turun, hingga tubuh mudah lelah.

Meski berbeda, keduanya sama-sama dapat kambuh dalam jangka panjang dan dipengaruhi oleh pola hidup serta makanan tertentu.

"Memang banyak faktor yang berpengaruh, faktor genetik, faktor lingkungan, pola hidup itu berperan munculnya IBD," ujar Prof Murdani.

Pada penderita GERD, makanan tinggi lemak dan gorengan sering menjadi pemicu naiknya asam lambung. Sementara pada IBD, alkohol, rokok, gula murni, dan makanan yang mengandung emulsifier disebut dapat memperparah peradangan usus.

Murdani mengatakan, pengaturan pola makan menjadi salah satu kunci penting untuk mencegah kekambuhan kedua penyakit tersebut.

"Untuk IBD, alkohol, merokok, emulsifier, gula murni, nggak bagus. Untuk GERD, mungkin goreng-gorengan, makanan berlemak, kurang bagus, jadi sebaiknya dihindari," paparnya.

Namun, ia menegaskan bahwa toleransi setiap orang berbeda-beda. Ada pasien yang masih bisa mengonsumsi makanan tertentu tanpa keluhan, tetapi ada juga yang langsung mengalami gejala setelah mengonsumsinya.

Pengobatan GERD dan IBD berbeda

IBD termasuk penyakit kronis yang penanganannya tidak hanya bertujuan menghilangkan gejala, tetapi juga mengontrol peradangan agar tidak memicu komplikasi.

Murdani menjelaskan, terapi IBD biasanya dilakukan dalam dua tahap, yakni terapi induksi untuk mencapai remisi dan terapi maintenance untuk mempertahankan kondisi tetap stabil.

"IBD itu bukan sembuh total, tetapi remisi radang yang terkendali. Karena itu pengobatan tetap perlu dilanjutkan untuk menjaga radangnya tetap terkendali," jelasnya.

Durasi pengobatan pun berbeda pada tiap pasien. Ada yang bisa stabil setelah satu tahun terapi, tetapi ada pula yang kambuh kembali setelah obat dihentikan sehingga membutuhkan pengobatan ulang.

Sementara itu, GERD terbagi menjadi dua jenis, yakni erosive esophagitis yang menyebabkan luka pada kerongkongan dan non-erosive reflux disease yang tidak menimbulkan luka fisik.

Pada beberapa kasus, stres juga dapat memperburuk GERD, terutama tipe non-erosive reflux disease. Karena itu, menjaga pola makan, mengelola stres, dan menerapkan gaya hidup seimbang menjadi bagian penting dalam mencegah kekambuhan.

"Obat GERD ini sebenarnya bukan hanya pada dokter, tapi lebih ke dirinya sendiri yang bisa mengelola semuanya," ujar Murdani.

Ia pun mengingatkan masyarakat agar tidak langsung panik saat mendapat diagnosis GERD. Sebab, tidak semua GERD berbahaya atau berkembang menjadi komplikasi serius. Rasa cemas berlebihan justru dapat memicu stres dan memperparah gejala.

(tis/tis)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Koran | News | Luar negri | Bisnis Finansial