Jakarta, CNN Indonesia --
Sebuah studi yang kontroversial mengungkap bahwa badai Matahari dapat menyebabkan guncangan gempa di Planet Bumi. Namun, benarkah demikian?
Studi yang diterbitkan pada 3 Februari di jurnal International Journal of Plasma Environmental Science, menyebut bahwa perubahan di ionosfer dapat memicu kekuatan listrik yang berperan dalam terjadinya gempa di wilayah kerak Bumi yang rapuh.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Perubahan ini diduga terjadi saat badai Matahari mengganggu ionosfer, lapisan atmosfer atas yang dipenuhi partikel bermuatan listrik, sehingga memengaruhi kondisi di zona patahan yang sudah rentan.
Para peneliti dalam studi ini menyebutkan bahwa perubahan ini dapat sedikit mengubah gaya listrik di dalam kerak Bumi, memengaruhi stabilitas garis patahan di mana gempa bumi dapat terjadi.
Jika hubungan ini dapat dibuktikan, hal itu akan menetapkan hubungan antara cuaca antariksa dan risiko gempa bumi yang saat ini belum diperhitungkan oleh para ilmuwan.
Namun, peneliti lain memperingatkan bahwa model yang digunakan dalam studi tersebut terlalu disederhanakan dan bahwa efek geologi dunia nyata mungkin dapat diabaikan.
Bumi dipenuhi dengan listrik yang dihasilkan secara alami. Retakan-retakan yang sangat tertekan di kerak Bumi mengandung kantong-kantong air yang begitu panas dan bertekanan tinggi sehingga tidak lagi berbentuk cairan maupun gas.
Cairan superkritis ini dipenuhi dengan ion-ion bermuatan, artinya retakan-retakan ini berperilaku seperti kapasitor dan menyimpan energi listrik.
Retakan-retakan pada kerak Bumi, yang dikenal sebagai patahan, juga merupakan wilayah kunci yang memicu gempa bumi karena menandai titik-titik di mana lempeng tektonik bertabrakan dan bergerak, menumpuk energi mekanik yang dapat menyebabkan gempa bumi.
Dalam studi baru ini, para peneliti membuat model yang memperlakukan kerak Bumi dan ionosfer, lapisan bermuatan yang terletak sekitar 402 kilometer di atas permukaan Bumi, sebagai terminal positif dan negatif dari baterai raksasa yang bocor.
Mereka kemudian menghubungkan "kapasitor kerak" dengan ionosfer menggunakan medan listrik.
Para ilmuwan menggunakan model untuk memprediksi bahwa, ketika partikel bermuatan listrik dari letusan matahari menghantam Bumi, partikel-partikel tersebut akan memindahkan elektron di ionosfer ke arah bawah. Hal ini akan mengonsentrasikan elektron pada ketinggian yang lebih rendah, membentuk lapisan muatan negatif.
Muatan ini, pada gilirannya, meningkatkan gaya elektrostatik yang bekerja pada muatan di kerak Bumi, menyebabkan perubahan tekanan. Para peneliti berargumen bahwa perubahan tekanan ini sebanding dengan gaya-gaya lain yang memengaruhi stabilitas patahan, seperti gravitasi dan pasang surut.
Pada dasarnya, peningkatan gaya elektrostatik di kerak Bumi menyebabkan tekanan yang lebih besar pada area sekitarnya, yang dapat menyebabkan pergerakan patahan dan mengakibatkan gempa bumi.
Sulit untuk diuji
Para peneliti menyarankan bahwa gempa bumi di Semenanjung Noto pada 2024 di Jepang mendukung temuan model mereka, karena gempa tersebut terjadi bersamaan dengan aktivitas letusan matahari yang kuat. Namun, menetapkan hubungan antara kerak Bumi dan ionosfer sulit dilakukan dalam praktiknya.
United States Geological Survey (USGS) telah lama menekankan bahwa tidak ada hubungan yang jelas dan berulang antara gempa bumi dan siklus matahari 11 tahun.
Ada juga masalah kebetulan. Letusan matahari dan gempa bumi cukup umum terjadi, sehingga kemungkinan besar akan ada tumpang tindih antara kedua jenis peristiwa tersebut secara kebetulan, meskipun keduanya tidak saling memengaruhi.
Peneliti lain telah mencatat bahwa model yang digunakan dalam studi ini tidak mencerminkan kompleksitas penuh dari kerak Bumi.
"Model yang diusulkan sangat disederhanakan," ujar Victor Novikov, seorang geofisikawan dari Akademi Ilmu Pengetahuan Rusia, yang tidak terlibat dalam penelitian tersebut.
Ia menambahkan bahwa para peneliti tidak sepenuhnya memperhitungkan resistansi lapisan batuan terhadap konduktivitas listrik, yang dapat menekan medan listrik sebelum berkontribusi pada gempa bumi.
"Hasil pengamatan tidak mendukung ide yang diusulkan," lanjut Novikov kepada Live Science dalam sebuah email.
Meskipun demikian, para peneliti terus mencari hubungan antara cuaca antariksa dan tektonik lempeng, sekecil apa pun hubungannya.
Untuk saat ini, studi ini sebaiknya dianggap sebagai jalur potensial yang dapat diverifikasi melalui pengamatan yang lebih baik dan analisis yang lebih mendalam, kata para peneliti.
Apakah Matahari dapat secara andal memicu gempa bumi masih menjadi pertanyaan yang belum terjawab, mengingatkan kita pada prinsip ilmiah dasar: "Korelasi tidak berarti kausalitas."
(wpj/dmi)

6 hours ago
1




























