Rupanya Gen Z Jadi Generasi Paling Kesepian di Dunia Kerja, Kok Bisa?

2 hours ago 1

CNN Indonesia

Minggu, 01 Mar 2026 16:50 WIB

Dalam sebuah laporan terbaru, Gen Z jadi generasi paling kesepian di dunia kerja di antara generasi-generasi lain. Berikut penjelasannya. Ilustrasi. Menurut sebuah laporan terbaru, Gen Z adalah generasi paling kesepian di dunia kerja. Ternyata ini penyebabnya. (Pexels/cottonbro studio)
Daftar Isi

Jakarta, CNN Indonesia --

Laporan terkini menemukan Gen Z jadi generasi paling kesepian di dunia kerja. Tak hanya itu, dalam laporan berbeda menemukan sebagian perusahaan cepat memberhentikan Gen Z hanya beberapa bulan setelah masuk kerja. Ternyata ada penjelasan lebih lanjut soal fenomena ini. 

Laporan dari platform teknologi pangan ezCater menemukan sekitar 38 persen pekerja Gen Z mengaku merasa kesepian saat bekerja. Angka ini menjadi yang tertinggi dibandingkan kelompok usia lainnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sementara itu, laporan dari Intelligent.com menemukan sebagian perusahaan cepat memberhentikan karyawan Gen Z hanya beberapa bulan setelah direkrut.

Melansir dari Newsweek, 1 dari 6 perusahaan bahkan mengaku ragu mempekerjakan lulusan baru. Kemudian enam dari 10 perusahaan menyebut telah memberhentikan lulusan yang direkrut pada tahun yang sama.

Kondisi tersebut memunculkan dugaan adanya ketidaksesuaian antara ekspektasi Gen Z dan budaya kerja yang berlaku. Hal tersebut dapat memicu rasa terisolasi, tingginya pergantian karyawan, hingga menurunnya produktivitas.

Survei yang dilakukan kepada 1.000 karyawan menunjukkan 80 persen diantaranya merasa lebih terlibat dalam pekerjaan ketika memiliki teman di kantor. Namun, hanya 43 persen pekerja jarak jauh yang memiliki teman dekat di tempat kerja.

Sebaliknya, 69 persen pekerja yang bekerja secara langsung di kantor atau dengan sistem hibrida melaporkan memiliki teman dekat di lingkungan kerja. Perbedaan ini menunjukkan bahwa interaksi tatap muka masih memainkan peran penting dalam membangun koneksi sosial.

Melansir dari Psychology Today, ada tiga hal utama yang menjadi penyebab Gen Z kesepian.

1. Stimulasi berlebihan

Gen Z bekerja di tengah banjir notifikasi, rapat daring, target kerja, serta distraksi digital yang nyaris tanpa jeda. Kondisi ini membuat interaksi menjadi serba cepat dan fungsional, tetapi minim kedalaman emosional.

Komunikasi lewat email atau pesan instan kerap menggantikan percakapan langsung, sehingga ruang membangun kedekatan dengan rekan kerja semakin terbatas.

2. Media sosial

Ilustrasi dengan media sosial/Foto: Freepik.com/freepikIlustrasi. Media sosial tak bisa sepenuhnya menggantikan interaksi nyata. (Freepik.com/freepik)

Paparan intens terhadap media sosial dapat memperkuat rasa terisolasi, terutama ketika muncul kecenderungan membandingkan diri dengan pencapaian orang lain.

Media sosial memang bisa memperluas jejaring profesional. Namun, para ahli menilai platform tersebut efektif mengurangi kesepian hanya jika digunakan untuk memperkuat relasi nyata, bukan menggantikannya.

3. Pergeseran ketergantungan sosial

Kemudahan akses informasi membuat banyak pekerja muda lebih memilih mencari solusi secara mandiri melalui internet dibanding bertanya kepada rekan kerja. Cara ini memang efisien, tetapi mengurangi momen interaksi yang sebelumnya menjadi peluang membangun relasi.

Di kalangan Gen Z, 56 persen responden berharap perusahaan menyediakan lebih banyak kesempatan untuk bersosialisasi. Bahkan, 85 persen menyatakan memiliki teman di tempat kerja membuat mereka merasa lebih terlibat dan termotivasi.

Konsultan sumber daya manusia, Bryan Driscoll menilai realitas dunia kerja yang dihadapi Gen Z berbeda jauh dibandingkan generasi sebelumnya.

Menurut Bryan, generasi terdahulu memiliki lebih banyak kesempatan membangun relasi melalui interaksi langsung, mentor, hingga kebersamaan di luar jam kerja.

Sementara itu, Gen Z banyak memulai karir di tengah pandemi COVID-19 dengan proses orientasi dan komunikasi yang serba daring. Situasi tersebut membuat interaksi sosial lebih terbatas dan budaya kerja lebih sulit terbentuk secara alami.

Kesepian di tempat kerja juga berpotensi berdampak pada kesehatan mental. Pengajar literasi keuangan, Alex Benee menilai tekanan ekonomi, ketidakstabilan pasar kerja, serta kenaikan biaya hidup dapat memperkuat rasa cemas dan terasing pada pekerja muda.

Beene menyebut Gen Z cenderung lebih terbuka dalam mencari bantuan profesional dibandingkan generasi sebelumnya. Peningkatan kesadaran terhadap pentingnya kesehatan mental dinilai menjadi salah satu respons positif terhadap situasi tersebut.

Tingginya tingkat kesepian di kalangan Gen Z menjadi sinyal bahwa fleksibilitas kerja saja tidak cukup. Karyawan juga membutuhkan rasa memiliki dan koneksi sosial untuk tetap terlibat dan bertahan dalam jangka panjang.

(els/els)

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Koran | News | Luar negri | Bisnis Finansial