Perang Iran Ancam Dominasi Petrodolar-Dorong Munculnya Petroyuan

4 hours ago 2

Jakarta, CNN Indonesia --

Analis memperkirakan konflik Amerika Serikat dan Israel vs Iran berpotensi mengguncang dominasi dolar AS dalam perdagangan minyak global, sekaligus membuka ruang bagi penguatan mata uang yuan China sebagai alternatif.

Mengutip South China Morning Post, Jumat (27/3), dalam laporan riset yang dirilis analis dari Deutsche Bank menyebut dampak perang yang telah berlangsung hampir sebulan mulai menguji fondasi sistem Petrodolar. Padahal sistem ini selama puluhan tahun menjadi tulang punggung transaksi minyak dunia.

Mereka menilai kerusakan ekonomi di kawasan Teluk akibat konflik dapat mendorong negara-negara produsen minyak untuk mengurangi ketergantungan pada aset berbasis dolar AS.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Jika negara Teluk semakin mendekat ke Asia dalam hubungan perdagangan dan investasi, serta mulai mengurangi penetapan harga minyak dalam dolar, dampaknya terhadap penggunaan dolar dalam perdagangan dan cadangan global akan signifikan," tulis laporan tersebut.

Sejak kesepakatan Petrodolar 1974, sebagian besar perdagangan minyak global dilakukan dalam dolar AS, terutama setelah Arab Saudi sepakat menetapkan harga minyak dalam dolar sebagai imbalan jaminan keamanan dari Washington. Skema ini kemudian memperkuat dominasi dolar dalam rantai nilai global.

Namun, tekanan terhadap sistem tersebut meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Minyak dari Rusia dan Iran yang terkena sanksi kini diperdagangkan menggunakan mata uang non-dolar. Selain itu, Arab Saudi juga mulai bereksperimen dengan pembayaran non-dolar untuk proyek infrastruktur.

Di sisi lain, China telah meluncurkan kontrak berjangka minyak berbasis yuan sejak 2018. Meski skalanya masih jauh lebih kecil dibanding transaksi berbasis dolar, langkah ini dinilai sebagai upaya strategis memperluas penggunaan yuan dalam perdagangan energi global.

Perkembangan terbaru menunjukkan potensi pergeseran yang lebih tajam. Iran dilaporkan mulai mengaitkan akses ke Selat Hormuz dengan pembayaran minyak menggunakan yuan. Jalur ini sangat krusial karena sekitar 20 persen konsumsi minyak dunia melewati wilayah tersebut.

Analis Deutsche Bank menilai dinamika ini perlu diawasi ketat karena berpotensi menjadi titik awal erosi dominasi petrodolar dan munculnya Petroyuan.

Mereka memproyeksikan kemungkinan terjadinya pembelahan sistem, minyak dari Timur Tengah yang dikirim ke Asia dapat dihargai dalam yuan, sementara pasokan ke sekutu Barat tetap menggunakan dolar.

Selain faktor geopolitik, perubahan struktural seperti transisi ke energi terbarukan, pengembangan energi nuklir, dan peningkatan produksi domestik juga diperkirakan akan mengurangi ketergantungan terhadap minyak global.

"Dunia yang semakin mandiri dalam pertahanan dan energi juga bisa menjadi dunia yang menyimpan lebih sedikit cadangan dolar AS," tulis para analis.

[Gambas:Video CNN]

(ldy/agt)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Koran | News | Luar negri | Bisnis Finansial