Musim Kemarau 2026 Bakal Lebih Kering, Daerah Ini Paling Terdampak

9 hours ago 1

Jakarta, CNN Indonesia --

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi sifat musim kemarau 2026 di sebagian besar wilayah Indonesia akan berada di bawah normal atau lebih kering dibandingkan rata-rata klimatologis 30 tahun terakhir (1991-2020).

Dari total 699 zona musim (ZOM), sebanyak 451 zona musim atau 64,5 persen diprakirakan mengalami curah hujan di bawah normal selama periode kemarau.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sementara itu, 245 zona musim atau sekitar 35 persen diprediksi berada pada kategori normal, dan hanya sekitar 3 persen zona musim yang berpotensi mengalami kemarau di atas normal atau lebih basah dari biasanya.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan menegaskan bahwa kondisi kemarau tahun ini berbeda dibandingkan 2025 yang dikenal sebagai "kemarau basah".

"Untuk tahun 2026 ini seperti tadi kami sampaikan, kondisinya keringnya di bawah normal atau lebih kering dari biasanya. Jadi yang perlu kita antisipasi kondisinya kemaraunya tidak seperti tahun 2025," ujar Ardhasena dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (4/3).

Wilayah paling terdampak

BMKG menyebutkan wilayah yang diprediksi mengalami kemarau di bawah normal tersebar luas, mulai dari sebagian Aceh, Sumatera Utara, Riau, Sumatera Barat, Jambi, hingga sebagian besar Sumatera Selatan dan Kepulauan Bangka Belitung.

Di Pulau Jawa, sebagian besar wilayah juga diprediksi mengalami kondisi lebih kering dari normal. Hal serupa berlaku untuk Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT).

Di Kalimantan, wilayah yang diperkirakan mengalami kemarau bawah normal meliputi Kalimantan Barat, sebagian besar Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, serta sebagian Kalimantan Timur.

Sementara di Sulawesi, kondisi serupa diprediksi terjadi di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, hingga Gorontalo bagian tengah.

Wilayah Maluku, Maluku Utara, serta sebagian besar Papua termasuk Papua Barat Daya dan Papua Selatan juga masuk dalam kategori kemarau lebih kering dari normal.

Adapun wilayah yang diprediksi mengalami kemarau di atas normal atau lebih basah dari biasanya relatif terbatas, yakni sebagian kecil Gorontalo dan Sulawesi Tenggara.

Dampak dan antisipasi

Dengan dominasi sifat kemarau di bawah normal, BMKG mengingatkan potensi peningkatan risiko kekeringan meteorologis dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama di wilayah rawan.

Ardhasena menyebutkan, kemarau dengan curah hujan di bawah normal secara historis kerap berasosiasi dengan peningkatan risiko karhutla.

"Di musim kemarau yang normal atau bawah normal biasanya berasosiasi dengan risiko dari karhutla yang juga meningkat dan hal ini perlu kita waspadai," katanya.

BMKG mengimbau pemerintah daerah, kementerian/lembaga, serta masyarakat untuk memanfaatkan informasi ini sebagai dasar penyusunan strategi adaptasi dan mitigasi, termasuk pengelolaan air, penyesuaian pola tanam, serta kesiapsiagaan kebencanaan menghadapi musim kemarau 2026 yang diprediksi lebih kering dari biasanya.

(wpj/dmi)

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Koran | News | Luar negri | Bisnis Finansial