Menjamu Raga ala Orang Pintar

3 hours ago 1

Tak ada cahaya kemerahan di Jakarta pagi itu. Firly Ariadi sedari tadi mengemas barang dalam tas. Pria 23 tahun itu siap berangkat kerja, tapi cuaca buruk menunda langkahnya. Badannya juga sedang tak begitu prima.

Di langit-langit rumah, gemuruh air terasa menggema. Ya, hujan membasahi bumi Pondok Labu, Jakarta Selatan, pada pekan terakhir Januari.

“Itu di atas ada Tolak Angin, Fir,” kata Iis, ibu Firly.

Ruangan di atas yang dimaksud adalah kamar ibu Firly. Di sana, terdapat kotak berisi berbagai macam aroma terapi, obat, hingga Tolak Angin.

Firly bergegas menaiki tangga dan menuju kamar sang ibu. Dia mengambil satu saset Tolak Angin lalu menenggak obat herbal terstandar itu. Ia kemudian mengambil satu lagi sebagai perbekalan di kantor.

Tak cuma Firly, sang ayah, Syarifudin, turut memasukkan Tolak Angin ke sakunya sebagai barang yang wajib dibawa ketika bekerja.

Ayah Firly sudah mengonsumsi Tolak Angin sejak tahun 2000-an. Dia tahu produk ini dari iklan dan pendapat rekan-rekan kerjanya. Nenek Firly juga ikut minum Tolak Angin ini saat badan masuk angin.

“Saya minum Tolak Angin sejak tahun 2000. Terus ibu saya minum. Katanya cocok juga di badannya,” kata Syarifudin.

Di daerah zona penyangga Jakarta, tepatnya di Bogor, Anagatha Kilan baru tiba di rumah sepulang kerja sekitar pukul 19.30 WIB. Sebagai pekerja kantoran dengan rutinitas padat dan mobilitas yang tinggi, membuat Ana, sapaan akrab Anagatha, sangat memperhatikan kondisi tubuhnya.

Ketika ia mulai terasa lelah atau tidak enak badan, Tolak Angin selalu menjadi andalan yang tersedia di rumah. Kebiasaan ini bukan hal baru bagi Ana sendiri. Sebab, sejak dulu nenek dan ibunya telah mengandalkan Tolak Angin untuk menjaga kesehatan keluarga.

Ana bercerita, ibunya seakan paham betul kondisi anaknya. Kalau Ana pulang kerja dengan kondisi lemas atau masuk angin, sang ibu langsung menyodorkan Tolak Angin untuk diminum.

“Waktu itu aku pernah merasa nggak enak badan sehabis pulang kerja, seperti masuk angin. Terus Bunda bikinin aku Tolak Angin dicampur dengan air hangat, dan aku istirahat sebentar. Nggak lama, badan rasanya lebih hangat dan berangsur membaik. Besoknya aku beraktivitas ke kantor seperti biasa,” kata Ana.

Sebelum sang ibu, nenek Ana sudah lebih dulu melakukan hal yang sama, yakni selalu menyiapkan Tolak Angin di rumah untuk berjaga-jaga. Bagi keluarga Ana, Tolak Angin tak hanya dikonsumsi ketika tidak enak badan, tapi juga untuk menjaga daya tahan tubuh terutama setelah melakukan aktivitas padat atau saat cuaca tidak menentu.

Dari pengalaman berulang, mereka sadar bahwa menjaga kesehatan tubuh tidak melulu harus menunggu sakit tiba. Seiring waktu, kebiasaan ini terus diwariskan dan menjadi bagian dari cerita keluarga yang berlanjut dari generasi satu ke generasi berikutnya.

Warisan Kesehatan Keluarga

Sejarah racikan Tolak Angin bisa ditelisik sejak 1935. Mulanya Rakhmat Sulistio (Go Djing Nio) membuka usaha jamu dan rempah-rempah di Yogyakarta.

Lima tahun kemudian, Tolak Angin mulai dijajakan dalam bentuk godogan dan digemari masyarakat. Pada 1951, dibukalah pabrik pertama bernama SIDO MUNCUL di Semarang, Jawa Tengah. Sido Muncul sendiri memiliki arti ‘Impian yang Terwujud’.

Tahun-tahun berlalu, tepatnya pada 2004, Tolak Angin telah berhasil memproduksi 250 jenis produk, dengan produk unggulan Tolak Angin, Kuku Bima Energi, Alang Sari, hingga Kunyit Asam yang dikenal hingga saat ini.

Setelah memperoleh sertifikat halal MUI, perusahaan terus menorehkan prestasi melalui berbagai penghargaan yang semakin mengukuhkan posisinya sebagai merek tepercaya.

Ketulusan Rakhmat Sulistio menjaga kesehatan keluarga berbuah produk herbal yang telah menjadi warisan kesehatan keluarga yang sangat bermanfaat, hingga kini dirasakan masyarakat luas, seperti keluarga Firly dan Ana.

Menjaga kesehatan adalah hal yang sangat penting bagi setiap generasi. Penting untuk menemukan solusi kesehatan yang dapat menjangkau semua usia, seperti Ana, ibu, dan neneknya. Mereka adalah contoh bagaimana lintas generasi dapat merasakan manfaat dari Tolak Angin yang bermanfaat dan cocok bagi semua usia.

Hal itu sejalan dengan cita-cita Sido Muncul saat memproduksi Tolak Angin.

Sejak diperkenalkan Rakhmat Sulistio ke publik, Tolak Angin sudah menjadi lebih dari sekadar produk herbal warisan keluarga. Tolak Angin merupakan kebutuhan sehari-hari yang tidak terelakkan.

Mulai dari Gen Z yang gemar naik gunung, Gen Z yang gemar yoga, hingga Gen Z yang gemar dugem, Tolak Angin merupakan perbekalan wajib. Tolak Angin sangat berguna untuk menjaga tubuh tetap prima di tengah cuaca ekstrem dan tidak menentu.

Direktur Marketing Sido Muncul, Maria Reviani Hidayat, mengaku bangga Tolak Angin bisa dipercaya lintas generasi. Dia juga mengungkap komitmen Sido Muncul untuk menjaga kepercayaan publik sehingga Tolak Angin bisa terus menjadi andalan masyarakat.

"Tolak Angin itu salah satu brand kita yang dikonsumsi oleh lintas generasi, dikonsumsi oleh berbagai segmen demografis. Dan menurut saya, itu karena produknya memang cocok untuk lintas generasi dari segi manfaat, lalu produknya sendiri yang mudah dikonsumsi, dan mengatasi masalah berbagai generasi seperti masuk angin," ucap Maria.

Masuk angin kerap digambarkan masyarakat Indonesia sebagai kondisi tubuh tak sehat. Gejalanya kembung, mual, sakit perut, pusing, meriang, dan tenggorokan kering.

Lebih lanjut, Maria mengatakan Sido Muncul selalu menjaga kepercayaan publik dengan memperhatikan kualitas produk. Produk yang dibuat, kata dia, harus aman dan berbasis ilmu pengetahuan.

Sejak dulu, Sido Muncul juga punya komitmen menghasilkan produk berdasarkan riset dan serangkaian tes mencakup uji khasiat serta uji toksisitas.

Uji toksisitas diperlukan untuk memastikan produk aman. Berdasarkan hasil penelitian, penggunaan Tolak Angin cair pada dosis yang diuji menunjukkan hasil yang aman tanpa menimbulkan gangguan pada sistem darah, peradangan, fungsi jantung, maupun sistem reproduksi, serta fungsi ginjal, hati, dan sistem pencernaan.

Lalu, terkait uji khasiat yang dilakukan dalam penelitian lainnya melaporkan bahwa konsumsi Tolak Angin sesuai dosis yang dianjurkan bisa menaikkan respons imun sistem tubuh manusia atau T1 cell tanpa mengganggu fungsi organ penting manusia secara umum.

“Jadi, dengan cara ini kami memang memastikan bahwa produk ini aman dan berkhasiat. Dan dia jadi sustain [bertahan lama] ya,” ujar Maria.

Serangkaian tes dan pembuktian ilmiah, lanjut Ria, juga membuat Tolak Angin aman dikonsumsi setiap hari.

“Jadi, pembuktiannya bahwa kalau kita minum secara rutin dapat menaikkan imun, menaikkan kekebalan kita,” jelas direktur marketing Sido Muncul ini.

Tidak cuma menjadi andalan warga Indonesia mengatasi masalah tubuh tak prima, Tolak Angin juga jadi incaran turis asing. Di media sosial, tak sedikit netizen dari berbagai negara menyarankan Tolak Angin sebagai buah tangan atau produk herbal yang wajib dikonsumsi jika berkunjung ke Bali.

Beberapa turis asing sering mengalami ‘Bali Belly’ atau gangguan pencernaan seperti diare, keram perut, mual, muntah, saat berkunjung ke daerah tropis. Fenomena ini disebabkan salah satunya karena adaptasi tubuh. Sistem pencernaan mereka belum terbiasa dengan mikroba lokal.

Maria menyebut fenomena turis asing mempercayai Tolak Angin saat mengunjungi Indonesia terjadi karena kekuatan branding produk yang dimiliki Sido Muncul tersebut.

"Menurut saya, sekarang karena dengan adanya social media, lalu banyak orang yang berkunjung ke Indonesia, banyak orang Indonesia juga yang pergi keluar, nah, produk ini mulai menyebar,” kata dia.

Maria lalu menambahkan, “Dan kebetulan memang cocok. Jadi, karena produknya sendiri secara format dan rasa dan khasiat juga bisa diterima.”

Dia juga mengatakan Sido Muncul telah merambah pasar global. Saat ini, produk Tolak Angin sudah beredar di 34 negara termasuk negara-negara di Eropa. Beberapa di antaranya yakni Malaysia, Filipina, dan terbaru Jepang.

Di Malaysia dan Filipina produk Tolak Angin bahkan lebih beragam mencakup Tolak Angin Anak hingga Tolak Angin Care (roll-on). Produk tersebut juga ada di mana-mana seperti supermarket hingga minimarket. Lalu, di Jepang sejauh ini produk yang terpampang adalah permen.

"Di negara-negara itu, ada yang baru masuk untuk pasar orang-orang Indonesia yang ada di negara itu. Tapi, banyak juga yang sudah masuk ke pasar domestik masing-masing, jadi digunakan oleh orang asing,” ungkap Maria.

“Dan penerimaannya cukup baik karena ketersediaannya dan permintaannya juga ada. Jadi kalau permintaannya masih ada ya jelas itu diterima oleh masyarakat,” imbuh dia.

Tolak Angin telah menjadi produk herbal andalan anak muda. Di tengah aktivitas padat dan gaya hidup serbacepat, Tolak Angin hadir sebagai solusi praktis untuk menunjang kesehatan. Reputasi Tolak Angin dapat dilihat dari konsistensi dan inovasi brand ini dalam menghadirkan produk yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Dari fenomena ini, Maria semakin yakin bahwa Tolak Angin menjadi produk yang sangat dibutuhkan anak muda. Hal itu dikarenakan aktivitas anak muda saat ini lebih banyak dibanding dulu. Mereka punya mobilitas tinggi, aktivitas padat, dan butuh sesuatu yang menjaga tubuhnya tetap prima.

“Cara kerja Tolak Angin ini adalah menaikkan sistem kekebalan tubuh. Jadi kalau kita minum secara rutin itu dapat menaikkan T1 cell.”

“Jadi otomatis ya dengan aktivitas generasi yang baru ini, dengan aktivitas yang lebih banyak, ya ini [Tolak Angin] dapat meningkatkan sistem imun. Apalagi sekarang sejak Covid, orang lebih concern dengan sistem kekebalan tubuh,” ungkap Maria.

Selain itu Tolak Angin juga melakukan kolaborasi dengan banyak brand lokal dan internasional ternama. Kolaborasi itu merupakan bentuk dukungan untuk memajukan industri Indonesia, sekaligus menjadi cara Sido Muncul merebut pasar anak muda.

Dalam beberapa tahun terakhir, Tolak Angin mendukung event yang kekinian dan digemari anak muda. Tolak Angin bekerja sama dengan Webcomic terbesar dan terpopuler di Indonesia, Tahilalats, hingga brand sneaker lokal Brodo untuk semakin merangkul kawula muda.

Selain itu, Tolak Angin juga berkolaborasi dengan Uniqlo, PAUL, Tahilalats, hingga mensponsori acara musik seperti Synchronize Fest, Bigu Fest, Semesta Berpesta, Lengger Bicara, Scream or Dance.

Langkah Sido Muncul merangkul anak muda juga dibarengi dengan komitmen menjaga kualitas produk Tolak Angin. Maria mengatakan menjaga kualitas Tolak Angin merupakan kunci menjaga untuk mendapat kepercayaan dari konsumen.

Sebagai perusahaan produk herbal terkemuka di Indonesia, Sido Muncul terus berupaya menyediakan produk-produk bermutu yang menyehatkan bagi konsumen dan masyarakat secara luas.

Tahun 2025 menjadi tahun yang spesial bagi Tolak Angin. Sejumlah kegiatan kolaborasi dilakukan Tolak Angin, salah satunya adalah campaign 'Ace Nova The Only Yellow' dan 'Ace Neptune Swift Blue. Ini' merupakan 'kolaborasi pintar' bersama Brodo dan Tahilalats. Lewat campaign tersebut Tolak Angin membuat produk sepatu yang menggabungkan kualitas, kearifan lokal dan ekspresi inovasi.

Di tahun itu pula, Tolak Angin memproduksi mini series Travelling 'Angin Angan' Series. Lewat campaign ini Tolak Angin menonjolkan keindahan bawah laut Wakatobi, sebuah 'surga' wisata di Sulawesi Tenggara, Timur Indonesia. Pesona Wakatobi ditampilkan Tolak Angin dalam mini series 3 episode berjudul 'Angin Angan'.

Masih di tahun 2025, Tolak Angin turut hadir di Jakarta Doodle Fest 2025 yang merupakan keberlanjutan komitmen Sido Muncul dalam memajukan industri kreatif Indonesia.

Kolaborasi Pintar lain yang dilakukan Tolak Angin di 2025 yakni menggandeng Chatime untuk menghasilkan minuman Coco Angin, menu yang out of the box chocolate mint.

Kerja keras Sido Muncul sepanjang 2025 pun membuat mereka menyabet sederet penghargaan. Tolak Angin meraih penghargaan Indonesia Original Brand 2025 untuk kategori Herbal Supplement yang diberikan SWA dan Business Digest. Tolak Angin mendapat predikat 'Very Good'.

Tolak Angin juga mendapat penghargaan Solo Best Brand and Innovation Award (SBBI) 2025 sebagai obat masuk angin herbal terstandar. Selain itu Tolak Angin juga sukses meraih penghargaan Indonesia Brand Expansion Award 2025 yang diselenggarakan oleh MCorp.

Prestasi luar biasa di 2025 turut memudahkan Tolak Angin memperluas jangkauan pasar secara online, seiring dengan pergeseran perilaku belanja masyarakat Indonesia ke platform digital dan online marketplace (e-commerce).

Terbukti, Tolak Angin menunjukkan pertumbuhan penjualan yang signifikan di platform online. Dalam rentang tahun 2020 hingga 2025, penjualannya tumbuh hingga 99 persen. Angka tersebut mencerminkan begitu tinggi minat dan kepercayaan konsumen terhadap produk Tolak Angin.

Pertumbuhan penjualan di online marketplace terus berlanjut dalam beberapa waktu terakhir. Pada periode 2022 hingga 2025, Tolak Angin mencatatkan pertumbuhan penjualan sebesar 73 persen.

Berbagai capaian itu menegaskan posisi Tolak Angin sebagai produk herbal tepercaya dan setia mendukung kesehatan masyarakat Indonesia dari waktu ke waktu.

Namun, semakin tinggi pohon, semakin banyak badai menerjang. Itu pula yang dialami Tolak Angin. Meski demikian, Maria tak ambil pusing dengan isu-isu atau misinformasi yang beredar terkait produknya.

Maria sekali lagi menegaskan Tolak Angin sudah melalui serangkaian uji yang ketat sehingga produk mereka aman dikonsumsi masyarakat.

“Jadi bukan kami sendiri yang melakukan tes. Mungkin 22 tahun yang lalu ini uji keamanannya, uji toksisitas. Dan sudah terbukti bahwa produk ini tidak merusak organ, dan tidak merusak sistem hormon,” ungkap dia.

Sembari tersenyum tipis, Maria lalu mengatakan, “Saya rasa sih, saya tidak khawatir karena kalau orang pintar minumnya Tolak Angin.”

Tolak Angin juga sukses membumikan produk herbal yang aman dan turut menjaga kesehatan lintas generasi dari lokal hingga global. Ia berhasil mengubah persepsi masyarakat soal jamu, yang dibuktikan dengan riset dan hasil penelitian, bahwa produk mereka relevan sepanjang zaman.

Menjaga kesehatan tubuh dengan memilih solusi baik yakni mengonsumsi produk herbal adalah tindakan cerdas, sebagaimana kata Maria “Orang pintar minum Tolak Angin.”

Read Entire Article
Koran | News | Luar negri | Bisnis Finansial