Jakarta, CNN Indonesia --
Krisis pasokan chip memori (RAM) global yang kian parah mulai mendorong kenaikan harga komponen komputer dan berpotensi merembet ke industri smartphone. Harga HP diprediksi naik gila-gilaan.
Meski dampaknya pada ponsel belum sepenuhnya terasa, laporan terbaru menyebut kondisi ini bisa menghantam pasar smartphone dalam beberapa bulan ke depan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Laporan lembaga riset pasar International Data Corporation (IDC) memprediksi pasar smartphone global akan menyusut 12,9 persen pada 2026. IDC bahkan menyebut kondisi ini berpotensi memicu "krisis yang belum pernah terjadi sebelumnya" di industri tersebut.
IDC menilai gejolak sebelumnya akan terlihat sepele dibandingkan kondisi saat ini. Mereka menyebut "tarif dan krisis pandemi tampak seperti lelucon dibandingkan dengan ini".
Bagi konsumen, prospeknya juga kurang menggembirakan. Sebagai respons atas kekurangan memori, Bloomberg melaporkan bahwa produsen smartphone mulai mengurangi spesifikasi, menghapus model entry-level yang kurang menguntungkan, serta mendorong konsumen beralih ke perangkat kelas atas.
Perubahan ini diperkirakan bukan sekadar sementara.
Direktur Riset Senior IDC, Nabila Popal, mengatakan bahwa pasar smartphone akan mengalami pergeseran besar dalam ukuran pasar, harga jual rata-rata, dan lanskap persaingan setelah krisis berakhir.
Bloomberg memperkirakan situasi ini dapat berlanjut hingga 2027. Bahkan ketika pasokan kembali stabil, struktur harga lama dinilai sulit untuk kembali seperti sebelumnya.
Dampak besar bagi android
Krisis RAM dipicu lonjakan permintaan dari industri kecerdasan buatan (AI), yang menyerap sebagian besar pasokan memori untuk kebutuhan pusat data. Dampaknya kini merembet ke perangkat konsumen.
Melansir Tech Radar, permintaan memori canggih untuk mendukung tugas AI telah menguras pasokan global hingga tahun depan, dan mengancam model bisnis banyak produsen smartphone.
Kondisi ini menjadi kabar buruk bagi ponsel Android, yang umumnya memiliki margin keuntungan lebih tipis dan bersaing di harga kompetitif.
IDC mencatat segmen entry-level berpotensi terdampak paling parah, karena biaya memori menyumbang porsi besar dari total biaya produksi. Sejumlah perusahaan seperti Lenovo dan Xiaomi bahkan telah mengisyaratkan kemungkinan kenaikan harga.
Di sisi lain, perusahaan seperti Apple dinilai lebih siap menghadapi tekanan ini berkat posisi premium dan margin keuntungan yang lebih tinggi. Namun, CEO Apple Tim Cook baru-baru ini mengakui bahwa kekurangan pasokan bisa berdampak "sedikit lebih besar" dibandingkan tahun lalu, memunculkan spekulasi kenaikan harga di masa depan.
Pandangan pesimistis ini juga diamini analis dari Counterpoint Research, menyebut 2026 berpotensi menjadi tahun terburuk dalam sejarah smartphone akibat krisis pasokan skala besar yang dipicu kelangkaan RAM.
Nabila Popal menutup dengan nada suram, menyatakan bahwa era smartphone murah telah berakhir. Bahkan setelah krisis mereda, harga memori diperkirakan tidak akan kembali ke level 2025.
Sekitar 170 juta ponsel dengan harga di bawah US$100 dolar (Rp1.680.000) terjual pada 2025. Namun kini, segmen tersebut dinilai semakin tidak ekonomis untuk dipertahankan.
(wpj/dmi)

1 hour ago
1
























