PERISKOP 2026
CNN Indonesia
Senin, 05 Jan 2026 09:00 WIB
Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa percaya ekonomi Indonesia bisa tumbuh 6 persen year on year (yoy) pada 2026. (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A).
Jakarta, CNN Indonesia --
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa percaya ekonomi Indonesia bisa tumbuh 6 persen year on year (yoy) pada 2026. Pasalnya, ia telah menyalakan mesin ekonomi sejak menjabat September lalu.
Mesin pendorong itu mulai dari penempatan uang negara di bank pelat merah lebih dari Rp200 triliun hingga beragam insentif fiskal lainnya.
"Sekarang saya kan sedang hidupkan semua mesin ekonomi. Fiskal sudah mulai jalan, moneter sudah semakin sinkron, iklim investasi akan diperbaiki. Saya tetap melihat 6 persen bukan angka yang mustahil untuk 2026, walaupun asumsi kita di 5,4 persen," ujar Purbaya dalam Konferensi Pers APBN Kita di Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, Kamis (18/12).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lantas, apakah 'mimpi' Purbaya bisa terwujud tahun depan?
Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Riza A Pujarama skeptis dengan keyakinan Purbaya. Ia mewanti-wanti ketidakpastian global yang masih tinggi masih terjadi tahun depan.
Kondisi tersebut bakal menekan ekspor, arus modal, dan nilai tukar.
Tantangan lain juga datang dari sisi domestik. Ia mencontohkan bagaimana mesin-mesin pertumbuhan ekonomi masih belum bertransformasi.
"Untuk pertumbuhan 6 persen, nampaknya masih sulit tercapai di 2026," ucap Riza kepada CNNIndonesia.com, Rabu (24/12) lalu.
"Pertumbuhan ekonomi masih bergantung pada konsumsi rumah tangga, sementara sektor ini nampaknya masih akan tertekan karena harga energi dan pangan serta daya beli yang belum pulih sepenuhnya," jelasnya.
Peneliti Institute for Demographic and Affluence Studies (IDEAS) Muhammad Anwar punya pandangan serupa. Ia mengatakan risiko global yang berat muncul dari ketidakpastian geopolitik, perlambatan ekonomi, hingga fragmentasi perdagangan internasional.
Di lain sisi, rendahnya kualitas dan kuantitas lapangan kerja bermutu juga mengganjal. Anwar menyebut pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi kerap tidak sejalan dengan penciptaan pekerjaan berkualitas atau peningkatan upah nyata.
Ia melihat yang menyerap banyak tenaga kerja sering kali adalah sektor dengan nilai tambah rendah. Pada akhirnya, pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) tinggi tak otomatis tercermin dalam kesejahteraan rakyat luas.
"Melihat kondisi ekonomi Indonesia saat ini dan proyeksi berbagai lembaga internasional serta domestik, mencapai pertumbuhan ekonomi 6 persen di 2026 secara realistis sangat berat dan berada di luar konsensus umum banyak analis ekonomi," tegasnya.
Bersambung ke halaman berikutnya...

17 hours ago
3



















