CNN Indonesia
Kamis, 21 Mei 2026 01:00 WIB
Ilustrasi. Berdasarkan studi terbaru, dilaporkan bahwa kekerasan yang terjadi di masa kecil meningkatkan risiko penyakit serius seperti kanker di kemudian hari. (PDPics/Pixabay)
Jakarta, CNN Indonesia --
Kekerasan yang terjadi pada masa anak-anak kerap dikaitkan dengan luka emosional, gangguan mental, hingga masalah hubungan ketika mereka dewasa. Namun, temuan dalam studi terbaru menunjukkan dampaknya bisa jauh dari itu.
Pengalaman pahit di masa kecil dilaporkan dapat meningkatkan risiko penyakit serius seperti kanker di kemudian hari.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dikutip dari laman Everyday Health, peneliti dari Kanada menemukan bahwa orang dewasa lanjut yang mengalami kekerasan saat kecil memiliki risiko kanker yang lebih tinggi. Risiko paling tinggi terlihat pada korban kekerasan seksual berat yang melibatkan ancaman, paksaan, atau kekerasan fisik.
Mereka yang mengalaminya hampir dua kali lebih mungkin melaporkan diagnosis kanker dibandingkan mereka yang tidak mengalami kekerasan serupa.
"Studi ini adalah bagian dari bukti yang semakin kuat bahwa apa yang terjadi di masa kecil kita sangat penting," ujar peneliti utama di AIR, Katie Ports.
Ports menyebut kondisi kesehatan seseorang banyak dipengaruhi oleh pengalaman yang dialami sejak kecil.
"Pengalaman masa kecil, baik positif maupun negatif, menjadi fondasi bagi kesehatan dan kesejahteraan di masa depan," ujarnya.
Penelitian tersebut menghimpun data dari 2.636 warga Kanada berusia 65 tahun ke atas yang mengikuti survei nasional terkait kesehatan mental dan akses layanan kesehatan.
Para partisipan merupakan penyintas berbagai bentuk pengalaman buruk di masa kecil, di antaranya kekerasan fisik, paparan kekerasan dalam rumah tangga orang tua, serta kekerasan seksual.
Khusus kekerasan seksual, peneliti membaginya menjadi dua kategori, yakni 1) sentuhan seksual yang tidak diinginkan dan 2) kekerasan seksual berat yang melibatkan paksaan, ancaman, penahanan, atau kekerasan fisik.
Untuk memastikan hasil yang lebih akurat, peneliti juga mempertimbangkan faktor lain yang dapat memengaruhi risiko kanker.
Faktor tersebut meliputi jenis kelamin, ras, status imigran, status pernikahan, pendidikan, pendapatan, kebiasaan, hingga kondisi kesehatan lainnya.
Berdasarkan variabel tersebut, hasilnya sekitar 21 persen partisipan dilaporkan pernah didiagnosis kanker. Angka ini meningkat pada mereka yang pernah mengalami kekerasan di masa kecil.
Kemudian pada partisipan yang pernah menyaksikan kekerasan dalam rumah tangga orang tua, prevalensi kanker mencapai 27 persen.
Sementara itu, pada korban dengan kekerasan fisik mencapai 28 persen. Dan, risiko tertinggi dengan diagnosis kanker ditemukan pada korban kekerasan seksual berat mencapai 35,5 persen.
Awalnya, para peneliti menduga keterkaitan antara kekerasan masa kecil dan kanker dapat dijelaskan oleh pola hidup serta kondisi saat dewasa, seperti pendidikan yang lebih rendah, pendapatan terbatas, kebiasaan merokok, hingga ketergantungan alkohol atau obat-obatan.
"Namun, ketika semua faktor ini diperhitungkan dalam analisis, hasilnya tidak banyak berubah. Hubungan antara kekerasan seksual masa kecil dan kanker tetap terlihat sama. Ini menunjukkan bahwa faktor-faktor tersebut bukan penjelasan utama," ujar profesor di Universitas Toronto, Esme Fuller-Thomson.
Bagaimana trauma masa kecil meningkatkan risiko kanker?
Para peneliti menilai, pengalaman traumatis dapat memengaruhi cara tubuh merespons stres, serta mengganggu sistem kekebalan dan peradangan. Jika hal ini berlangsung lama, diduga turut meningkatkan risiko berbagai penyakit, termasuk kanker.
"Pengalaman traumatis berulang dapat memicu toxic stress atau stres beracun, yakni kondisi ketika tubuh terus berada dalam mode siaga tinggi," jelas Ports.
"Ketika otak terus-menerus fokus menghadapi stres, hal ini dapat mengganggu perkembangan lain, seperti sosial, emosional, kognitif, serta respons fisiologis," imbuhnya.
Dampaknya bisa meluas, mulai dari perubahan ekspresi gen, fungsi otak, sistem imun, hingga cara seseorang merespons stres sepanjang hidupnya.
Fenomena ini dikenal sebagai biological embedding, yaitu ketika pengalaman masa kecil tertanam dalam sistem biologis tubuh.
"Perubahan jalur antara trauma masa kecil dan kanker mungkin disebabkan oleh fenomena yang disebut biological embedding," kata Fuller-Thomson.
Orang dewasa yang mengalami kekerasan saat kecil cenderung memiliki tingkat peradangan kronis lebih tinggi. Perubahan jangka panjang pada hormon stres, sistem imun, dan respons peradangan ini diduga berkontribusi terhadap meningkatnya risiko penyakit di kemudian hari.
Temuan ini pun sejalan dengan berbagai penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa kekerasan seksual di masa kecil berkaitan dengan berbagai masalah kesehatan di usia dewasa, seperti penyakit jantung, strok, asma, diabetes, depresi, hingga disabilitas.
Meski demikian, peneliti menegaskan bahwa bukan berarti semua penyintas kekerasan di masa kecil pasti akan terkena kanker.
"Sebagian besar penyintas tidak mengalami kanker. Penelitian ini hanya menjelaskan tentang risiko, bukan hal yang pasti," ujar Fuller-Thomson.
(fef)
Add
as a preferred source on Google

4 hours ago
2















