Serapan Kata Prancis yang Kerap Tabu di RI, 'Dibumikan' Tan Malaka

1 hour ago 3

Jakarta, CNN Indonesia --

Dalam lawatannya ke Prancis, Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto bertemu dengan Presiden Emmanuel Macron di Paris, Kamis pekan lalu.

Di hadapan Macron, Prabowo juga meminta seluruh tingkatan sekolah di Indonesia untuk memasukkan mata pelajaran Bahasa Prancis.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Sekarang, saya sudah instruksikan bahwa semua tingkatan sekolah-sekolah Indonesia harus belajar bahasa Prancis," kata Prabowo.

Prabowo menyatakan di tengah ketidakpastian global, mempelajari bahasa Prancis pasti akan berguna ke depan.

Bahasa Prancis juga banyak mempengaruhi Bahasa Indonesia sejak lama. Beberapa istilah sehari-hari berasal dari negeri Napoleon Bonaparte itu seperti 'kado', 'sado' dan 'kudeta'.

Bahkan istilah kudeta (coup d'etat) menjadi kosa kata yang kerap tabu bagi politik di negara-negara termasuk Indonesia karena bermakna perebutan atau penggulingan kekuasaan.

Laman study.com menulis, secara harfiah, coup d'etat atau dibaca kudeta, terdiri dari coup berarti "pukulan", "serangan", atau "gebrakan".

Sedangkan État berarti "negara". Istilah ini secara historis mulai populer setelah aksi perebutan kekuasaan politik yang dilakukan oleh Napoleon Bonaparte pada tahun 1799.

Sedangkan di Indonesia menurut kamus Bahasa Indonesia, secara politik pertama kali digunakan di Indonesia pada 3 Juli 1946.

Peristiwa ini dikenal dengan sebutan "Kudeta Persatuan Indonesia" (atau Peristiwa 3 Juli 1946).

Percobaan pengambilalihan kekuasaan (kudeta) pertama di Indonesia yang dilakukan oleh kelompok oposisi radikal (Persatuan Perjuangan) di bawah Tan Malaka, yang menculik Perdana Menteri Sutan Sjahrir.

Presiden Sukarno menolak tuntutan mereka dan peristiwa ini berhasil digagalkan.

Istilah kudeta muncul kembali pada 1965-1966, dalam pusaran politik besar saat terjadi penculikan dan pembunuhan para jenderal pada malam 30 September 1965 (G30S).

Peristiwa ini memicu transisi kekuasaan dari Presiden Sukarno ke Mayjen Soeharto yang sering disebut sebagai "kudeta merangkak".

Istilah kudeta kemudian menjadi kosa kata paling menakutkan terutama dalam dinamika politik, sebab bisa berarti juga merebut posisi atau jabatan yang tidak hanya presiden.

Bisa saja jabatan ketua partai atau jabatan sejenis.

Dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP), tindakan yang berupaya menggulingkan pemerintah yang sah dikategorikan sebagai tindak pidana makar.

(imf/bac)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Koran | News | Luar negri | Bisnis Finansial