Endro Priherdityo
Dari aspek visual magrib hingga cerita yang menantang otak, Legenda Kelam Malin Kundang jelas bukan film untuk rehat dari suramnya dunia.
Jakarta, CNN Indonesia --
Hal pertama yang saya sadari saat menyaksikan Legenda Kelam Malin Kundang adalah film "Malin" ini merupakan dongeng yang kemudian 'ditulis' ulang dalam format yang lebih rasional dan kausal.
Lupakan imajinasi sosok pria kaya dan congkak yang menghina juga tidak mengakui ibunya, kemudian ibunya sakit hati dan mengutuk anaknya itu menjadi batu seperti pada kisah penuturan ibu dan nenek kita dulu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di tangan Joko Anwar, Aline Djayasukmana, Rafki Hidayat, kisah itu menjadi jauh lebih gelap, tidak nyaman, dan jelas merupakan sebuah hukum sebab-akibat yang tidak bisa diurai hanya dari satu aspek.
Mereka bertiga mengubah kisah dongeng anak-anak menjadi problem personal yang berkaitan dengan masalah sosial, dengan akar yang jauh lebih ruwet dibanding sekadar anak 'durhaka' kepada ibunya.
Rafki yang juga duduk di kursi sutradara bersama Kevin Rahardjo mengubah rasa tidak nyaman itu dalam bentuk visual, dibantu dengan Ical Tanjung dari balik kamera.
Bila memang tujuan Rafki dan Kevin adalah menyajikan psychological thriller yang tidak nyaman demi menggambarkan yang dirasakan Rio Dewanto sebagai Alif, maka saya rasa misi itu berhasil.
Tangan dingin Ical benar-benar membuat suasana dunia Alif benar-benar dingin, suram, dan gelap, nyaris sepanjang film ini diputar. Untuk beberapa bagian bahkan membuat mata saya pening seperti yang dialami Alif saat satu per satu ingatannya muncul.
Review Legenda Kelam Malin Kundang: Di tangan Joko Anwar, Aline Djayasukmana, Rafki Hidayat, kisah Malin Kundang menjadi jauh lebih gelap, tidak nyaman, dan jelas merupakan sebuah hukum sebab-akibat yang tidak bisa diurai hanya dari satu aspek.: (dok. Come and See Pictures via YouTube)
Apalagi duet Rafki dan Kevin bersama Ical banyak menggunakan shoot medium dan close up hingga saya bisa melihat pori-pori Rio di layar lebar, serta permainan teknik blur demi menyamai sudut pandang Alif yang membuat makin tidak nyaman.
Jujur saja saya bukan penggemar berat film dengan teknik dan sajian macam suasana magrib mendung seperti ini. Ditambah dengan teka-teki yang merangsang otak untuk berpikir, jelas "Malin" bukan tontonan bagi mereka yang ingin 'rehat' dari suramnya dunia.
Bahkan menurut saya "Malin" menampilkan dunia yang bisa menjadi sangat suram untuk anak dan perempuan. Satu pengingat saya, masalah yang ditampilkan dalam film ini mungkin bisa menjadi trigger bagi sebagian pihak.
Meski begitu, saya mengapresiasi interpretasi kisah dongeng ini menjadi film yang memotret masalah sosial yang kompleks. Mungkin ini seperti kisah The Wizard of Oz yang dulu terlihat magical, kemudian saat pecahannya digarap dalam bentuk Wicked, menjadi terasa penuh isu politis.
Seperti yang pernah diucap Rafki dalam sebuah wawancara, interpretasi ulang kisah Malin Kundang dalam film ini pun memantik pertanyaan dan pemikiran ulang dalam diri saya atas asal-muasal kisah dongeng tersebut, serta hubungan kuasa antara anak dan orang tua yang pada zaman edan ini makin bisa berbuah tindakan di luar nalar akal.
Review film: Legenda Kelam Malin Kundang menjadi panggung sempurna bagi Rio Dewanto untuk menampilkan kemampuannya sebagai aktor utama. (dok. Come and See Pictures via YouTube)
Bicara soal 'edan', Rafki dan Kevin sukses memotret ketimpangan di Jakarta, serta syuting di kampung kolong bawah tol yang saya yakin tidak mudah untuk dilakukan. Untuk sesaat saya merasa Jakarta tidak beda dengan Mumbai dalam film Slumdog Millionaire (2008).
Dan sebenarnya aksi merekam ketimpangan Jakarta tersebut juga penting untuk dilakukan lebih banyak sineas lokal, baik sebagai kritik sosial atau sekadar memotret situasi faktual dari masyarakat.
Namun memang, sebagai film yang ikut ditulis Joko Anwar, Legenda Kelam Malin Kundang bukanlah film terbaik dari sineas dan penulis tersebut. Gaya khas Jokan sangat jelas terasa dalam film ini meski ia tak duduk di kursi sutradara dan naskahnya ikut ditulis oleh orang lain.
Saya lebih melihat "Malin" sebagai proyek Jokan untuk mencoba melahirkan penulis dan sutradara baru lainnya, mengingat film ini adalah film panjang pertama Rafki dan Kevin. Maka dari itu, wajar rasanya bila pengaruh Jokan sebagai mentor sangat terasa dalam film ini.
Akan tetapi, rasanya menjadi tidak adil bila ada bayang-bayang orang lain yang mengikuti hasil kerja keras duo ini dalam menggarap film panjang pertama. Hal ini yang membuat saya penasaran untuk melihat karya murni seutuhnya dari Rafki dan Kevin.
Yang jelas, Legenda Kelam Malin Kundang menjadi panggung sempurna bagi Rio Dewanto untuk menampilkan kemampuannya sebagai aktor utama. Saya sadari, naskah film ini tidak mudah untuk Rio dan dia jelas berusaha keras menaklukkan hal tersebut.
Seandainya film ini tayang sebelum pendaftaran Festival Film Indonesia 2025 ditutup, Rio Dewanto mungkin memiliki peluang untuk masuk nominasi Pemeran Utama Pria Terbaik, nominasi yang terakhir kali ia terima pada kurang lebih 10 tahun lalu.
Namun bisa jadi Rio Dewanto masih memiliki kejutan penampilan lainnya pada 2026 mendatang, seperti kejutan yang ia tampilkan dalam Legenda Kelam Malin Kundang.
(end)

54 minutes ago
1































