Jakarta, CNN Indonesia --
Wakil Presiden Venezuela Delcy Rodriguez menjadi pemimpin interim negara itu setelah Presiden Nicolas Maduro ditangkap Amerika Serikat dan ditahan di Negeri Paman Sam.
Rodriguez dikenal dengan retorika anti-imperialisnya hingga Maduro memberinya julukan "si harimau betina".
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rodriguez menjadi ancaman terbaru Presiden Donald Trump setelah berhasil menggulingkan Maduro. Sebab, tampaknya, Rodriguez tidak mudah manut terhadap "keinginan" Trump, yang sempat mengutarakan berniat memerintah Venezuela dan mengambil cadangan minyak negara itu.
Trump bahkan mengancam Rodriguez akan bernasib lebih buruk dibandingkan Maduro jika tidak bertindak sejalan dengan "keinginan AS".
"Jika [Delcy Rodriguez] tidak melakukan hal yang benar, dia akan membayar harga yang sangat besar, mungkin lebih besar daripada Maduro," kata Trump dalam wawancaranya dengan majalah The Atlantic, seperti dikutip Al Jazeera.
Sebagai pembela garis keras Maduro, Rodriguez kini berupaya menampilkan diri sebagai figur yang stabil untuk memimpin transisi politik negara itu.
Berusia 56 tahun dan berlatar belakang pengacara, Rodriguez telah mengabdi di pemerintahan berturut-turut di bawah Maduro dan pendahulunya yang berhaluan keras, Hugo Chavez, termasuk sebagai menteri luar negeri.
Menjabat wakil presiden sejak 2018, ia juga merangkap menteri hidrokarbon pada 2024, salah satu pos strategis di negara yang ekonominya bergantung pada ekspor minyak ini.
Venezuela memiliki cadangan minyak terbukti terbesar di dunia, dan Presiden AS Donald Trump telah menegaskan bahwa memulihkan akses ke kekayaan tersebut merupakan tujuan utama tekanan dan operasi militernya di negara Amerika Latin tersebut.
"Ia (Rodriguez) kemungkinan adalah salah satu orang paling dipercaya Maduro selama bertahun-tahun," kata analis politik Pedro Benitez dari Universitas Pusat Venezuela kepada AFP.
Beberapa jam setelah penangkapan Maduro, Rodriguez menegaskan bahwa Maduro tetap merupakan "satu-satunya presiden" Venezuela, menuntut pembebasannya, dan menyatakan pemerintah di Caracas siap "membela" negara.
Mahkamah Agung Venezuela kemudian memerintahkan Rodriguez mengambil alih kewenangan presiden "dalam kapasitas sementara". Ini menjadikannya perempuan pertama yang memegang jabatan tertinggi di negara itu, meski sementara.
Pada Minggu, militer Venezuela pun mengakui Rodriguez sebagai pemimpin sementara negara tersebut menyusul penangkapan Maduro oleh AS.
Rodriguez sendiri masih berada di bawah sanksi AS dan Eropa atas dugaan merongrong demokrasi dan berkontribusi pada pelanggaran HAM.
Ilmuwan politik Benigno Alarcon mengatakan kepada AFP bahwa meski Rodriguez masih perlu dilantik secara resmi, ia "pada praktiknya sudah" menjadi presiden.
"Itulah realitasnya... dialah yang tersisa memegang kendali-untuk saat ini," paparnya.
(rds)

17 hours ago
4



















