CNN Indonesia
Selasa, 19 Mei 2026 14:15 WIB
Ilustrasi. Jepang tengah mengembangkan obat yang disebut-sebut dapat membantu manusia menumbuhkan gigi baru secara alami. (Istockphoto/LuckyBusiness)
Jakarta, CNN Indonesia --
Jepang tengah mengembangkan obat yang disebut-sebut dapat membantu manusia menumbuhkan gigi baru secara alami.
Teknologi ini dikembangkan untuk pasien dengan congenital tooth agenesis, yakni kondisi bawaan lahir ketika seseorang tidak memiliki sebagian gigi permanen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berbeda dari implan atau gigi palsu, terapi ini mencoba merangsang tubuh untuk menumbuhkan gigi baru secara alami.
Pengembangan obat tersebut kembali menjadi perhatian setelah sejumlah penelitian terbaru dari Jepang menunjukkan uji klinis regenerasi gigi pada manusia kini sedang berlangsung.
Mengutip Science Direct, penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Oral Biosciences 2026 ini memantau uji klinis regenerasi gigi permanen menggunakan antibodi anti-USAG-1 atau TRG035.
Dalam studi tersebut, TRG035 dikembangkan sebagai terapi regenerasi gigi yang menargetkan langsung mekanisme biologis pembentukan gigi. Peneliti menggunakan teknologi MRI dan CT scan untuk memantau terbentuknya tooth germ atau bakal calon gigi baru selama proses uji klinis berlangsung.
Sederhananya, terapi ini dirancang untuk 'membangunkan' bibit gigi yang sebelumnya tidak berkembang agar dapat tumbuh menjadi gigi baru.
Pengembangan obat penumbuh gigi ini sebenarnya telah diteliti dalam beberapa tahun terakhir. Salah satunya melalui studi Development of a new antibody drug to treat congenital tooth agenesis oleh Katsu Takahashi dan tim peneliti Jepang.
Dalam penelitian tersebut, ilmuwan menjelaskan terapi menggunakan antibodi anti-USAG-1 dikembangkan untuk merangsang pertumbuhan gigi baru secara alami.
USAG-1 merupakan protein yang diketahui berperan menghambat pertumbuhan gigi. Dengan menekan protein tersebut menggunakan antibodi khusus, peneliti berharap bibit gigi yang sebelumnya tidak berkembang dapat kembali aktif dan tumbuh menjadi gigi baru.
Penelitian ini terutama ditujukan bagi pasien dengan congenital tooth agenesis. Kondisi tersebut dapat memengaruhi kemampuan mengunyah, berbicara, hingga rasa percaya diri karena seseorang lahir tanpa beberapa gigi permanen.
Pengembangan obat ini telah melewati tahap uji pada hewan sebelum akhirnya memasuki fase uji klinis pada manusia.Meski begitu, teknologi regenerasi gigi ini masih membutuhkan penelitian lanjutan untuk memastikan keamanan dan efektivitasnya sebelum dapat digunakan secara luas.
Jika berhasil, terapi ini berpotensi menjadi salah satu terobosan besar di dunia kedokteran gigi karena memungkinkan manusia menumbuhkan gigi baru tanpa prosedur implan.
(anm/asr)
Add
as a preferred source on Google

1 hour ago
1




























