Menhan Ungkap Awal Mula AS Sempat Minta Izin Terbang Lintasi Indonesia

1 hour ago 2

Jakarta, CNN Indonesia --

Menteri Pertahanan (Menhan) Sjafrie Sjamsoeddin mengungkap awal mula Amerika Serikat (AS) mengajukan permintaan overflight access atau izin melintas di wilayah udara Indonesia.

Ia mengatakan permintaan itu pertama kali disampaikan Menteri Perang AS dalam pertemuan empat mata pada forum ASEAN Defence Ministers' Meeting (ADMM) Plus tahun 2025.

"Jadi pada saat ketemu saya, bilateral, dia bilang 'Menteri Pertahanan Indonesia, kami dukung pembangunan kekuatan pertahanan di Indonesia," kata Sjafrie dalam rapat kerja dengan Komisi I, Selasa (19/5).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sjafrie mengatakan dalam pertemuan tersebut, Menteri Perang AS kemudian menyampaikan permintaan agar AS bisa melintas wilayah Indonesia untuk kepentingan tertentu yang mendesak.

"Dia bilang begini, 'Pak Menhan, boleh nggak? Boleh enggak Amerika itu melintas wilayah Indonesia? Boleh enggak melintas wilayah Indonesia apabila kami ingin melintas untuk keperluan-keperluan tertentu yang mendesak? Akan tetapi kami akan ikuti peraturan yang Anda keluarkan.' Itu diucapkan secara lisan kepada saya," kata Sjafrie.

Sjafrie mengaku tidak langsung memberi jawaban. Ia menjawab akan melaporkan hal itu kepada Presiden Prabowo Subianto selaku Panglima Tertinggi TNI.

"Jadi saya jawab Pak Menteri, walaupun ada harapan, tapi saya akan lapor kepada Presiden saya, karena dia adalah Panglima Tertinggi dari Tentara Nasional Indonesia," ucapnya.

Sjafrie mengatakan saat itu Menteri Perang AS juga mengundangnya berkunjung ke AS pada 2026.

Ia mengaku terkejut lantaran pernah terkena larangan masuk AS akibat rekam jejak sebagai prajurit yang pernah bertugas di Timor Timur.

Namun, kata Sjafrie, Menteri Perang AS memastikan larangan tersebut sudah tidak berlaku lagi bagi pasukan khusus Indonesia.

"Dia jawab tidak ada lagi ban-banan. Semua special forces akan kita berikan kesempatan yang sama dengan yang lain. Itu baru tersirat dia cerita sama saya tahun 2025," ujarnya.

Ia menjelaskan pembicaraan kemudian berlanjut pada Februari 2026 ketika AS mengirim special assistant membawa surat dan usulan pembahasan kemungkinan overflight access.

Sjafrie mengatakan hasil pembahasan itu kemudian dituangkan dalam Letter of Intent (LoI) yang diteken saat dirinya berkunjung ke AS beberapa waktu lalu.

"Letter of Intent itu yang pertama adalah menghormati integritas dan kedaulatan teritorial. Yang kedua, diperlukan mekanisme dan standing operating procedures kalau kita setuju. Dan konsisten dengan hukum dari masing-masing negara," kata dia.

Sjafrie memastikan tidak membuat komitmen apapun dengan Amerika Serikat terkait udara.

"Ini adalah Letter of Intent. Bukan Letter of Commitment. Jadi kami tidak bikin komitmen apa-apa dengan Amerika Serikat dalam hal udara. Tidak. Kami mempertahankan konstitusi dan kami mempertahankan kita punya kepentingan nasional," kata dia.

(fra/yoa/fra)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Koran | News | Luar negri | Bisnis Finansial