CNN Indonesia
Selasa, 26 Mei 2026 02:00 WIB
Ilustrasi. Gelatin sering dikaitkan dengan kesehatan usus berkat berbagai asam amino di dalamnya yang bisa mendukung kesehatan saluran pencernaan. (iStockphoto/bhofack2)
Jakarta, CNN Indonesia --
Mengonsumsi gelatin secara rutin digadang-gadang dapat memperkuat lapisan pelindung di saluran pencernaan dan mendukung proses pencernaan yang lebih sehat. Namun, apakah klaim tersebut benar-benar didukung oleh bukti ilmiah?
Selain itu, apa sebenarnya manfaat gelatin bagi kesehatan usus dan seberapa besar pengaruhnya terhadap kondisi saluran cerna kita?
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Apa itu gelatin dan asal-usulnya?
Mengutip Healthline, gelatin merupakan produk protein yang berasal dari kolagen, yaitu protein paling melimpah di tubuh manusia maupun hewan.
Kolagen itu sendiri tersebar hampir di seluruh bagian tubuh, terutama di kulit, tulang, tendon, dan ligamen. Fungsi utamanya adalah memberikan kekuatan dan struktur pada jaringan tubuh. Misalnya, kolagen meningkatkan elastisitas kulit dan kekuatan tendon.
Namun, mengonsumsi kolagen secara langsung cukup sulit karena biasanya terkandung dalam bagian-bagian hewan yang kurang enak dimakan.
Oleh karena itu, proses memasak kolagen akan mengubahnya menjadi gelatin, yang lebih mudah dikonsumsi dan memiliki profil asam amino yang unik. Gelatin terdiri dari berbagai asam amino, seperti glisin dan prolin, yang dikenal memiliki potensi manfaat kesehatan.
Adapun gelatin komersial yang dijual di pasaran diekstrak dari hewan ternak, seperti sapi, pada bagian kulit, tulang, dan jaringan ikat. Dalam industri pangan, gelatin biasa digunakan sebagai bahan baku permen lunak, jeli, dan es krim.
Apakah gelatin baik untuk kesehatan usus?
Ahli nutrisi Morgan Pearson mengatakan, memang sudah banyak penelitian yang mengaitkan gelatin dengan kesehatan usus.
Berbagai asam amino yang ada dalam gelatin dianggap berpotensi mendukung kesehatan saluran pencernaan, terutama dalam memperkuat lapisan pelindung di dinding usus.
Lapisan usus yang sehat sangat penting karena berfungsi sebagai penghalang yang mencegah masuknya zat-zat berbahaya ke dalam aliran darah dan menjaga keseimbangan mikroorganisme di dalamnya.
Beberapa studi menunjukkan, asam amino seperti glisin dapat membantu mengatur peradangan dan mendukung integritas protein yang menjaga struktur lapisan usus.
Selain itu, ada pula gelatin bentuk lain yang disebut sebagai gelatin tanat. Jenis ini digunakan dalam dunia medis.
Cara kerja gelatin tanat, yakni dengan membentuk lapisan pelindung di atas lapisan usus. Hal ini dapat membantu mengurangi gejala seperti diare dan ketidaknyamanan perut.
Namun gelatin tanan merupakan formulasi farmasi yang spesifik, bukan yang ditemukan dalam makanan ataupun suplemen.
Bukti ilmiah masih terbatas
Di sisi lain, Pearson mengingatkan konsumen agar menjaga ekspektasi tetap realistis. Menurutnya, bukti kuat manfaat gelatin makanan pada manusia masih terbatas.
"Sebagian besar penelitian tentang senyawa terkait gelatin telah dilakukan pada hewan atau di laboratorium, dan hasilnya tidak selalu dapat diterapkan langsung pada kehidupan nyata manusia," tulis Pearson di laman Verywell Health.
Ia melanjutkan, meski manfaat yang diusulkan masuk akal, gelatin tidak dianggap sebagai intervensi kesehatan usus yang terbukti.
"Banyak ahli nutrisi memandangnya sebagai tambahan pendukung terbaik, bukan strategi berbasis bukti untuk meningkatkan kesehatan usus," kata Pearson lagi.
Ketimbang fokus pada satu jenis makanan, Pearson menyarankan untuk lebih memperhatikan pola makan keseluruhan.
Jika ingin menjaga kesehatan usus, bisa mulai dari mengonsumsi cukup serat. Serat dapat memberi makanan pada bakteri baik di usus, lalu bakteri ini menghasilkan senyawa yang membantu jaga lapisan usus.
Mengonsumsi berbagai sumber makanan nabati juga mendukung mikrobioma jadi lebih beragam yang bisa jadi fungsi penghalang usus. Selain itu, asupan protein juga penting untuk perbaikan jaringan tubuh secara keseluruhan.
"Faktor gaya hidup sama pentingnya. Kurang tidur dan stres kronis dapat memengaruhi fungsi usus dan dapat melemahkan penghalang usus seiring waktu," kata Pearson.
(rti)
Add
as a preferred source on Google

1 hour ago
1

















