UEA Pernah Bujuk Saudi hingga Qatar Sama-sama Serang Iran

2 hours ago 1

Jakarta, CNN Indonesia --

Uni Emirat Arab (UEA) dilaporkan sempat membujuk Arab Saudi dan Qatar ikut bergabung melancarkan serangan balasan terhadap Iran ketika Teheran vs Amerika Serikat berperang sejak 28 Februari lalu.

Ajakan itu muncul lantaran negara Arab terutama UEA turut menjadi sasaran serangan balasan Iran terhadap AS karena menampung pangkalan militer dan situs Negeri Paman Sam lainnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut laporan The Telegraph, Presiden UEA Sheikh Mohamed bin Zayed Al Nahyan dilaporkan sempat meminta Saudi dan Qatar untuk ikut bergabung dalam serangan balasan terhadap Iran di masa awal perang. Namun upaya tersebut tidak berhasil.

Kemudian, pada awal April, UEA disebut melancarkan serangan terhadap beberapa target Iran, termasuk Pulau Lavan, berdasarkan laporan terpisah yang belum pernah dikonfirmasi secara resmi oleh negara tersebut.

Selain UEA, Saudi juga dilaporkan turut melancarkan "banyak" serangan udara terhadap Iran pada akhir Maret.

The Telegraph melaporkan hubungan UEA dengan Israel yang telah dinormalisasi melalui Abraham Accords pada 2020 justru semakin mesra selama perang AS-Iran berlangsung.

Sementara itu, negara Arab lainnya justru berupaya menjaga jarak dengan AS dan Israel lantaran menghindari jadi sasaran serangan balasan Iran lebih lanjut.

Terungkap pula bahwa Israel mengirim sistem pertahanan udara Iron Dome ke UEA untuk membantu menghadapi gempuran Iran.

Kantor Perdana Menteri Israel turut mengungkap PM Benjamin Netanyahu melakukan kunjungan rahasia ke Abu Dhabi pada Maret lalu ketika perang AS-Iran baru-baru pecah. Saat itu, keberadaan PM Netanyahu memang dipertanyakan lantaran tidak terlacak dan muncul ke publik untuk beberapa waktu.

Tel Aviv mengeklaim kunjungan Netanyahu ke Abu Dhabi menghasilkan "terobosan signifikan". Namun, Abu Dhabi membantah pernyataan itu dan menegaskan kunjungan Netanyahu tidak pernah terjadi.

Menyusul laporan-laporan tersebut, Iran pekan ini menyebut UEA sebagai pengkhianat dan menilai Abu Dhabi sebagai "mitra aktif dalam agresi AS-Israel".

UEA kemudian membalas dengan menyatakan pihaknya menolak "upaya membenarkan serangan teroris Iran". Namun, Abu Dhabi menegaskan tetap memiliki "seluruh hak kedaulatan, hukum, diplomatik, dan militer untuk menghadapi ancaman, klaim, maupun tindakan bermusuhan".

Perang Iran vs AS bikin UEA-Israel makin mesra

Peneliti dari lembaga kajian pertahanan dan keamanan Royal United Services Institute, Dr. Burcu Ozcelik, mengatakan perang AS vs Iran memang telah "mempercepat poros kerja sama AS-Israel-UEA".

Ketika sejumlah negara Arab lain menunjukkan kemarahan terhadap AS karena memulai perang mahal yang sebenarnya tidak mereka inginkan, UEA justru memperkuat hubungannya dengan Washington dan Israel.

Dr. Ozcelik mengatakan penasihat presiden UEA sekaligus pengkritik keras tindakan Iran, Anwar Gargash, pada April lalu menyatakan bahwa serangan Iran kemungkinan akan "semakin memperkuat" peran Amerika Serikat di kawasan Teluk Persia, "bukan malah menguranginya".

Gargash juga mengatakan pengaruh Israel akan "menjadi semakin menonjol di kawasan Teluk, bukan sebaliknya".

Perpecahan negara Arab makin kentara

Perang AS vs Iran juga dinilai membentuk pandangan UEA yang menganggap dukungan AS dan Israel sangat kontras dengan negara Arab lainnya di kawasan. 

Pejabat UEA disebut menilai negara-negara Arab justru kurang menunjukkan solidaritas di tengah dampak perang AS vs Iran ini.

UEA juga mengeluhkan respons lemah dari organisasi-organisasi regional seperti Liga Arab dan Gulf Cooperation Council selama perang AS vs Iran berlangsung.

Menurut mereka, Pakistan, yang berulang kali mendapat bantuan finansial dari UEA, juga dianggap terlalu lunak terhadap Teheran.

Dr. Ozcelik mengatakan risiko dari poros baru ini bagi UEA adalah semakin dalamnya kerja sama militer dengan Israel dapat membuat negara-negara Arab lain memandang Abu Dhabi sebagai pihak yang ikut terlibat dalam kampanye militer Israel di Gaza.

Bagi Israel sendiri, terdapat risiko terseret dalam kontroversi intervensi regional UEA. Negara Teluk itu dituduh mendukung kelompok pemberontak Rapid Support Forces (RSF) di Sudan, meski UEA membantah mendukung RSF.

(rds)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Koran | News | Luar negri | Bisnis Finansial