Ternyata Diet Intermittent Ubah Kerja Otak, Ini Buktinya

6 hours ago 2

CNN Indonesia

Rabu, 03 Jun 2026 09:00 WIB

Riset menemukan diet intermittent ubah kerja otak. Ilustrasi. Riset menemukan diet intermittent ubah kerja otak. (Getty Images/Sasithorn Phuapankasemsuk)

Jakarta, CNN Indonesia --

Strategi intermittent diet ampuh menurunkan berat badan bagi sebagian orang. Namun dalam riset terbaru, rupanya strategi ini menawarkan lebih dari itu. Ternyata diet intermittent ubah kerja otak. Seperti apa?

Intermittent diet atau intermittent energy restriction (IER) ditemukan tidak hanya menurunkan berat badan tapi juga mengubah kinerja otak. Penelitian yang diterbitkan pada 2023 menemukan tipe diet ini dapat mengubah hubungan antara bakteri usus dan aktivitas otak berkaitan dengan nafsu makan dan perilaku makan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Di sini kami menunjukkan bahwa diet IER mengubah poros otak-usus-mikrobioma manusia," kata salah satu penulis studi dan peneliti di Institut Manajemen Kesehatan Rumah Sakit Umum PLA di Beijing Qiang Zeng seperti dikutip dari Science Daily.

"Perubahan yang diamati pada mikrobioma usus dan aktivitas di wilayah otak yang terkait dengan kecanduan selama dan setelah penurunan berat badan sangat dinamis dan saling terkait dari waktu ke waktu."

Diet intermittent ubah kerja otak

Peneliti mempelajari 25 orang dewasa dengan obesitas di China. Mereka berusia rata-rata 27 tahun dengan Indeks Massa Tubuh (IMT) antara 28-45.

Tim mengecek dan menganalisis sampel tinja, darah, juga aktivitas otak. Menggunakan functional magnetic resonance imaging (fMRI), peneliti melihat aktivitas wilayah otak yang terlibat dalam nafsu makan, emosi, perhatian, pembelajaran, inhibisi, dan penghargaan.

Studi pun dimulai dengan fase puasa terkontrol tinggi selama 32 hari. Selama periode ini, peserta mengonsumsi makanan yang sudah dirancang ahli gizi. Asupan kalori secara bertahap dikurangi hingga sekitar seperempat dari kebutuhan energi dasar.

Setelah itu, peserta menjalani puasa terkontrol rendah selama 30 hari. Peserta diberi daftar rekomendasi makanan dan mengikuti petunjuk makan hingga memenuhi 500 kalori per hari untuk wanita dan 600 kalori per hari untuk pria.

Di akhir intervensi, berat badan peserta turun rata-rata 7,6 kg atau sekitar 7,8 persen dari berat badan awal. Selain itu, terjadi perbaikan metabolisme mulai dari penurunan glukosa, kolesterol total, dan tekanan darah.

Kemudian yang cukup mengejutkan diet intermittent ubah kerja otak.

Program ini berkaitan dengan aktivitas lebih rendah di beberapa wilayah otak yang berkaitan dengan nafsu makan dan perilaku terkait kecanduan. Perubahan ini menjelaskan kenapa diet tidak hanya memengaruhi ukuran tubuh tapi juga keinginan makan, pengendalian diri, dan dorongan makan.

Di saat yang sama, mikrobioma usus bergeser. Ditemukan Faecalibacterium prausnitzii, Parabacteroides distasonis, dan Bacterokles uniformis meningkat tajam. Sementara E.coli menurun.

E.coli kemudian Coprococcus, dan Eubacterium hallii dalam jumlah tinggi berasosiasi negatif girus frontal inferior orbital kiri otak. Wilayah otak ini berkaitan dengan fungsi eksekutif dan kemauan selama penurunan berat badan.

(els)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Koran | News | Luar negri | Bisnis Finansial