Jakarta, CNN Indonesia --
Salah satu legenda Timnas Indonesia, Riono Asnan meninggal dunia di RSUD Sidoarjo, tepat pukul 17.55 WIB, Rabu (4/3).
Riono lahir dari keluarga sepak bola. Rumahnya dekat Tambaksari, yang dulu menjadi markas Persebaya. kakak dan adik Riono juga menjadi pemain bola berbakat.
Selain Riono, ada Hartono Asnan, Ketip Suritno, Sutrisno Asnan, dan Margono Asnan. Hartono juga legenda Timnas yang pernah membela klub Hong Kong, Mackinnons, bersama Risdianto.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat masih belia, Riono bergabung dengan Indonesia Muda, Surabaya. Ia kemudian masuk daftar pemain Persebaya Surabaya saat tampil dalam Piala Soeratin 1979.
Pada partai final, Riono tampil sebagai starter dan ditempatkan sebagai bek. Gol tunggal kemenangan Persebaya dilesakkan Samsul Arifin ke gawang PSP Padang.
Sukses ini membuat Riono dipinang Persebaya. Ia membela klub berjulukan Bajol Ijo tersebut pada 1976-1978. Salah satu kutipan terkenalnya adalah, "Darahku ijo."
Dari Persebaya, Riono dipinang Niac Mitra, klub Galatama. Ia cuma dua musim bersama Niac Mitra, tetapi sempat menyandang ban kapten. Kualitasnya sangat diakui.
Setelah itu Riono membela Tunas Inti pada 1980-1982. Saat berada di Tunas Inti ini Riono dipanggil ke Timnas Indonesia. Awalnya membela skuad SEA games 1981.
Ia juga masuk skuad Timnas Indonesia dalam Pra Piala Dunia (PPD) 1982. Riono yang awalnya tidak masuk daftar dalam era kepelatihan Harry Tjong, dipanggil oleh Endang Witarsa.
Pada masa akhir kariernya, Riono membela tim BPD Jateng. Di sini ia menjadi pemain sekaligus asisten pelatih. Joko Malis, pelatih BPD Jateng, yang memberinya kepercayaan.
Setelah itu, sejumlah klub ditangani Riono, seperti Persebaya, PSIS Semarang, Persijap Jepara, Persiku Kudus, Persik Kediri, dan Persid Jember. Persid adalah klub terakhir binaan Riono.
Meski tidak melatih klub profesional, Riono tetap bergerak di sepak bola. Ia terjun di sepak bola akar rumput untuk menyalurkan bakar yang membuat namanya besar.
Kini, pemain yang dikenal tenang, dingin, dan garang sebagai tek tengah atau gelandang ini telah berpulang ke Rumah Allah. Selamat jalan legenda, namanya abdi di Timnas Indonesia.
(abs/nva)

3 hours ago
1



























