CNN Indonesia
Jumat, 09 Jan 2026 13:00 WIB
Ilustrasi. Pernikahan usia muda memiliki risiko serius terutama bagi perempuan. (iStock/saiva)
Jakarta, CNN Indonesia --
Belakangan ini media sosial diramaikan oleh konten nikah muda yang diunggah kreator Azkiave. Keputusannya menikah di usia 19 tahun dengan pasangannya berusia 29 tahun memicu pro dan kontra di ruang publik.
Padahal, pemerintah mengingatkan bahwa pernikahan usia muda menyimpan risiko serius terutama bagi perempuan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut BKKBN, usia menikah ideal bagi perempuan adalah 21 tahun. Saran ini bukan tanpa alasan. Sebab, menikah di bawah usia tersebut dapat menimbulkan berbagai tantangan.
Sementara itu, Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/BKKBN Wihaji menegaskan keputusan menikah di usia sangat muda jarang lahir dari kesiapan utuh. Menurutnya, faktor struktural masih menjadi pendorong utama.
"Pernikahan usia muda lebih sering dipicu oleh kerentanan struktural, seperti ekonomi dan pendidikan, serta tekanan sosial, bukan semata pilihan rasional berbasis kesiapan," kata Wihaji, Kamis (8/1), melansir detikHealth.
Wihaji menekankan, kebijakan pemerintah saat ini tidak hanya berpatokan pada batas usia hukum, melainkan kesiapan mental, kemandirian ekonomi, dan pendidikan sebagai fondasi pernikahan. Ketiganya dinilai krusial untuk melindungi masa depan, khususnya perempuan.
Faktor pendorong nikah muda
Beberapa faktor ini yang mendorong seseorang untuk menikah muda menurut Kemendukbangga/BKKBN.
1. Ekonomi
Tekanan ekonomi keluarga kerap membuat pernikahan dipersepsikan sebagai solusi untuk mengurangi beban orang tua atau mendapatkan penopang finansial.
Namun, dalam banyak kasus, langkah ini justru memperpanjang kerentanan karena pasangan belum memiliki kemandirian ekonomi yang stabil.
2. Pendidikan
Putus sekolah atau terbatasnya akses pendidikan berkorelasi kuat dengan pernikahan usia muda. Semakin rendah tingkat pendidikan, semakin kecil dorongan untuk menunda pernikahan dan merencanakan masa depan jangka panjang.
3. Norma sosial, budaya, dan agama
Di sejumlah komunitas, menikah muda dianggap wajar bahkan ideal demi menjaga norma kesusilaan atau menghindari stigma sosial. Ada pula anggapan bahwa menikah menjadi jalan aman untuk mencegah perilaku yang dianggap menyimpang.
4. Pengaruh relasi dan media sosial
Romantisasi nikah muda melalui pasangan, lingkungan pertemanan, serta konten media sosial membentuk persepsi bahwa menikah di usia 18-19 adalah pilihan aman dan membahagiakan, meski tidak selalu didukung kesiapan mental dan ekonomi.
5. Kehamilan tidak direncanakan
Minimnya literasi kesehatan reproduksi membuat pernikahan sering dipilih sebagai solusi cepat ketika terjadi kehamilan yang tidak direncanakan, tanpa mempertimbangkan dampak jangka panjang bagi perempuan.
"Karena itu, kebijakan negara termasuk Kemendukbangga/.BKKBN menekankan pendidikan, kemandirian ekonomi, dan kesiapan mental sebagai prasyarat menikah, bukan sekadar memenuhi batas usia hukum," ujarnya.
Risiko nikah muda bagi perempuan
Nikah muda masih terjadi secara luas di berbagai negara, termasuk Indonesia. Keputusan menikah muda tentu berdampak besar terhadap kehidupan, kesehatan, dan masa depan perempuan.
Berdasarkan jurnal yang dipublikasikan dalam International Center for Research on Women, perempuan yang menikah di usia muda cenderung akan kehilangan hak-hak dasar seperti pendidikan, kesehatan, kesempatan ekonomi, dan pergaulan dengan teman sebaya.
Sebab mereka akan menghadapi risiko kehamilan dini serta beban domestik yang berat sejak usia muda.
Ditambahkan laporan dari NCBI berjudul Child Marriage: A Silent Health and Human Rights Issue (2009) menikah muda dampaknya bagi perempuan, antara lain meningkatkan risiko depresi, infeksi menular seksual, kanker serviks, malaria, fistula obstetri, dan kematian ibu.
Bahkan, keturunan mereka berisiko lebih tinggi mengalami kelahiran prematur, dan selanjutnya kematian neonatal atau bayi.
Di tengah tren nikah muda yang terus viral, pemerintah mengingatkan pentingnya melihat realitas di balik konten media sosial.
Bagi perempuan, keputusan menikah terlalu dini bukan hanya soal status, tetapi juga menyangkut kesehatan, pendidikan, dan masa depan jangka panjang.
(nga/fef)

16 hours ago
4

























