Putin Ngaku Rusia Kena 'Dampak' Krisis Energi imbas Perang Timteng

5 hours ago 2

Jakarta, CNN Indonesia --

Presiden Rusia Vladimir Putin mengaku negaranya mulai terkena 'dampak' krisis energi yang tengah mengguncang dunia buntut perang Iran vs Amerika Serikat dan Israel.

Dalam pertemuan dengan para pejabat serta bos minyak dan gas Rusia pada Senin (9/3), Putin mengatakan Moskow kini menghadapi dampak signifikan dari krisis energi global belakangan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Putin menerangkan pasokan minyak dunia saat ini mandek di Selat Hormuz buntut ditutup Iran sekutunya.

Sebagai pemimpin negara pengekspor minyak terbesar kedua di dunia sekaligus pemilik cadangan gas alam terbesar di dunia, ia mendorong perusahaan-perusahaan Rusia untuk memanfaatkan situasi ini.

"Produksi minyak yang bergantung pada Selat Hormuz berisiko terhenti sepenuhnya dalam sebulan ke depan. Produksi tersebut sudah mulai menurun, dan fasilitas penyimpanan di wilayah tersebut penuh dengan minyak yang tidak bisa diangkut, bahkan sangat sulit diangkut, atau sangat mahal diangkut," kata Putin, seperti dikutip Reuters.

Pada Senin (9/3), harga minyak dunia melambung hingga ke level tertinggi sejak 2022 yakni US$119 per barel. Lonjakan ini buntut memanasnya perang AS-Israel vs Iran.

Melihat fenomena ini, Putin menyatakan krisis energi global benar-benar sudah terjadi. Oleh sebab itu, ia siap untuk memasok minyak dan gas Rusia bagi negara-negara yang mengalami krisis, termasuk Eropa.

"Kami siap bekerja sama dengan Eropa. Tapi kami butuh jaminan dari mereka bahwa mereka siap dan bersedia bekerja sama dengan kami dan akan memastikan keberlanjutan dan stabilitas ini," kata Putin.

Sebelum perang Rusia vs Ukraina pecah 2022 lalu, Eropa adalah pembeli terbesar energi Rusia. Lebih dari 40 persen gas negara-negara Uni Eropa dibeli dari Rusia.

Namun, setelah invasi Moskow ke Kyiv, Eropa mulai balik badan. Penjualan gabungan gas pipa dan gas alam cair (LNG) Rusia di negara-negara tersebut hanya mencapai 13 persen dari total impor Uni Eropa pada 2025.

Situasi tak menguntungkan ini akhirnya membuat Rusia mengalihkan pasarnya ke Asia.

Dalam pertemuan tersebut, Putin juga menggarisbawahi bahwa lonjakan harga minyak dunia saat ini kemungkinan cuma bersifat sementara. Oleh karena itu, ia meminta perusahaan minyak dan gas segera menjalin kerja sama dan memastikan kerja sama itu jangka panjang.

(blq/bac)

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Koran | News | Luar negri | Bisnis Finansial