PHRI Bali Ungkap Biang Keladi Okupansi Hotel Turun pada 2025

1 day ago 5

Denpasar, CNN Indonesia --

Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali mencatat penurunan tingkat keterisian kamar (okupansi) hotel di Pulau Dewata.

Wakil Ketua PHRI Bali I Gusti Agung Ngurah Rai Suryawijaya mengungkapkan okupansi hotel tahun lalu turun sekitar 2 hingga 3 persen (yoy). Hal itu seiring penurunan kunjungan wisatawan domestik ke Bali.

"Mungkin menurunnya 2-3 persen, itu tidak termasuk menurun sekali," ujar Suryawijaya, saat dihubungi pada Kamis (8/1) malam.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali menargetkan kunjungan wisatawan domestik ke Pulau Bali mencapai 10,5 juta pada 2025.

Namun, target tersebut tidak tercapai. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Bali, kunjungan wisatawan domestik hanya 9,2 juta tahun lalu.

"Target yang kami inginkan domestik itu adalah 10,5 juta yang dipasang oleh Pemerintah Provinsi (Bali) di tahun 2025. Nyatanya, belum mencapai target, masih di bawah 10 juta lagi dikit," jelasnya.

Menurut Suryawijaya, turunnya kunjungan wisatawan domestik ke Pulau Bali disebabkan oleh sejumlah faktor. Pertama, harga tiket pesawat masih relatif mahal. Kedua, tidak adanya cuti bersama seperti tahun sebelumnya.

Ketiga, ada pengaruh dari cuaca ekstrem. Keempat, wisatawan domestik banyak memilih berlibur ke luar negeri dan kelima, tahun ini banyak wisatawan domestik yang memilih berwisata di daerahnya masing-masing.

"Misalnya banyak yang berwisata ke Yogyakarta, Semarang, Surabaya, Bandung, dan lain-lain. Itu kan bagus, tidak ada masalah," jelasnya.

Sementara, kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Pulau Bali pada tahun lalu meningkat dibandingkan 2024.

"Kalau kami bandingkan di tahun 2024 itu ada 6,3 juta (wisman). Di tahun 2025 meningkat menjadi 7,05 juta," jelasnya.

Secara umum, sambung Suryawijaya, tingkat okunpasi hotel di Bali rata-rata 70 sampai 80 persen tahun lalu.

"Kalau ada yang di bawah itu, berarti harus banyak evaluasi oleh manajemennya," jelasnya.

Kendati menurun, okupansi hotel di wilayah tertentu, seperti Kabupaten Badung dan Kota Denpasar, masih cukup tinggi saat momen Natal dan Tahun Baru (Nataru).

"Kalau ada di daerah lain barangkali turun, misalnya daerah timur (Kabupaten Karangasem) ataupun utara (Kabupaten Buleleng), mungkin bisa jadi. Karena market-nya memang domestik barangkali," terangnya.

Suryawijaya menilai peningkatan kedatangan jumlah wisatawan sebenarnya tidak serta merta meningkatkan okupansi hotel di Bali. Pasalnya, ada persaingan dan kesediaan daripada kamar-kamar baru itu juga meningkat.

"Kenapa secara umum okupansinya kelihatan menurun sedikit, iya karena ada penambahan kamar. Kalau tidak ada penambahan kamar mungkin saja bisa tingkat hunian kita sama dengan tahun lalu," katanya.

Ia memperkirakan penambahan kamar penginapan baru di Bali, baik itu hotel, vila, pondok wisata, guest house dan lain-lainnya di tahun 2025 meningkat 5 hingga 10 persen.

"Perkiraan saya (di 2025) bisa saja mencapai 5 hingga 10 persen ada penambahan kamar. Kalau dulu di tahun 2024 itu bisa mencapai 160 ribu hotel room. Baik yang berbintang, baik yang non-star, termasuk apartemen, pondok wisata, vila, guest house itu yang terjadi," ujarnya.

[Gambas:Video CNN]

(kdf/sfr)

Read Entire Article
Koran | News | Luar negri | Bisnis Finansial