Nadia Habibie: Hari Kartini, Momentum Bangun Sistem untuk Perempuan RI

5 hours ago 3

Jakarta, CNN Indonesia --

Nama Raden Adjeng Kartini mungkin tak pernah tercatat sebagai menteri, pembicara utama, atau pemimpin lembaga besar. Namun warisannya hidup hingga hari ini melalui tulisan-tajam, jernih, dan penuh urgensi.

Executive Director Habibie & Ainun Foundation sekaligus Secretary of the Executive Board di The Habibie Center, Nadia Sofia Habibie, mengatakan warisan pemikiran Kartini tetap relevan hingga hari.

"Di Hari Kartini ini, saya teringat pada pertanyaan yang saya lontarkan di Indonesia Economic Summit: Bagaimana kita bergerak dari sekadar partisipasi, menuju pengaruh yang nyata?" ujar Nadia.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurutnya, pertanyaan itu bukan sekadar refleksi simbolik, tapi lebih kepada menyentuh persoalan struktural yang masih dihadapi jutaan perempuan di Indonesia.

Tiga Wajah Perempuan Indonesia

Cucu dari Presiden ke-3 RI,Bacharuddin Jusuf Habibie dan Hasri Ainun Besari ini menilai realitas perempuan Indonesia saat ini tidak tunggal, melainkan terbagi dalam beberapa kelompok yang berbeda, namun memiliki akar persoalan serupa.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) 2023 menunjukkan sekitar 64 persen perempuan Indonesia bekerja di sektor informal, tanpa kontrak tetap maupun perlindungan sosial memadai.

Di sisi lain, perempuan juga menjadi tulang punggung ekonomi lokal. Sekitar 60 hingga 64 persen pelaku UMKM di Indonesia merupakan perempuan.

Namun peluang di tingkat kepemimpinan masih terbatas. Hanya sekitar 35 persen posisi manajerial yang dipegang perempuan, sementara sekitar 3,5 persen jabatan CEO diduduki perempuan.

Nadia menjelaskan angka-angka tersebut menggambarkan tiga realitas berbeda--pekerja informal, pelaku usaha kecil, dan profesional--yang menghadapi hambatan serupa.

Nadia menggambarkan ketiga wajah perempuan itu dengan sosok berbeda, sebagai contoh misalnya Siti, Rara, dan Dewi.

Siti yang merupakan buruh garmen di kawasan industri. Ketika kehamilannya mulai terlihat, jam kerjanya dikurangi.

Sebulan kemudian kontraknya tak diperpanjang. Secara administratif, tidak ada aturan yang dilanggar. Namun secara praktik, perlindungan tidak benar-benar hadir.

Di sisi lain, seorang profesional muda bernama Rara telah menunjukkan kinjera baik selama bertahun-tahun. Namun promosi tak pernah datang.

Ia merawat orang tua yang sakit, sementara kewajiban keluarga dianggap sebagai tanggung jawab pribadinya, bukan faktor yang perlu dipertimbangkan organisasi.

Ada pula Dewi seorang pelaku usaha kecil yang telah membangun toko daring selama bertahun-tahun.

Ia mempekerjakan karyawan, memiliki pelanggan tetap, namun kesulitan mengakses pembiayaan karena dianggap belum memiliki rekam jejak formal yang cukup. Di rumah, ia juga menjadi pengasuh bagi cucunya.

"Ketiganya berbeda usia, berbeda arena. Tapi akarnya sama: mereka selalu menjadi pihak yang menanggung dan sistem tidak pernah menghitung itu sebagai sesuatu yang perlu dibagi," ucap Nadia.

Akar Masalah yang Sama

Salah satu hambatan terbesar yang dihadapi perempuan adalah beban kerja perawatan tak berbayar, yang sering kali tidak diakui sebagai bagian dari aktivitas ekonomi.

Data International Labour Organization (ILO) 2024 mencatat sekitar 708 juta perempuan di dunia berada di luar angkatan kerja karena tanggung jawab perawatan keluarga. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan laki-laki yang hanya sekitar 40 juta orang.

Di kawasan Asia Pasifik, perempuan rata-rata menghabiskan 4,1 kali lebih banyak waktu untuk pekerjaan perawatan dibandingkan laki-laki.

Menurut Nadia, persoalan ini bukan karena perempuan tidak peduli pada keluarga, melainkan karena tanggung jawab tersebut belum terbagi secara adil dan belum didukung kebijakan memadai.

"Masalahnya adalah trade-off ini tidak pernah dihitung, tidak pernah dibagi, dan biasanya secara default dibebankan pada satu gender," tutur Nadia.

Karena itu, lanjut Nadia, ketika trade-off itu terlalu besar ditanggung sendirian, maka negara perlu hadir, bukan sebagai belas kasihan tapi sebagai investasi.

"Setiap perempuan yang terpaksa keluar dari angkatan kerja adalah produktivitas yang hilang, pendapatan negara yang tidak terkumpul, potensi yang tidak pernah terealisasi," jelasnya

Tiga Titik Awal Perubahan

Dalam pandangannya, perubahan dapat dimulai dari langkah-langkah konkret yang menyentuh akar persoalan.

Pertama, pengakuan bahwa merawat keluarga merupakan bagian pekerjaan. Kemudian juga perlunya perlindungan kehamilan yang nyata, layanan penitipan anak yang terjangkau, serta dukungan bagi perawatan lansia menjadi fondasi utama.

Negara seperti Singapura dan Jepang telah menunjukkan bahwa subsidi childcare dan eldercare bukan hanya kebijakan sosial, tetapi juga strategi ekonomi.

Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan peningkatan partisipasi kerja perempuan sebesar 5,9 poin persentase dapat meningkatkan Produk Domestik Bruto negara berkembang hingga 8 persen.

Di Indonesia, keberadaan fasilitas childcare terbukti meningkatkan peluang ibu untuk bekerja hingga 13 poin persentase, menurut Bank Dunia.

Kedua, memastikan sistem bekerja untuk semua. Perempuan dari berbagai latar belakang membutuhkan dukungan yang spesifik, mulai dari literasi digital, hukum, hingga keuangan, yang dirancang sesuai kebutuhan masing-masing sektor.

"Di setiap arena, inklusivitas bukan pilihan moral semata. Ia adalah pilihan ekonomi yang dampaknya berlipat ganda, ke keluarga, komunitas, dan negara," ujar Nadia.

Ketiga, membangun ekosistem yang saling mendukung. Kemajuan sering terjadi ketika ada pihak yang mendorong dan membuka jalan.

Serikat pekerja, program inkubasi bisnis, jaringan profesional, serta sistem sponsorship karier memainkan peran penting dalam memastikan perempuan memiliki akses yang setara terhadap peluang.

"Seorang mentor membimbing. Seorang sponsor memperjuangkan. Saya beruntung memiliki sponsor yang menyebut nama saya untuk peluang yang tidak akan pernah saya klaim sendiri," tambah Nadia.

Dari Inspirasi Menuju Transformasi

Nadia menekankan bahwa warisan Kartini tidak berhenti pada inspirasi, tetapi harus diwujudkan dalam bentuk perubahan sistem yang berkelanjutan.

Perubahan struktural tidak selalu membutuhkan langkah besar sekaligus. Perubahan itu bisa dimulai dari satu kebijakan yang dijalankan secara konsisten seperti perlindungan kehamilan yang efektif, akses modal yang lebih inklusif, atau program sponsorship yang sistematis.

"Efek berlipat ganda dari banyak orang yang masing-masing melakukan satu hal dengan sungguh-sungguh adalah cara perubahan struktural benar-benar terjadi," kata Nadia.

Dalam berbagai organisasi, keterwakilan perempuan di posisi manajemen memang mulai meningkat. Namun tantangan berikutnya adalah memastikan adanya jalur pengembangan karier yang jelas dan sistem yang secara aktif mendorong perempuan untuk maju.

"Saya memegang standar yang sama untuk diri saya sendiri. Leadership manajemen di Wisma Habibie & Ainun merupakan 75 persen perempuan, dan di The Habibie Center 45 persen, tapi tentunya pekerjaan ini masih jauh dari selesai," jelasnya.

Untuk itu, peringatan Hari Kartini ini menjadi momentum tepat untuk membangun sistem berkelanjutan bagi masa depan perempuan.

Nadia mengatakan, Kartini tidak menulis karena ia memiliki semua jawaban. Kartini menulis karena percaya bahwa pertanyaan yang tepat dapat menemukan jalannya kepada orang-orang yang bersedia bertindak.

"Inilah yang saya harapkan dari kata-kata ini. Bukan hanya untuk perempuan-perempuan yang saya kenal, tetapi untuk setiap anak perempuan yang sedang mengamati seperti apa ruangan kita, dan memutuskan apakah ada tempat untuknya di dalamnya," pungkas Nadia.

(ory/ory)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Koran | News | Luar negri | Bisnis Finansial