CNN Indonesia
Sabtu, 16 Mei 2026 04:40 WIB
Bespoke Tailoring. (ANTARA/HO-dokumentasi pribadi Samuel Wongso)
Jakarta, CNN Indonesia --
Di tengah derasnya arus fast fashion dan dominasi pakaian siap pakai (ready-to-wear), keberadaan bespoke tailoring masih bertahan sebagai simbol kualitas, presisi, dan sentuhan personal yang sulit tergantikan.
Saat industri fesyen berlomba menghadirkan pakaian secara cepat dan massal, seni menjahit setelan khusus justru menawarkan sesuatu yang lebih intim, pakaian yang benar-benar dibuat untuk manusia, bukan sekadar pasar.
Berbeda dengan pakaian produksi massal, bespoke tailoring menghadirkan proses pembuatan busana dari nol sesuai bentuk tubuh, aktivitas, hingga karakter pemakainya. Di balik setiap jahitan, ada proses memahami proporsi tubuh, gaya hidup, dan kenyamanan seseorang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Karena itu, tailoring bukan hanya soal membuat pakaian, tetapi juga menerjemahkan identitas personal ke dalam detail-detail yang presisi.
Nilai inilah yang membuat bespoke tailoring tetap memiliki tempat tersendiri di tengah industri fesyen modern yang serba cepat.
Di Indonesia, salah satu rumah tailoring yang masih menjaga tradisi tersebut adalah Wong Hang. Berdiri sejak 1933, bisnis keluarga ini menjadi contoh bagaimana warisan craftsmanship dapat bertahan lebih dari sembilan dekade di tengah perubahan tren dan perilaku konsumen.
Menurut Samuel Wongso, generasi keempat penerus Wong Hang, esensi seorang tailor bukan hanya membuat pakaian terlihat bagus, tetapi juga membantu seseorang tampil lebih proporsional dan percaya diri.
"Padahal ada sebuah art di balik bespoke tailoring itu. Tugas tailor itu apa? Memperbaiki. Jadi kalau orang gemuk harus terlihat lebih ramping dan yang kurus harus terlihat lebih berisi. Itulah esensi sebuah tailor, yang hampir hilang dan sempat diremehkan," kata Samuel, mengutip Antara.
Potret Samuel Wongso bersama kakak dan adiknya di Milan, Italia, usai menghadiri ajang fashion pria Pitti Uomo di Florence, Italia. Samuel juga tampil dengan warna yang terinspirasi dari Pantone Color of The Year 2024. (ANTARA/HO- Dokumentasi pribadi)
Pandangan tersebut lahir dari pengalaman panjang yang diwariskan turun-temurun dalam keluarga Wong Hang. Selama puluhan tahun, mereka mempertahankan filosofi bahwa pakaian bukan sekadar penampilan, tetapi bentuk pelayanan personal yang memahami karakter setiap pelanggan.
Berawal dari Surabaya sebelum Indonesia merdeka
Perjalanan Wong Hang dimulai ketika keluarga pendirinya datang dari Guangzhou, China, ke Indonesia pada 1933. Saat itu, Surabaya menjadi salah satu pusat perdagangan penting yang dipenuhi masyarakat Eropa, Jepang, dan Tionghoa yang terbiasa mengenakan suit dalam keseharian.
Melihat kebutuhan tersebut, keluarga Wong Hang mulai membangun bisnis tailoring dengan pendekatan yang sangat personal. Mereka tidak hanya membuat pakaian, tetapi juga memperhatikan kenyamanan, fungsi, dan proporsi tubuh pelanggan.
Nilai tersebut terus diwariskan dari generasi ke generasi hingga Wong Hang mampu bertahan lebih dari 90 tahun dan kini hadir di 16 titik di berbagai kota besar.
Samuel mengatakan, sejak kecil seluruh anggota keluarga sudah diperkenalkan pada dasar-dasar tailoring, mulai dari mengukur tubuh, membuat pola, menggunting kain, hingga memahami karakter bahan.
"Nenek saya selalu bilang, mau jadi apa pun boleh, tapi karena keluarga kami seorang tailor, minimal harus punya skill menjahit. Kata nenek, ke mana pun pergi, kalau punya meteran dan jarum, kita tetap bisa hidup," ujarnya.
Baca kelanjutannya di sini..
Add
as a preferred source on Google

2 hours ago
3




























