Mengenal Mirroring: Tren 'Balas Energi' yang Viral di Kalangan Gen Z

17 hours ago 9

CNN Indonesia

Rabu, 13 Mei 2026 06:00 WIB

Bukan sekadar membalas perlakuan 'jutek', mirroring dalam psikologi adalah teknik membangun empati dan koneksi emosional yang mendalam. Ilustrasi. Mirroring di kalangan Gen Z. (iStock/filadendron)

Jakarta, CNN Indonesia --

Istilah mirroring belakangan kian riuh di jagat media sosial, terutama di kalangan Gen Z. Mulai dari konten mengenai dinamika pertemanan hingga asmara, istilah ini kerap digunakan untuk menggambarkan sikap seseorang yang menyesuaikan energinya dengan lawan bicara.

Sederhananya, jika seseorang diperlakukan dengan dingin, ia akan membalas dengan sikap yang sama. Begitu pula saat menghadapi lawan bicara yang ketus atau 'jutek'.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun, mirroring juga bisa terjadi secara tidak sadar, seperti meniru gestur atau gaya bicara orang lain saat merasa nyaman.

Di media sosial, fenomena ini sering dianggap sebagai strategi untuk membaca ketertarikan atau bahkan cara membalas perlakuan orang lain. Padahal, dalam dunia psikologi, mirroring memiliki makna yang jauh lebih luas dan tidak selamanya bermakna negatif.

Teknik validasi dalam psikoterapi

Dalam konteks psikoterapi, mirroring justru menjadi teknik komunikasi krusial untuk membantu seseorang merasa dipahami dan divalidasi.

Melansir penelitian dalam Psychotherapy Research, proses ini merupakan bagian dari nonverbal mimicry, yakni kecenderungan otomatis seseorang untuk meniru ekspresi atau gerakan lawan bicara selama interaksi sosial.

Bentuknya pun beragam, mulai dari hal sederhana seperti:

• Mengangguk saat mendengarkan.

• Menjaga kontak mata.

• Menyesuaikan ekspresi wajah.

• Menyamakan nada bicara.

• Mengulang inti perasaan yang disampaikan lawan bicara.

Tujuannya bukan untuk mengejek, melainkan menunjukkan kehadiran penuh secara emosional. Dalam sesi terapi, teknik ini efektif membuat klien merasa lebih aman untuk membuka diri.

Mengapa mirroring terasa menyenangkan?

Pernahkah Anda merasa sangat cepat akrab dengan seseorang hanya karena merasa 'nyambung'? Hal ini kemungkinan besar terjadi karena adanya nonverbal synchrony atau sinkronisasi nonverbal.

Penelitian di Frontiers in Psychology menemukan bahwa sinkronisasi nonverbal dalam psikoterapi berkaitan erat dengan therapeutic alliance yang kuat, yakni hubungan kooperatif yang aman antara klien dan terapis.

Studi tersebut menjelaskan bahwa sinkronisasi ini membantu proses co-regulation of emotions. Ini adalah kondisi di mana emosi seseorang menjadi lebih stabil karena respons lawan bicara yang terasa aman dan suportif.

Dalam kehidupan sehari-hari, mirroring sering kali muncul secara otomatis. Saat berbicara dengan teman yang antusias, energi Anda bisa ikut terpompa. Sebaliknya, saat berada di lingkungan yang agresif, respons Anda pun bisa berubah menjadi defensif.

Kondisi inilah yang memicu fenomena 'balas energi' yang viral di media sosial, misalnya "Jika lingkungan sekitar tidak berempati, saya pun tidak perlu menunjukkan empati."

Pola ini kerap ditemukan dalam hubungan asmara maupun pertemanan. Ketika seseorang berubah menjadi dingin karena merasa tidak dihargai, ia sebenarnya sedang melakukan mirroring terhadap perlakuan yang diterimanya.

Dikutip dari Journal of School Psychology, seseorang yang mendapat perlakuan buruk dari lingkungan cenderung menunjukkan reactive aggression atau perilaku agresif sebagai bentuk respons terhadap perlakuan negatif tersebut.

Perlu diingat, dalam hubungan yang sehat, mirroring idealnya muncul secara natural sebagai manifestasi empati. Jika dilakukan secara berlebihan atau dibuat-buat, tindakan ini justru akan terasa canggung dan tidak nyaman.

Sejatinya, mirroring hadir untuk membantu seseorang merasa dipahami, bukan menjadi alasan bagi kita untuk tenggelam dalam pola perilaku negatif yang sama.

(anm/tis)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Koran | News | Luar negri | Bisnis Finansial