Mayapada | CNN Indonesia
Senin, 25 Mei 2026 16:57 WIB
Foto: Arsip Mayapada Hospital
Jakarta, CNN Indonesia --
Mayapada Hospital kembali memperkuat layanan kesehatan berstandar internasional melalui penerapan protokol Enhanced Recovery After Surgery (ERAS®) untuk prosedur Robotic Total Knee Replacement (TKR) di Mayapada Hospital Surabaya (MHSB).
Melalui implementasi tersebut, Mayapada Hospital Surabaya menjadi rumah sakit pertama di Indonesia yang menerapkan standar perawatan komprehensif berbasis ERAS® pada prosedur Robotic TKR.
Rumah sakit itu juga resmi bergabung dengan ERAS® Society, organisasi global yang menjadi rujukan pengembangan standar pemulihan pascaoperasi modern berbasis bukti ilmiah.
Pengakuan tersebut diumumkan dalam ERAS Congress 2026 yang digelar di Singapura pada 13 Mei 2026 dan dihadiri delegasi dari lebih dari 10 negara.
Program ERAS® sendiri merupakan pendekatan multidisiplin yang diterapkan untuk mengurangi stres akibat operasi, mempercepat proses pemulihan pasien, serta meningkatkan hasil klinis dan pengalaman pasien secara menyeluruh.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pendekatan ini telah menjadi bagian penting dalam transformasi layanan bedah modern di berbagai rumah sakit berstandar global di Eropa, Amerika Serikat, Australia, hingga Asia.
Hal tersebut karena terbukti membantu menghadirkan layanan yang lebih efisien, aman, dan berpusat pada pasien.
Chief Medical Officer Mayapada Healthcare, dr. Dini Handayani, MD, MARS, FISQua, FIPC mengatakan, keberhasilan operasi penggantian lutut saat ini tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi atau ketahanan implan, tetapi juga kemampuan menghadirkan proses pemulihan yang optimal bagi pasien.
"Sehingga pasien dapat kembali beraktivitas lebih cepat dengan hasil klinis yang lebih konsisten dan tingkat kepuasan yang lebih baik," ujarnya dikutip Minggu (24/5).
Menurut dia, prosedur TKR di Mayapada Hospital dilandaskan pada tiga pilar utama, yaitu operasi presisi dengan bantuan teknologi robotik, implementasi protokol ERAS®, dan kolaborasi aktif tim multidisiplin.
Dalam implementasinya di Mayapada Hospital Surabaya (MHSB), prosedur TKR juga didukung oleh VELYS™ Robotic-Assisted Solution yang membantu meningkatkan presisi dan akurasi tindakan.
"Pendekatan ERAS® sendiri juga terus diperkuat dan dikembangkan secara bertahap di jaringan Mayapada Hospital Jakarta Selatan dan Mayapada Hospital Kuningan sebagai bagian dari komitmen menghadirkan standar layanan yang lebih terintegrasi dan berpusat pada pasien," ujarnya.
Selanjutnya, dokter Dini juga menegaskan bahwa teknologi tetap berperan sebagai pendukung bagi dokter dalam meningkatkan akurasi tindakan medis.
"Teknologi membantu meningkatkan presisi, namun tetap harus didukung oleh penilaian klinis dan keahlian dokter yang tepat," ujar dr. Dini.
Hingga saat ini, implementasi robotik TKR di MHSB menunjukkan hasil signifikan dalam meningkatkan presisi operasi dengan jumlah implant misalignment yang jauh lebih rendah dibandingkan dengan prosedur konvensional.
Kombinasi robotic surgery dan ERAS® protocol juga berhasil memberikan hasil klinis yang lebih baik, mulai dari masa rawat inap yang lebih singkat, pemulihan lebih cepat, hingga nyeri pascaoperasi yang lebih rendah.
Implementasi robotik TKR dan ERAS® di MHSB dipimpin oleh Prof. Dr. dr. Dwikora Novembri Utomo, Sp.OT, Subsp.P.L(K), dan didukung dokter spesialis ortopedi, anestesi, rehabilitasi medik, perawat, serta tim manajemen nyeri dalam satu alur layanan terintegrasi.
Prosedur ini didukung oleh VELYS™ Robotic-Assisted Solution dari J&J MedTech sebagai teknologi pendukung utama yang memungkinkan tindakan yang lebih presisi dan akurat, mempercepat pemulihan, serta menurunkan risiko revisi hingga lebih dari 30 persen.
Dalam kesempatan ini Prof. Dwikora menjelaskan bahwa integrasi robotic TKR dan ERAS® memberikan dampak nyata terhadap kualitas pemulihan pasien.
"Dengan pendekatan robotic-assisted surgery dan ERAS®, pasien dapat lebih cepat bergerak, nyeri pascaoperasi lebih minimal, dan kembali menjalankan aktivitas sehari-hari lebih cepat dibandingkan metode konvensional. Yang paling penting, pendekatan ini membantu kami menghadirkan hasil yang lebih konsisten untuk pasien," ujarnya.
Lebih lanjut, ia menyampaikan, implementasi program ini menghasilkan hasil perawatan yang lebih optimal dengan dampak klinis yang signifikan dan terukur.
Di mana, lanjut dia, rata-rata rawat inap berkurang dari sekitar lima hari menjadi hanya 2 hari, sementara waktu pemulihan meningkat hampir 50% sehingga pasien dapat lebih cepat kembali bergerak dan menjalani aktivitas sehari-hari.
"Angka komplikasi juga menurun hingga 60%. Selama masa evaluasi, tidak ditemukan komplikasi utama seperti penggumpalan darah di kaki (Deep Vein Thrombosis/DVT), pneumonia, maupun kondisi pasien yang harus kembali menjalani perawatan di rumah sakit setelah operasi (readmission)," ujarnya.
Sementara Founder ERAS® Society, Prof. Olle Ljungqvist menyampaikan optimismenya terhadap implementasi ERAS® yang membantu meningkatkan standar layanan bedah modern secara global.
"Together, we can take surgery to where it should be (Bersama-sama, kita dapat membawa layanan bedah ke standar yang seharusnya)," ujar Prof. Olle.
ERAS® Society sendiri merupakan organisasi internasional yang menjadi rujukan global dalam pengembangan standar perawatan bedah berbasis bukti (evidence-based surgery care).
Menjadi bagian dari ERAS® Society berarti rumah sakit tergabung dalam ekosistem global yang mendorong peningkatan kualitas layanan secara berkelanjutan melalui pengukuran hasil klinis berbasis data, kolaborasi multidisiplin, serta penerapan standar internasional yang berfokus pada keselamatan dan pemulihan pasien jangka panjang. (inh)
Add
as a preferred source on Google

7 hours ago
1




















