Maskapai Dunia Terancam Kehabisan Avtur, Tiket Pesawat Tambah Mahal

2 hours ago 2

Jakarta, CNN Indonesia --

Perusahaan maskapai dunia terancam menghadapi kelangkaan bahan bakar pesawat (avtur) seiring memanasnya perang Iran melawan agresi Amerika Serikat (AS) dan Israel.

Maskapai yang paling rentan terpukul terutama yang berasal dari Eropa dan Asia lantaran sangat bergantung pada impor bahan bakar.

Maskapai di sejumlah negara diperkirakan akan menghadapi kekurangan avtur dalam beberapa pekan ke depan. Gangguan pasokan ini berisiko memicu pembatalan penerbangan hingga lonjakan harga tiket di berbagai kawasan. 

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Ini akan memakan waktu setidaknya hingga Juli, dan itu pun mungkin terlalu optimistis," ujar analis energi Kpler, Matt Smith dikutip CNN Business, Selasa (21/4).

Badan Energi Internasional (International Energy Agency) juga memperingatkan sejumlah negara Eropa bisa mulai mengalami kekurangan avtur dalam enam minggu ke depan.

Menurut IEA, kondisi ini terjadi karena lebih dari 20 persen pasokan avtur global yang diangkut melewati Selat Hormuz, sekitar dua pertiga di antaranya dikirim ke Eropa.

Lonjakan harga pun tak terhindarkan, bahkan di Amerika Serikat (AS) yang notabene tidak terdampak soal kelangkaan pasokan karena produsen utama minyak.

Nyatanya, meski tidak menghadapi ancaman kelangkaan langsung, harga avtur meningkat tajam dan mendorong maskapai mengurangi penerbangan murah.

Empat maskapai besar seperti United Airlines, American Ailines, Delta Airlines, dan Southwest Airlines bahkan menghabiskan sekitar US$100 juta per hari untuk bahan bakar pada tahun lalu.

Maskapai Delta Air Lines memperkirakan biaya bahan bakarnya bisa naik hingga US$2 miliar tahun ini. Sementara itu, CEO United Airlines, Scott Kirby menyebut perusahaannya berpotensi menanggung tambahan biaya hingga US$11 miliar jika kondisi saat ini berlanjut.

"Tidak ada gunanya menerbangkan penerbangan yang merugi dan tidak bisa menutup biaya bahan bakar," ujar Kirby.

Dampaknya melejitnya ongkos avtur mulai terasa pada harga tiket pesawat di AS. Data Deutsche Bank menunjukkan harga tiket mendadak (last-minute) ke destinasi populer seperti Karibia melonjak hingga 74 persen, sementara penerbangan ke Hawaii naik 21 persen dibandingkan awal bulan ini.

Kenaikan harga avtur juga memaksa maskapai memangkas kapasitas. United Airlines, misalnya, telah mengurangi rencana jadwal penerbangan sekitar 5 persen untuk enam bulan ke depan. Pengurangan kursi ini berpotensi mendorong harga tiket semakin mahal, terutama memasuki musim liburan musim panas.

Di sisi lain, tekanan biaya ini bisa menjadi pukulan berat bagi maskapai berbiaya rendah. Maskapai seperti Spirit Airlines bahkan memperingatkan bahwa lonjakan harga bahan bakar dapat berdampak langsung dan signifikan terhadap kinerja keuangan mereka, hingga berisiko menggagalkan upaya pemulihan bisnis.

Direktur International Air Transport Association, Willie Walsh, juga mengungkapkan bahwa sejumlah negara Asia mulai membatasi ekspor avtur. Kebijakan ini berpotensi memperketat pasokan global dan semakin menekan harga.

Dengan maskapai mengalihkan fokus ke rute yang lebih menguntungkan dan mengurangi penerbangan yang merugi, jumlah kursi yang tersedia di pasar dipastikan berkurang. Situasi ini memperbesar kemungkinan kenaikan tarif secara menyeluruh dalam waktu dekat.

[Gambas:Youtube]

(lau/pta)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Koran | News | Luar negri | Bisnis Finansial