Jakarta, CNN Indonesia --
Kementerian Pekerjaan Umum (PU) menyelesaikan pembangunan 222 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Ratusan dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) itu tengah memasuki proses serah terima kepada Badan Gizi Nasional (BGN).
Menteri PU Dody Hanggodo mengatakan pembangunan ratusan SPPG tersebut dilakukan berdasarkan titik lokasi yang ditentukan melalui koordinasi antara BGN dan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri).
Kementerian PU bertugas melakukan survei dan memastikan lahan yang ditunjuk dapat segera dibangun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"SPPG 3T kita sudah kerjakan sekitar ada 222. Sebetulnya gini, pada saat kita mengerjakan SPPG 3T itu adalah titiknya. Titiknya itu koordinasi langsung dengan BGN dan Kemendagri dan kita cuma survei aja apakah kemudian tanahnya itu bisa segera kita bangun," ujar Dody dalam media briefing di kantornya, Jumat (5/6).
Ia menjelaskan pembangunan SPPG saat itu dilakukan dalam waktu yang relatif singkat karena pemerintah mengejar target penyelesaian. Karena itu, penentuan lokasi sepenuhnya dilakukan oleh instansi pengampu program, yakni BGN.
Menurut Dody, saat ini seluruh bangunan telah selesai dibangun dan sedang dalam tahap pemeriksaan akhir oleh BGN sebelum resmi diterima.
"Hari ini sedang berproses serah terima dengan BGN, kepala BGN mau ngecek satu-satu lah sebelum kemudian mereka mau menerima," imbuhnya.
Dody mengatakan seluruh bangunan SPPG dibangun menggunakan desain prototipe agar memiliki standar layanan yang sama. Terdapat dua tipe bangunan yang disesuaikan dengan jumlah penerima manfaat di masing-masing wilayah.
Untuk SPPG dengan jumlah penerima manfaat di bawah 1.000 orang, pemerintah membangun gedung berukuran 10 x 15 meter. Sementara untuk wilayah dengan penerima manfaat antara 1.000 hingga 3.000 orang, dibangun fasilitas berukuran 20 x 20 meter.
Selain bangunan utama, setiap SPPG juga dilengkapi berbagai fasilitas penunjang seperti instalasi pengolahan air limbah, sistem pengelolaan limbah minyak goreng bekas, hingga generator set (genset).
Menurut Dody, fasilitas tersebut disiapkan untuk menjamin operasional dapur tetap berjalan meski terjadi gangguan listrik.
"Kami mengantisipasi misalnya mendadak listrik mati pun bahan-bahan mentah yang disimpan di lemari pendingin itu tidak rusak. Kemudian ada genset antara 25 sampai 40 KVA, tergantung besar-kecilnya bangunan," pungkasnya.
(ldy/sfr)
Add
as a preferred source on Google

1 hour ago
1





























