Iran Diklaim Pakai Sistem Satelit China Buat Bombardir Israel

6 hours ago 1

Jakarta, CNN Indonesia --

Iran diduga menggunakan sistem navigasi satelit milik China untuk menargetkan aset militer Israel dan Amerika Serikat di Timur Tengah.

Sejumlah pakar menilai Iran kemungkinan telah mengintegrasikan sistem navigasi China jauh sebelum delapan bulan terakhir.

Mantan direktur intelijen luar negeri Prancis, Alain Juillet, mengatakan dalam podcast independen Prancis Tocsin pekan ini bahwa Iran kemungkinan telah diberi akses ke sistem navigasi satelit BeiDou milik China.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Salah satu kejutan dalam perang ini adalah rudal Iran menjadi lebih akurat dibandingkan konflik yang terjadi delapan bulan sebelumnya, sehingga memunculkan banyak pertanyaan mengenai sistem panduan rudal itu," kata Juillet, dikutip Al Jazeera.

Menurut Juliet, penggunaan BeiDou menjadi penjelasan yang masuk akal atas meningkatnya presisi serangan Iran.

"Ada pembicaraan mengenai penggantian sistem GPS dengan sistem China, yang menjelaskan tingkat presisi rudal Iran. ... Target-target penting berhasil dihantam."

Sementara itu, peneliti ChinaMed Project, Theo Nencini, mengatakan Iran dilaporkan telah menandatangani nota kesepahaman pada 2015 untuk mengintegrasikan BeiDou 2 ke dalam infrastruktur militernya untuk meningkatkan sistem panduan rudal.

Para analis menilai penerapan berlangsung bertahap dan meningkat setelah Kemitraan Strategis Komprehensif China-Iran ditandatangani pada Maret 2021, ketika China diyakini memberi Iran akses ke sinyal militer terenkripsi BeiDou.

Menurut Nencini, sistem itu kemudian diintegrasikan ke panduan rudal, drone, serta jaringan komunikasi aman militer Iran.

Ketegangan di wilayah Timur Tengah meningkat setelah serangan AS dan Israel pada 28 Februari menewaskan sejumlah tokoh penting Iran, termasuk Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.

Iran kemudian meluncurkan serangan balasan ke Israel dan fasilitas militer AS di negara-negara Teluk. Meski banyak rudal berhasil dicegat, sebagian tetap menimbulkan kerusakan dan korban jiwa.

Iran sendiri belum mengonfirmasi penggunaan sistem itu, dan belum jelas apakah perubahan navigasi militer dapat dilakukan dalam waktu singkat sejak perang Juni lalu.

Sistem navigasi satelit BeiDou

BeiDou merupakan sistem navigasi satelit global China yang resmi diluncurkan pada 2000 sebagai pesaing GPS, yang diresmikan Presiden China Xi Jinping pada Juli 2020. Sistem ini dikembangkan sejak krisis Taiwan pada 1996 karena kekhawatiran akses GPS dapat dibatasi di masa depan.

Berdasarkan data tim AJ Labs Al Jazeera, GPS milik AS menggunakan 24 satelit, sementara BeiDou mengandalkan 45 satelit.

Dua sistem navigasi global utama lainnya adalah GLONASS milik Rusia dan Galileo milik Uni Eropa, yang masing-masing memiliki 24 satelit. Situs BeiDou terdiri dari tiga segmen: segmen ruang angkasa, segmen darat, dan segmen pengguna.

BeiDou juga memiliki cakupan global bekerja dengan mengirimkan sinyal waktu dari satelit ke penerima di darat atau kendaraan. Dengan menghitung waktu tempuh sinyal dari beberapa satelit, sistem dapat menentukan posisi geografis secara presisi.

"Akurasi bergantung pada tingkat layanan," kata analis militer dan politik berbasis di Brussel, Elijah Magnier.

"Sinyal sipil terbuka biasanya memiliki akurasi sekitar lima hingga 10 meter, sementara layanan terbatas bagi pengguna resmi menawarkan presisi yang jauh lebih tinggi."

(rnp/dna)

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Koran | News | Luar negri | Bisnis Finansial