CNN Indonesia
Jumat, 02 Jan 2026 10:13 WIB
Harga minyak mentah dunia naik tipis pada hari pertama perdagangan 2026, Jumat (2/1), setelah mencatat penurunan tahunan terbesar sejak 2020 lalu. (Dok. AKR Corporindo)
Jakarta, CNN Indonesia --
Harga minyak mentah dunia naik tipis pada hari pertama perdagangan 2026, setelah mencatat penurunan tahunan terbesar sejak 2020 lalu.
Kenaikan harga didorong ketegangan geopolitik, termasuk serangan drone Ukraina ke fasilitas minyak Rusia serta tekanan Amerika Serikat (AS) terhadap ekspor minyak Venezuela.
Mengutip Reuters, Jumat (2/1), harga minyak mentah Brent naik 14 sen menjadi US$60,99 per barel. Sementara, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 14 sen ke level US$57,56 per barel.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kenaikan harga terjadi di tengah meningkatnya konflik Rusia-Ukraina. Kedua negara saling menuduh melakukan serangan terhadap warga sipil pada Hari Tahun Baru, meski pembicaraan intensif yang dimediasi Presiden AS Donald Trump terus berlangsung untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung hampir empat tahun.
Ukraina dalam beberapa bulan terakhir meningkatkan serangan terhadap infrastruktur energi Rusia dengan tujuan memutus sumber pendanaan Moskow untuk operasi militernya di Kyiv.
Di sisi lain, pemerintahan Trump juga meningkatkan tekanan terhadap Presiden Venezuela Nicolas Maduro. Washington menjatuhkan sanksi terhadap empat perusahaan dan kapal tanker minyak yang disebut beroperasi di sektor energi Venezuela.
Blokade AS tersebut bertujuan mencegah kapal tanker yang terkena sanksi keluar dan masuk Venezuela. Kondisi ini memaksa perusahaan energi milik negara PDVSA mengambil langkah ekstrem untuk menjaga operasional kilang, di tengah menumpuknya persediaan bahan bakar residu.
Sepanjang 2025, harga minyak Brent dan WTI mencatat penurunan hampir 20 persen, menjadi kerugian tahunan terdalam sejak 2020. Penurunan itu didorong kekhawatiran kelebihan pasokan global dan kebijakan tarif yang dinilai lebih besar dampaknya dibanding risiko geopolitik.
Bagi Brent, 2025 menjadi tahun ketiga berturut-turut mencatat penurunan, terpanjang dalam sejarah.
Sementara itu di Amerika Serikat, produksi minyak mencapai rekor tertinggi sebesar 13,87 juta barel per hari pada Oktober, menurut data Badan Informasi Energi AS (EIA).
EIA juga melaporkan stok minyak mentah turun pada pekan lalu, sementara persediaan bensin dan distilat meningkat seiring aktivitas kilang yang tetap kuat.
(ldy/pta)

8 hours ago
2



































