Jakarta, CNN Indonesia --
Harga bensin eceran di Amerika Serikat (AS) menembus level US$4 per galon atau sekitar Rp68 ribu per galon untuk pertama kalinya sejak 2022, seiring gejolak pasar energi global akibat konflik Iran dengan AS dan Israel.
Berdasarkan data GasBuddy, lonjakan ini terjadi setelah perang yang pecah sejak akhir Februari terus mengganggu pasokan energi global, termasuk imbas penutupan Selat Hormuz sebagai jalur perdagangan minyak utama dunia.
Level US$4 per galon terakhir kali terjadi pada Agustus 2022 pasca invasi Rusia ke Ukraina, dan dinilai sebagai batas psikologis bagi konsumen. Kenaikan harga energi turut mendorong harga berbagai barang lain karena biaya produksi dan distribusi meningkat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lonjakan harga bahan bakar ini mulai menekan keuangan rumah tangga di AS yang sebelumnya sudah terbebani kenaikan biaya hidup.
Kondisi tersebut juga menjadi tantangan politik bagi Presiden AS Donald Trump menjelang pemilu paruh waktu November mendatang.
Sejak serangan militer AS dan Israel ke Iran, harga bensin di AS tercatat naik sekitar US$1,06 per galon atau sekitar 36 persen.
Analis Raymond James, Pavel Molchanov, menilai lonjakan harga ini mencerminkan pola yang mirip dengan krisis sebelumnya.
"Pecahnya perang secara tiba-tiba menyebabkan harga bensin di AS melonjak ke US$4 per galon. Itu menggambarkan konflik Iran saat ini, dan juga invasi Rusia ke Ukraina pada 2022," ujarnya melansir Reuters, Senin (30/3).
Meski demikian, ia memperkirakan krisis kali ini berpotensi lebih singkat.
"Kami memperkirakan harga akan mulai mendingin dalam beberapa minggu ke depan," katanya.
Namun, harga bahan bakar masih berpotensi naik jika harga minyak mentah terus meningkat. Kontrak berjangka minyak AS ditutup di level US$102,88 per barel pada Senin, naik US$3,24, dan sempat melonjak lebih tinggi dalam perdagangan Asia setelah laporan serangan terhadap kapal tanker minyak di pelabuhan Dubai.
Pemerintah AS telah mengambil sejumlah langkah untuk meredam kenaikan harga energi, termasuk melonggarkan aturan pelayaran Jones Act agar kapal berbendera asing dapat mengangkut bahan bakar dan barang lain antar pelabuhan domestik.
Namun, pelaku industri menilai dampaknya terhadap harga relatif terbatas.
Survei Reuters/Ipsos menunjukkan sekitar 55 persen responden mengaku keuangan rumah tangga mereka terdampak kenaikan harga bensin, dengan 21 persen di antaranya menyebut dampaknya sangat besar.
Ekonom WisdomTree Jeremy Siegel menilai dampak kenaikan harga bensin lebih dari sekadar faktor ekonomi.
"Isu utamanya bukan hanya minyak mentah, tetapi bensin, harga yang paling terlihat oleh konsumen. Ketika harga itu naik, dampaknya langsung terasa secara psikologis," ujarnya.
Kenaikan harga energi ini mempertegas tekanan yang dihadapi ekonomi global di tengah ketidakpastian geopolitik yang masih berlangsung.
(lau/sfr)
Add
as a preferred source on Google

3 hours ago
3


























