Jakarta, CNN Indonesia --
Sebanyak 28,6 persen wilayah Indonesia atau 200 zona musim (ZOM) telah masuk musim kemarau, mulai dari sebagian kecil Aceh, sebagian Jakarta, Jawa Barat bagian Utara, sebagian Bali, hingga sebagian kecil Sulawesi Selatan.
Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) per 31 Mei, sebanyak 28,6 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau, sedangkan 55,2 persen atau 386 ZOM masih mengalami musim hujan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu, 16,2 persen atau 113 ZOM merupakan wilayah dengan tipe satu musim.
Berikut adalah daftar wilayah yang sudah masuk musim kemarau:
- sebagian kecil Aceh
- sebagian kecil Sumatera Utara
- sebagian kecil Riau
- sebagian Kep. Riau
- Banten bagian utara
- sebagian Jakarta
- Jawa Barat bagian utara
- sebagian Jawa Tengah
- sebagian Jawa Timur
- sebagian Bali
- sebagian besar NTB
- sebagian besar NTT
- sebagian Gorontalo
- sebagian Sulawesi Tengah
- sebagian kecil Sulawesi Barat
- sebagian kecil Sulawesi Selatan
- sebagian Sulawesi Tenggara
- sebagian Maluku
- sebagian kecil Papua Selatan
Meski sudah masuk musim kemarau, sejumlah wilayah masih berpotensi diguyur hujan. Menurut BMKG, musim kemarau bukan berarti hujan hilang total, tetapi curah hujan dalam sebulan sangat rendah, yakni di bawah 50 milimeter.
Salah satu alasan mengapa hujan masih terjadi saat musim kemarau adalah kondisi Indonesia yang merupakan negara kepulauan dan dikelilingi laut hangat.
Dengan demikian, meski angin kering bertiup, penguapan tetap terjadi dan jadi 'bahan baku' awan hujan yang bisa muncul kapan saja.
Kemudian, ada juga fenomena atmosfer tropis, seperti Gelombang atmosfer, Madden-Julian Oscillation (MJO), dan sirkulasi siklonik di atmosfer. Fenomena tersebut dapat memicu pembentukan gerombolan awan.
Sederet fenomena ini bisa memicu hujan lebat meski sebuah wilayah tengah berada di tengah musim kemarau.
Selain itu, ada juga hujan konvektif yang terjadi karena pemanasan ekstrem yang membuat udara naik cepat dan jadi awan hujan lokal.
Panas matahari yang tetap konsisten membuat udara naik dengan cepat, membentuk awan Cumulonimbus secara mendadak di area lokal.
Lebih lanjut, BMKG menyebut hujan lebih sering terjadi bagi mereka yang tinggal di dekat pegunungan. Angin yang membawa uap air dipaksa naik oleh lereng gunung, mendingin, dan akhirnya jatuh sebagai hujan tepat di wilayah tersebut.
"Angin yang membawa uap air dipaksa naik oleh lereng gunung, mendingin, dan akhirnya jatuh sebagai hujan tepat di wilayah tersebut," kata BMKG dalam unggahannya di Instagram, Rabu (3/6).
(lom/lom)
Add
as a preferred source on Google

3 hours ago
1






























