Jakarta, CNN Indonesia --
Menteri Luar Negeri China, Wang Yi, mengecam keras perang di Timur Tengah dan mendesak Amerika Serikat untuk mengelola perbedaan dengan Beijing di tengah hubungan yang semakin tegang.
Dalam konferensi pers di Beijing pada Minggu, Wang mengatakan konflik yang dipicu oleh serangan militer AS dan Israel terhadap Iran "seharusnya tidak pernah terjadi".
"Tinju yang kuat tidak berarti alasan yang kuat. Dunia tidak boleh kembali pada hukum rimba," ujar Wang kepada para wartawan, mengutip AFP.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menyampaikan pernyataan tersebut di sela-sela pertemuan politik tahunan China yang dikenal sebagai Two Sessions. Forum ini mempertemukan parlemen China dan badan konsultatif politik negara tersebut, yang setiap tahun menjadi sorotan karena memberi gambaran mengenai prioritas para pemimpin China di tengah dinamika geopolitik global yang semakin rapuh.
Dalam kesempatan itu, Wang membahas berbagai isu internasional, mulai dari perang dagang dengan AS, ketegangan di Laut China Selatan, hingga konflik di Timur Tengah dan perang di Ukraina.
"Tahun ini benar-benar menjadi tahun penting bagi hubungan China-AS," kata Wang.
Minta kelola perbedaan
Hubungan Beijing dan Washington kembali memanas sejak Donald Trump kembali menjabat sebagai presiden AS tahun lalu. Ketegangan tersebut diperparah oleh perang dagang yang membuat kedua negara saling mengenakan tarif terhadap produk masing-masing.
Menurut Wang, ada negara yang membangun hambatan tarif serta mendorong pemutusan hubungan ekonomi dan rantai pasok dengan China.
"Tindakan seperti itu ibarat mencoba memadamkan api dengan bahan bakar. Pada akhirnya justru akan berbalik merugikan diri sendiri," katanya.
Meski mengakui China dan AS tidak bisa mengubah satu sama lain, Wang menilai kedua negara masih dapat memperbaiki cara berinteraksi.
Ia pun mendesak kedua pihak untuk "menciptakan lingkungan yang tepat, mengelola perbedaan yang ada, dan menghilangkan gangguan yang tidak perlu".
Namun, berbagai perbedaan tetap membayangi hubungan kedua negara. Beijing sebelumnya mengecam keras serangan militer AS dan Israel terhadap Iran, negara yang memiliki hubungan diplomatik dan perdagangan dengan China.
China juga mengecam pembunuhan pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei.
Selain itu, Wang menegaskan hubungan Beijing dengan Rusia tetap "teguh dan tak tergoyahkan", meskipun negara-negara Barat mengkritik kedekatan tersebut karena dianggap turut menopang perang di Ukraina.
China bidik mitra baru
Di tengah kebijakan luar negeri Washington yang dinilai tidak menentu, Beijing berupaya memposisikan diri sebagai mitra yang lebih stabil bagi banyak negara.
Sejumlah pemimpin dunia, termasuk dari Prancis, Kanada, Finlandia, dan Britania Raya, dalam beberapa waktu terakhir berkunjung ke Beijing.
Kunjungan tersebut terjadi setelah kontroversi kebijakan Trump, mulai dari rencana mengambil alih Greenland hingga ancaman tarif terhadap sesama anggota NATO.
Wang menyambut kunjungan para pemimpin Eropa itu. Ia mengatakan semakin banyak pihak di Eropa yang memandang China bukan sebagai pesaing, melainkan mitra global.
"Kami menyambut teman-teman Eropa untuk keluar dari 'loteng kecil' proteksionisme dan datang ke 'gym' pasar China, tempat mereka bisa memperkuat otot dan meningkatkan daya saing," ujarnya.
Sebagai bagian dari upaya mempererat hubungan, Beijing juga memberikan fasilitas bebas visa kepada sekitar 50 negara, termasuk Prancis, Jerman, dan Inggris. China juga menyepakati penurunan tarif untuk sejumlah ekspor dari Kanada dan Inggris.
Taiwan disebut garis merah
Wang juga menyinggung hubungan China dengan Jepang yang memanas setelah Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi pada November lalu menyatakan Tokyo dapat melakukan intervensi militer jika terjadi serangan terhadap Taiwan.
Pernyataan itu memicu kemarahan Beijing yang memandang Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya dan tidak menutup kemungkinan menggunakan kekuatan untuk mengambil alih pulau tersebut.
Wang menegaskan Beijing "tidak akan pernah membiarkan siapa pun atau kekuatan apa pun memisahkan Taiwan dari China".
Ia juga memperingatkan Jepang agar tidak "mengulangi kesalahan besar di masa lalu", merujuk pada sejarah kolonial Tokyo pada masa Perang Dunia II.
Menurut Wang, isu Taiwan berada di jantung kepentingan inti China dan merupakan "garis merah yang tidak boleh dilanggar".
(tis/tis)

1 hour ago
3

























