Bocah di China Memelihara Ulat Sutra Demi Membuat Selimut

3 hours ago 3

CNN Indonesia

Minggu, 24 Mei 2026 22:15 WIB

Seorang bocah berusia enam tahun di China memelihara ulat sutra demi membuat selimut sutra sendiri. (Sam Yeh / AFP) Ilustrasi. Seorang bocah berusia enam tahun di China memelihara ulat sutra demi membuat selimut sutra sendiri. (AFP/SAM YEH)

Jakarta, CNN Indonesia --

Seorang bocah berusia enam tahun di China ingin membuat selimut sutra sendiri. Untuk mewujudkan keinginan tersebut, orang tuanya membelikan 10 ribu telur ulat sutra.

Seorang ibu bernama Ruan bercerita keluarganya memelihara ulat sutra demi mewujudkan mimpi unik sang putra. Anak berusia enam tahun itu ingin membuat selimut sutra sendiri.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pada media lokal Chengshi Interactive, dia berkata ide itu muncul selama musim pemeliharaan ulat sutra. Umumnya, periode optimal pemeliharaan ulat sutra berlangsung Mei-Oktober.

Dilansir dari SCMP, sebenarnya memelihara ulat sutra bukan hal aneh bagi keluarga Ruan. Mereka memelihara ulat penghasil bahan tekstil prestisius itu setiap tahun. Ide itu disambut baik Ruan dan suaminya.

Sebanyak 10 ribu telur dibeli secara daring seharga 30 yuan (sekitar Rp 78 ribu) lengkap dengan kotak inkubasi, daun murbei, dan panduan pemeliharaan.

Kemudian telur digabung dengan telur yang disimpan tahun lalu dan menghasilkan 12 ribu larva ulat sutra.

Sementara itu, mereka harus menyediakan ruang untuk memelihara ulat-ulat itu. Ruang di rumah terbatas sehingga mereka membuat rak bertingkat dari kotak kardus dan pipa besi yang ditempatkan di ruang tamu.

"Rumah ulat sutra" tersebut tingginya sekitar 1,2 meter.

Berbagi tugas

Memelihara ulat sutra, kata Ruan, cukup menantang sebab ia harus menemukan cukup daun murbei untuk makanan ulat.

Ia mencari daun murbei setelah mengantar anaknya ke sekolah. Dalam sehari, ulat sutra di rumah bisa mengonsumsi paling banyak sekitar 20 kg daun murbei.

Pun daun harus dalam kondisi kering yang berarti Ruan harus mengelap daun hingga bersih sebelum diberikan.

Sepulang sekolah, sang putra bergantian memberi makan, membersihkan kotoran, dan menghitung tumpukan kepompong yang terus bertambah.

Sementara itu, ulat sutra biasanya membutuhkan waktu 20-28 hari untuk tumbuh dari larva yang baru menetas menjadi larva pembuat kepompong tergantung kondisi lingkungan.

Ruan berkata pada 18 Mei lalu, sudah lebih dari 5 ribu kepompong terbentuk. Menurutnya, satu kepompong sudah bisa menghasilkan benang sutra sepanjang 800-1.500 meter.

Ia menambahkan sebanyak 2.200 kepompong bisa membuat selembar selimut bayi, sedangkan 12 ribu kepompong berpotensi menghasilkan selimut berukuran utuh.

Si anak disebut mempelajari sendiri proses pembuatan selimut tapi ia tetap di bawah bimbingan sang ayah.

Sebelum diproses dengan mesin, kepompong biasanya direbus untuk menghilangkan pupa dan serisin (protein alami sebagai zat perekat kepompong). Mereka pun berharap bisa meregangkan serat sutra dengan tangan di rumah untuk membuat pengalaman tersebut lebih berkesan.

Ruan berkata putranya merawat ulat-ulat itu setiap hari dengan mata berbinar. Dia berkata tanggung jawab dan kegembiraan merawat makhluk hidup lebih berharga dari mainan apa pun.

"Saya harap dia memiliki keberanian untuk mengeksplorasi, meskipun dia gagal," katanya.

(els)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Koran | News | Luar negri | Bisnis Finansial