Jakarta, CNN Indonesia --
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman meminta Perum Bulog bersiap mengekspor jagung setelah neraca pangan menunjukkan surplus.
Hal itu seiring melonjaknya produksi jagung dalam negeri tahun lalu, sekaligus memastikan penyerapan produksi petani berjalan optimal.
Permintaan tersebut disampaikan Amran saat panen raya jagung serentak bersama Kapolri Listyo Sigit Prabowo dan Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Heriyadi alias Titiek Soeharto di Bekasi, Jawa Barat, Kamis (8/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Nah, Pak Kapolri luar biasa dan Bapak Presiden (Prabowo Subianto) apresiasi kemarin. Capaiannya sampai 20 persen. Kami hitung totalnya 700 ribu hektare dikali 5 ton, itu 3,5 juta ton. (Jadi) kita siap-siap ekspor. Bulog, tolong ini bukan pekerjaan kecil," ucap pria yang juga menjabat sebagai Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) itu dalam keterangan resmi.
Amran menjelaskan peningkatan produksi jagung nasional pada 2025 membuat pemerintah tidak lagi melakukan impor jagung pakan pada 2026.
Kebijakan tersebut diambil untuk melindungi petani dalam negeri sekaligus menjaga kesinambungan produksi ke depan. Menurutnya, peran Bulog menjadi krusial, terutama dalam menyerap hasil panen petani.
"Bulog harus siap, karena hadir seluruh Indonesia, harus siap dari sekarang. Yang harus diperhatikan nanti adalah serapannya. Serapan bermasalah, dampaknya tahun depannya," tutur Amran.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), produksi jagung pipilan kering dengan kadar air 14 persen pada 2025 mencapai 16,11 juta ton, meningkat 6,44 persen dibandingkan 2024. Sementara kebutuhan konsumsi nasional berada di kisaran 15,65 juta ton, sehingga surplus 463,9 ribu ton.
Sepanjang 2025, penugasan Bapanas kepada Bulog untuk menyerap jagung produksi dalam negeri telah mencapai 101 ribu ton, dengan daerah serapan tertinggi antara lain Nusa Tenggara Barat, Lampung, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Barat.
Dari stok Cadangan Jagung Pemerintah (CJP) yang seluruhnya bersumber dari produksi domestik tersebut, 51,2 ribu ton telah disalurkan melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) kepada ribuan peternak ayam petelur di berbagai daerah.
Surplus produksi tersebut mendorong pemerintah mempersiapkan ekspor jagung. Amran menegaskan keputusan untuk meniadakan impor jagung pakan, benih, dan rumah tangga pada 2026 diambil karena pasokan dalam negeri dinilai mencukupi, bahkan sebagian sudah menembus pasar luar negeri.
"Dari kemarin sudah disampaikan, tidak ada impor jagung khusus pakan. Ini karena bahkan kita sudah ekspor, ekspor di Kalimantan ke Malaysia, juga kita ekspor ke Filipina. Dari NTB dari Gorontalo. Jadi ada tiga tempat dan Bapak Presiden lepas langsung," ungkap Amran.
Menanggapi arahan tersebut, Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani menyatakan kesiapan lembaganya menjalankan ekspor jagung mulai 2026 seiring terjaganya stok dan stabilitas pasokan dalam negeri.
"Izin kami laporkan, kami menargetkan di tahun 2026 ini, memang Bulog akan melaksanakan ekspor, baik beras maupun jagung. Ini seiring dengan konsep dari Bapak Kapolri, kami akan bersinergi semaksimal mungkin khususnya untuk kaitannya dengan ekspor jagung," ujarnya.
(del/sfr)

14 hours ago
3




























