LAPORAN DARI PARIS
Fandi Stuerz | CNN Indonesia
Selasa, 17 Mar 2026 14:01 WIB
Yusuke Takahashi memamerkan koleksi teranyarnya bersama CFCL di gelaran Paris Fashion Week 2026. (CNN Indonesia/Fandi Stuerz)
Jakarta, CNN Indonesia --
Pada hari terakhir Paris Fashion Week Womenswear Fall/Winter 2026, ruang terbuka Palais de Tokyo diselimuti cahaya alami yang lembut. Di area Saut du Loup, pertunjukan CFCL terasa lebih dekat dengan instalasi seni dibandingkan sekadar peragaan busana.
Saat masuk, para tamu undangan disambut oleh dua mikrofon. Komposisi dari seniman Ben Vida mengalun perlahan, sementara narasi puitis yang dibaca langsung menciptakan atmosfer yang reflektif.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam ruang yang nyaris meditatif itu, desainer Yusuke Takahashi mempresentasikan koleksi CFCL Volume 12, sebuah eksplorasi tentang bagaimana pakaian dapat berfungsi sebagai medium sosial.
Kali ini, CFCL mengambil tema "Knit-ware: Sculpture". Tema ini berakar pada gagasan social sculpture dari Joseph Beuys.
Seniman Jerman tersebut pernah menyatakan bahwa kreativitas memiliki potensi untuk membentuk masyarakat. Empat dekade setelah wafatnya Beuys, Takahashi menerjemahkan ide itu ke dalam bahasa knitwear kontemporer.
Secara visual, inspirasi dari karya Beuys tampak jelas dalam siluet yang voluminous dan jatuh bebas. Mantel dan gaun rajut hadir dengan volume besar yang bergerak seperti patung lunak ketika model berjalan. Mantel yang dikenakan layaknya tas punggung, atau diselempangkan di bahu, menyiratkan ringannya koleksi ini secara keseluruhan.
Seri TW INLAY menjadi contoh utama pendekatan ini. Rajutan tiga lapis yang memadukan wol non-mulesed dari Selandia Baru, kasmir Mongolia, dan poliester daur ulang yang elastis menciptakan kain yang kokoh namun hangat.
Permukaan mélange serta tepi rajutan mentah memberikan kesan minimalis. Sementara mantel tanpa lining menghasilkan drape dramatis di bagian belakang.
Eksperimen struktur rajutan ini merupakan bagian dari pencarian konstan akan kebaruan dalam praktik desain Takahashi. Ia menjelaskan bahwa pengembangan koleksi selalu berangkat dari keinginan menemukan perbedaan dan kesegaran baru.
"Kami selalu memikirkan apa perbedaannya, apa yang membuatnya 'segar', dan apa yang harus kami kembangkan dengan fokus pada proyek berbasis komputer," ujarnya kepada CNNIndonesia.com usai show.
Yusuke Takahashi memamerkan koleksi teranyarnya bersama CFCL di gelaran Paris Fashion Week 2026. (CNN Indonesia/Fandi Stuerz)
Metode desain CFCL memang bertumpu pada pemrograman rajutan digital, sebuah pendekatan yang memungkinkan presisi struktur sekaligus efisiensi material. Bagi Takahashi, eksplorasi tersebut bukan sekadar teknik, melainkan tujuan kreatif itu sendiri.
Gerakan pakaian menjadi elemen penting dalam koleksi ini. Jika pada umumnya gaun bergerak mengikuti tubuh pemakainya, Takahashi memperluas dinamika tersebut melalui tassels dan fringe yang menciptakan ritme visual baru.
Pada gaun yang diberi nama fluffy fringe foil, misalnya, sebanyak 1.265 potongan fringe rajut dimasukkan satu per satu secara manual ke dalam struktur pakaian. Setiap langkah model membuat tekstur tersebut bergetar, menciptakan sensasi kinetik di atas runway.
Pendekatan ini juga menandai evolusi bahasa desain CFCL. Jenama ini dikenal melalui potongan ikonik seperti pottery dress. Namun, Takahashi menyadari pentingnya memperluas kosakata visual labelnya.
"Kami harus mengembangkan sesuatu yang baru, dengan warna dan tekstur baru," ujar Takahashi.
Motif baru pun diperkenalkan untuk pertama kalinya sejak jenama ini berdiri. Pola foil yang menyerupai kulit pohon oak menjadi penghormatan terhadap proyek monumental Beuys. Proyek itu menampilkan sebuah karya seni ekologis dengan menanam ribuan pohon sebagai simbol transformasi sosial.
Dalam koleksi CFCL, motif tersebut muncul pada gaun soft milan foil dengan lingkar rok hingga enam meter atau pada gaun soft portrait foil yang dirajut tanpa jahitan sebelum diberi lapisan foil tipis.
Tekstur metalik yang berkilau itu juga memiliki dimensi keberlanjutan. Material itu juga berasal dari program daur ulang.
"Sekitar 70 hingga 80 persen berasal dari program daur ulang," ujarnya.
Yusuke Takahashi memamerkan koleksi teranyarnya bersama CFCL di gelaran Paris Fashion Week 2026. (CNN Indonesia/Fandi Stuerz)
Komitmen tersebut bukan sekadar klaim. CFCL baru saja memperbarui sertifikasi B Corp dengan skor tertinggi bagi perusahaan Jepang. Sertifikat ini jadi indikator bahwa praktik bisnis dan rantai pasok perusahaan memenuhi standar keberlanjutan global.
Koleksi VOL.12 ini menunjukkan bagaimana desain dapat berfungsi sebagai jawaban kreatif terhadap perubahan sistemik dalam industri mode.
Melalui rajutan yang diprogram secara digital, penggunaan material daur ulang, dan pendekatan estetika yang minimalis namun konseptual, CFCL memperlihatkan bahwa mode dapat bergerak menuju masa depan yang lebih bertanggung jawab, tanpa kehilangan kekuatan artistiknya.
(asr/asr)
Add
as a preferred source on Google

1 hour ago
1




























