CNN Indonesia
Selasa, 24 Feb 2026 17:00 WIB
Masjid Jami Assalafiyah di Jatinegara Kaum, Jakarta Timur. (ANTARA FOTO/RENO ESNIR)
Jakarta, CNN Indonesia --
Masjid Jami Assalafiyah atau yang juga disebut Masjid Achmad Djaketra, cagar budaya bersejarah yang ada di Jakarta Timur. Masjid ini menjadi rekam jejak Pangeran Jayakarta, yang merupakan sosok pendiri dari bangunan tersebut.
Dalam bahasa Arab, "Jami" artinya "besar", dan "Assalafiyah" artinya "pendahulu yang shaleh". Pada awal abad ke-17 tepatnya di tahun 1620, Pangeran Achmad Djaketra alias Pangeran Jayakarta membangun Masjid Jami Assalafiyah, yang awalnya hanya berbentuk musala.
Pangeran Jayakarta, pahlawan yang berperan besar dalam mendepak para kolonial Belanda dari Jakarta (dulunya Batavia). Pangeran Jayakarta membangun Masjid Jami Assalafiyah tepat setahun setelah ia bersama para pengikutnya hijrah ke Jatinegara Kaum.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat itu, VOC membumihanguskan perumahan abdi dalam dan rakyat Jayakarta yang ada di Kota Tua. Oleh karena itu, Pangeran Jayakarta pergi dari Jakarta Kota bersama para pengikutnya, dan membangun sebuah masjid di Jakarta Timur.
Masjid ini bukan hanya sebagai rumah ibadah, tetapi juga saksi bisu yang melihat perubahan zaman di tanah Jakarta. Bahkan masjid ini disebut sebagai salah satu masjid tertua di Jakarta Timur.
Hingga hari ini, Masjid Jami Assalafiyah telah mengalami beberapa kali renovasi, tapi masih memiliki ornamen khas berupa empat soko guru yang terbuat dari kayu jati.
Usia tiang kayu ini sudah ratusan tahun, tetapi masih terus dipertahankan keasliannya meskipun interior masjid sudah banyak yang dimodifikasi.
Mimbar masjid setinggi 1,5 meter juga masih asli dan digunakan hingga hari ini. Sementara itu, beberapa barang peninggalan Pangeran Jayakarta beserta keturunannya disimpan di dalam masjid.
Ada senjata tradisional, koin peninggalan Belanda, hingga dokumen kuno yang umurnya sudah ratusan tahun lalu.
Masjid ini, selain melestarikan warisan budaya Jakarta, juga merupakan situs edukasi bagi masyarakat untuk melihat rekam jejak perkembangan Islam di Jakarta.
Di dalam kompleks masjid, terdapat makam Pangeran Jayakarta dan keturunannya, meninggalkan jejak keberadaan dan perjuangan sang pangeran di masjid yang ia bangun sendiri.
Pada tahun 1993, melalui Keputusan Gubernur (SK) No. 475, Masjid Jami Assalafiyah ditetapkan sebagai bangunan warisan budaya. Saat ini masjid tersebut mampu menampung 800 jemaah, dengan luas lahan 7.000 meter persegi dan luas bangunan 450 meter persegi.
Masjid Jami Assalafiyah berlokasi di Jalan Jatinegara Kaum, Kecamatan Pulo Gadung, Jakarta Timur. Jika ingin berkunjung ke Masjid Jami Assalafiyah, bisa menggunakan transportasi umum.
Naik bus TransJakarta koridor 10 rute Tanjung Priok - PGC 2, kemudian turun di Halte Bus Prumpung Pedati. Setelah itu, perjalanan dapat dilanjutkan menggunakan transportasi online.
(ana/wiw)

5 hours ago
2




















