Waspada Superflu Saat Anak Kembali Sekolah, RSHS Catat 10 Kasus

17 hours ago 4

Bandung, CNN Indonesia --

Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung mencatat sebanyak 10 kasus influenza A atau superflu yang dirawat hingga awal Januari 2026.

Dari jumlah tersebut, dua pasien merupakan anak-anak berusia 9 bulan dan 11 tahun, di tengah meningkatnya mobilitas masyarakat menjelang dimulainya kembali aktivitas sekolah.

Ketua Tim Pinere RSHS Bandung, dr. Yovita Hartantri, mengatakan peningkatan kasus influenza A sudah terpantau sejak Agustus tahun lalu, dan mencapai puncak pada Oktober 2025. Kasus kemudian menurun pada November 2025.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dia menerangkan seluruh pasien yang datang ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) menjalani skrining sehingga kasus dapat terdeteksi lebih awal.

"Dari data Januari ini tercatat ada 10 kasus influenza A. Dua di antaranya anak-anak, sementara sebagian besar lainnya berusia 20 hingga 60 tahun," ujar dr Yovita dalam konferensi pers di RSHS Bandung, Kamis (8/1).

Pantuan kesehatan anak

Ia menjelaskan, dari 10 kasus tersebut terdapat dua pasien dengan kondisi berat yang harus dirawat di ruang intensif karena membutuhkan bantuan oksigen. Pasien dengan kondisi berat umumnya memiliki penyakit penyerta atau komorbid.

Dalam kesempatan yang sama,  Direktur Medik dan Keperawatan RSHS Bandung, dr Iwan Abdul Rachman, menegaskan masyarakat tidak perlu panik menghadapi situasi ini. Menurutnya, influenza bersifat musiman dan berbeda dengan kondisi pandemi.

"Penularan influenza terjadi melalui droplet. Karena itu pencegahan utamanya adalah menggunakan masker saat sakit, menjaga kebersihan tangan, dan menghindari penularan ke orang lain," kata dr Iwan.

Terkait meningkatnya aktivitas anak-anak yang kembali bersekolah setelah libur panjang, dokter Spesialis Penyakit Dalam di RSHS, dr Ferdy Ferdian, mengingatkan pentingnya langkah pencegahan di lingkungan sekolah dan keluarga.

"Anak-anak bisa membawa dan menularkan influenza saat mobilitas meningkat. Pencegahan yang bisa dilakukan antara lain membiasakan cuci tangan dengan benar, memakai masker jika sedang batuk atau pilek, serta tidak memaksakan anak masuk sekolah saat sakit," ujarnya.

Pihaknya juga menekankan peran orang tua dan sekolah untuk memantau kondisi kesehatan anak.

Anak dengan demam, batuk, atau sesak napas disarankan beristirahat di rumah dan mendapatkan pengobatan agar tidak menularkan ke teman sekelas.

Selain itu, RSHS mengimbau masyarakat untuk tetap menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, khususnya pada masa transisi masuk sekolah, guna menekan risiko penularan influenza di lingkungan keluarga dan sekolah.

Suara Kemenkes

Terpisah, sehari sebelumnya dalam konferensi pers di Graha BNPB, Jakarta, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan kasus super flu atau Influenza A H3N2 subclade K sejauh ini bukan ancaman pandemi mematikan seperti Covid-19 pada 2020 lalu.

"Ini jadi bukan satu virus baru seperti yang Covid. Dia penularannya cepat, tetapi kematiannya sangat rendah. Dan ini selalu terjadi biasanya di musim-musim dingin di negara-negara maju itu selalu terjadi kenaikan. Di Indonesia sendiri kita juga sudah identifikasi, order-nya masih puluhan ya. Dan enggak parah sih. Artinya bisa dengan pengobatan biasa sembuh sendiri ya," kata Budi dalam konferensi pers tersebut, Rabu (7/1).

Budi mengimbau untuk masyarakat tidak panik dan tetap waspada, dan menekankan pentingnya imunitas tubuh sebagai pertahanan utama agar virus tersebut dapat sembuh sendirinya.

"Kalau imunitas, sistem imunitas kita bagus, makannya cukup, tidurnya cukup, olahraga cukup, Insya Allah kalau ada virus masuk dan virusnya lemah seperti yang Superflu ini, kita bisa sembuh," ujar Budi.

"Kalau ternyata di lingkungan kita banyak yang batuk-batuk, ya kita untuk precaution kita pakai masker lah ya. Masker dan rajin cuci tangan. Sama seperti Covid gitu," imbaunya.

Kepala Biro Komunikasi Kementerian Kesehatan, Aji Muhawarman mengungkap hasil analisis 40 persen dari 800 sampel positif influenza dari daerah-daerah yang kemudian dikirim ke Lab Biokesmas Jakarta mencakup Influenza A H1N1 pdm09, H3N2 subclade K (62 kasus), dan Influenza B.

Aji juga mengatakan, dari 62 pasien yang dideteksi mengalami super flu kondisinya sudah kembali normal.

"Itu sudah sehat semua, sebetulnya. Karena itu kan datanya 62 itu kita dapat di minggu ke-36, 2025. Atau minggu pertama September. Jadi tidak ada yang sakit berat, tidak ada yang meninggal. Jadi memang kondisinya sekarang udah normal aja," ujar Aji  aat ditemui awak media di kantor BNPB, Jakarta Timur, Rabu lalu.

Menurutnya, gejala dari super flu ini mirip dengan flu biasa seperti demam dengan suhu 38-39°C, batuk, pilek, nyeri tenggorokan, serta sesak nafas ringan.

"Tapi memang mayoritas demam, keluhannya demam," ujar Aji.

Dia menegaskan Kemenkes  terus perkuat pemantauan harian via Sentinel ILI/SARI di 88 puskesmas, lab daerah, rumah sakit, serta Balai Karantina dengan thermal scanner di pintu masuk negara.

"Sehingga kalau yang masuk dari pintu-pintu negara, dari luar negeri maupun yang keluar, itu sudah kita bisa pantau betul. Dari situ baru kita lihat kebijakannya dan upaya kita seperti apa. Karena enggak bisa ujug-ujug situasinya masih seperti ini, tidak seperti di Amerika atau negara-negara lain, kita kebijakannya berbeda atau upayanya beda. Jadi kita memang harus menyesuaikan dengan situasi terkini," ujar Aji.

Aji menyebut, kemenkes tetap memantau laporan-laporan dari World Health Organization (WHO), Centers for Disease Control and Prevention (CDC), dan laporan lokal untuk menentukan kebijakan berbasis fakta, tanpa mengambil langkah seperti sekolah online atau work from home massal yang dilakukan di Inggris.

"Nanti situasinya kita pantau betul, secara epidemiologis apakah situasi ini sudah masih ringan, sedang, atau sudah tinggi nih kewaspadaannya kita. Jadi seperti itu," kata Aji.

Berdasarkan data Kemenkes RI hingga akhir Desember 2025, tercatat total 62 kasus terdeteksi di delapan provinsi Indonesia. Kkasus terbanyak ditemukan di Jawa Timur, disusul Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat.

Ketiga wilayah tersebut merupakan provinsi dengan kasus terbanyak dengan temuan superflu berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium.

(csr/kid)

Read Entire Article
Koran | News | Luar negri | Bisnis Finansial